Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Biasakan Kebaikan, Karena Kita Wafat Sesuai Kebiasaan

Iklan Landscape Smamda
Biasakan Kebaikan, Karena Kita Wafat Sesuai Kebiasaan
Foto: Johnny Green / PA Archive/Press Association Images
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Membiasakan kebaikan adalah proses konsisten melakukan tindakan positif, sekecil apapun, seperti tersenyum, membantu sesama, atau menjaga kebersihan, tanpa mengharap imbalan.

Hal ini bertujuan membentuk karakter mulia, menumbuhkan keikhlasan, serta menjadikannya rutinitas harian yang berdampak positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Sebab, amal saleh adalah kebajikan yang menjadi bekal utama. Bekal yang kelak dapat diandalkan ketika harta dan jabatan tak lagi membawa manfaat.

Jangan pernah meremehkan amal kebajikan sekecil apa pun, karena kita tidak tahu amal manakah yang akan diterima di sisi Allah Azza wa Jalla, siapa tahu amal yang kita anggap remeh justru itu yang menjadikan kita meraih ampunan Allah Azza wa Jalla dan surga-Nya.

Biasakanlah senantiasa berbuat baik, karena Allah Azza wa Jalla akan mewafatkan seseorang sesuai kebiasaaannya. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:

تعودوا الخير، فإنما الخير بالعادة.

“Biasakanlah melakukan kebaikan, karena sesungguhnya kebaikan itu hanyalah bisa dilakukan dengan kebiasaan.” (Shahih, Mushannaf Abdur Razzaq, No. 4742)

Hadis tersebut menekankan bahwa amal saleh atau perbuatan baik memerlukan latihan dan konsistensi agar menjadi karakter yang melekat, bukan sekadar niat sesaat.

Marilah, di sisa usia kita senantiasa kita biasakan dengan berbuat amal kebaikan, jauhkan dari kebiasaan berbuat dosa dan kezaliman.

Karena kita tidak tahu kapan ajal kita berakhir, di saat berbuat kebaikan ataukah di saat berbuat dosa dan kezaliman.

Rasulullah saw bersabda :

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya) kamu bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum.” (HR. Muslim).

Hadis riwayat muslim ini mengajarkan untuk tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun, karena hal itu bernilai ibadah.

Tersenyum ramah saat bertemu saudara (wajah ceria/ wajhin tholqin) adalah kebaikan sederhana yang dapat menenangkan hati dan berpahala, menunjukkan bahwa Islam menghargai tindakan positif sekecil apapun.

Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya.”

Ungkapan hikmah dari Imam Ibnu al-Mubarak yang menekankan bahwa keikhlasan niat. Bukan sekadar ukuran fisik perbuatan—adalah penentu utama pahala di sisi Allah.

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al An’am: 160).

Ayat tersebut menegaskan keadilan dan kasih sayang Allah SWT dalam membalas perbuatan manusia pada hari kiamat. Amal baik dilipatgandakan pahalanya minimal sepuluh kali lipat, sementara kejahatan hanya dibalas setimpal, tanpa ada ketidakadilan atau kerugian bagi manusia.

Ayat tersebut secara ringkas menegaskan:

• Kebaikan Dilipatgandakan (Al-An’am 160): Siapa saja yang datang membawa satu amal kebaikan, Allah akan memberikan ganjaran sepuluh kali lipat atau lebih.

• Keadilan dalam Pembalasan: Perbuatan jahat atau buruk hanya dibalas seimbang (satu berbanding satu) dengan kejahatan tersebut, tidak kurang dan tidak lebih.

• Tidak Dizalimi: Manusia sedikitpun tidak dirugikan atau dizalimi oleh Allah, karena keadilan-Nya menjamin setiap orang menerima balasan yang sesuai, bahkan melimpahkan rahmat-Nya untuk kebaikan.

• Konteks Hari Pembalasan: Ayat ini menunjukkan karunia agung Allah kepada orang mukmin yang membawa amal saleh. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu