Tadi pagi di acara Mapara, matahari pagi ramadan, saya mengundang invited speaker Teh Neno, atau versi nama ijazah adalah Retna Widayawati. Paparannya lugas, ‘bras-bres’ gaya Jawa ditambah ppt lagi. Grammarnya adalah Klatenan bercampur Pekalonganan, dan itu telah ‘menyirep’ audiens dari Banda Aceh sampai Distrik Sota di pagi hari. Semua terpaku dan terpukau, mlongo, dan simpulannya adalah materi yang spektakuler, A+++. Genre akademikanya beratmosfir IPB atau mungkin malah bercengkok BRIN, atau kombinasi.
Saya sendiri merasakan, saat berbahasa Indonesia, rasanya selalu masih banyak kekurangan kosa kata, dan kalau kepepet sering ‘kesrimpet’ atau ‘kepleset ke Javanese. Lho mau bagaimana lagi ‘wong’ dasar-dasar grammar saya adalah dari sekitar Gombong, Banyumas, Banjarnegara, dan sekitarnya. Jika saya disuruh berbahasa Indonesia sehalus dan sepresisi kawan-kawan yang di Bangkinang, Duri, Barelang, dan sekitarnya, ya jelas sangat sulit untuk saya. Lha kalau saya disuruh berpantun, lebih memilih ‘berparikan’ atau kidungan. Berpantun adalah tidak mudah dan harus ada trah Sumatera agar pantunnya cemerlang dan enak dirasakan.
Dalam berbahasa Indonesia, saya masih sangat dipengaruhi oleh bahasa Jawa. Kudune, menjadi seharusnya. ‘Sak gede-gedene’, menjadi sebesar-besarnya. Sak benere, menjadi sebenarnya. ‘Sak kobere’, menjadi ‘sesempatnya’.
Penggunaan kata ‘nya’ telah melekat dan mendarah daging dalam jiwa saya, lha mau apa lagi. Selamat dan Sukses atas ‘terpilihnya’…, lha ‘iki opo maneh’, tidak ada subjek, ‘kok ujug-ujug’ ada kata nya yang langsung menempel. Ikut berbela duka atas wafatnya…., lha ini juga. Kok ada nya yang ‘menyantol’, itu datang dari belahan bukit mana. Apa datang dari Selat Hormuz atau malah dari Pasar Pramuka.
Ya… memang sering seperti itu, dan saya sendiri juga sering ‘keprucut’ dan mengalami.
Lho bertanya ke kawan sendiri, ‘kapan baline’. Padahal orang yang ditanya berada di depannya, dan kalau dibahasaIndonesiakan menjadi, ‘kapan kepulangannya’, bukan kapan kepulanganmu.
Anak-anak, apa kabarnya, tanya guru TK dengan suara keras. Lho yang ditanya berada di depannya, kok ‘apa kabarnya’, apa tidak ‘apa kabarmu’.
Memang berbahasa Indonesia adalah tidak mudah, apalagi KBBI jarang dilihat, dan kadang-kadang KBBInya malah juga ikut-ikutan ‘ngalor-ngidul’. Management ditulis manajemen, huruf g menjadi huruf j. Nah energi kok tidak ditulis enerji. Stability ditulis stabilitas, tetapi security ditulis sekuriti. New Zealand ditulis Selandia Baru, tetapi New York tidak ditulis York Baru. Nippon 日本 diIndonesiakan menjadi Jepang, tetapi Kyoto 京都tidak diIndonesiakan. Chungkou 中国 menjadi China, kok jauh sekali. Mengapa Nanjin 南京 tidak dibaca Kota Selatan. Memang, berbahasa selalu unik.
Orang Banyumas kalau mengucap dapat dengan kata ‘bisa’. Ya memang bisa adalah bahasa Banyumas. ‘Nyong bisa maca’, aku dapat membaca. Kalau orang Sumatera, bisa adalah racun di kobra. Nah yang kita harus bersenyum, ada slogan ‘SMK bisa’. Mahasiswa saya ‘bolak-balik’ membuat kalimat dengan banyak sekali kata ‘bisa’. Selalu saya tanyakan, ‘black mambanya di mana, kok ada bisa’. Memang harus banyak tersenyum saat berbahasa.
‘Bola-bali’ ada kata rubah. Ini termasuk hewan dilindungi apa tidak, tanya saya. Saya sudah merubah jadwal, kata seorang mahasiswa kepada saya. Lha, ‘awakmu’ bertemu rubah di mana, tanya saya. Bukan hanya itu saja, kawan yang di Kebumen malah sering mengusung kata robah. Jangan dirobah-robah. Lha, padahal Cak Robah sudah pindah ke Kediri.
Saat saya presentasi di KL 25 tahun silam saya kepleset dalam merangkai kata ‘bisa’. Kawan dari Selangor langsung ‘menyelethuk’ ‘menyekak mat’, wah ularnya yang mana ini. Ealah, saya bertemu kawan saya dari Terengganu tahun lalu, ternyata dia malah sudah faseh melafadzkan kata bisa. Rupanya ‘ular dumung’ sudah pindah ke Malaysia, kata saya sambil geguyonan.
Saat masih di kampung, saya sering mendengar kata ‘keneng apa’, kenang apa, nah sekarang sudah menjelma menjadi ‘kenapa’. Kata mengapa malah sudah secara perlahan akan terpinggirkan. ‘Kaya apa sejatine’, dan sekarang kata ‘kaya’ sudah menjelma menjadi ‘seolah-olah’ Bahasa Indonesia. ‘Kaya saya ini dalam mengurus mbg, dijamin lancar jaya’.
Memang berbahasa selalu asyik. ‘Wong aku sing wenehi weruh’, menjadi ‘orang’ saya yang memberi info. Lha kalau saya menulis, ‘orang saya yang memberi tahu’. Yang ini malah menjadi semakin komplikatif lagi. Kok ada ‘tahu’, kok tidak sekalian ‘tahu bakso’.
Oh tadi sudah saya bilang, kamu jangan melapor ke atasan. Weleh, weleh, padahal kata kerja bilang akan menghasilkan bilangan, dan kata kerja rebus akan menghasilkan rebusan.
Tanam menjadi menanam, mengapa ‘tahu’ tidak menjadi menahu. Saat kita menyuruh mengambil, maka digunakan kata ‘ambilah’, tetapi saat menyuruh untuk menjelaskan, tidak menggunakan kata ‘jelaslah’.
Ya…, memang, berbahasa yang penting ‘mathuk dan gathuk’, dan tentu harus gembira.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments