Ketua Umum dan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir dan Prof. Abdul Mu’ti, menerima Anugerah Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Presiden, Jakarta, Senin (25/8/2025)
Penghargaan tertinggi negara ini bukan hanya apresiasi personal, tetapi juga penegasan atas kontribusi Muhammadiyah lebih dari seabad dalam membangun bangsa.
Bintang Mahaputra Utama diberikan kepada Haedar Nashir atas jasa-jasanya di bidang keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan melalui kepemimpinannya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.
Selama masa kepemimpinannya, Muhammadiyah memperluas jaringan pendidikan, layanan kesehatan, dan pemberdayaan sosial di seluruh Indonesia.
Sementara itu, penghargaan yang sama diberikan kepada Abdul Mu’ti atas kontribusinya di bidang pendidikan, terutama melalui kebijakan pendidikan dasar dan menengah yang memperkuat kurikulum nasional, memperluas akses, dan meningkatkan mutu guru.
Penganugerahan ini berlangsung dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI yang bertema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.”
Jejak di Akar Rumput
Meski disematkan di istana negara, gema penghargaan ini terasa hingga sekolah-sekolah Muhammadiyah, termasuk SMA Muhammadiyah 1 (Samamsatu) Gresik.
Sekolah ini menjadi contoh nyata bagaimana visi Muhammadiyah diimplementasikan di akar rumput. Guru dan siswa bukan hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan karakter, integritas, serta kepedulian sosial—nilai yang terus digaungkan Muhammadiyah sejak KH Ahmad Dahlan mendirikannya pada 1912.
Bagi Samamsatu Gresik, Bintang Mahaputra bagi Haedar dan Mu’ti seakan menjadi energi simbolik. Ia memacu semangat guru dan siswa untuk meneladani konsistensi pemimpin Muhammadiyah di tingkat nasional.
“Pendidikan adalah jantung peradaban Muhammadiyah,” pesan Prof. Abdul Mu’ti yang kini kian relevan.
Dari kelas sederhana hingga era digitalisasi, sekolah Muhammadiyah terus membuktikan bahwa nilai keislaman dan modernitas dapat berjalan seiring.
Penghargaan negara ini juga menjadi pengingat moral. Imam Al-Ghazali pernah menulis, “Iman yang lemah akan gampang goyah.” Dalam konteks globalisasi, sekolah Muhammadiyah ditantang membangun benteng keilmuan sekaligus spiritualitas.
Bagi siswa Samamsatu Gresik, penghargaan ini bukan sekadar berita nasional. Ia adalah undangan untuk meneruskan jejak intelektual dan akhlak mulia—membawa semangat al-Ma’un dan Islam Berkemajuan dari podium istana ke ruang kelas, lapangan olahraga, hingga kegiatan sosial masyarakat.
Anugerah Bintang Mahaputra Utama bagi Haedar Nashir dan Abdul Mu’ti menegaskan: Muhammadiyah bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga denyut kehidupan bangsa.
Dari pucuk pimpinan hingga sekolah menengah di Gresik, Muhammadiyah terus merajut benang peradaban. Dan bagi guru-guru serta siswa Muhammadiyah, bintang yang sesungguhnya adalah dedikasi tulus dalam mendidik, membimbing, dan membangun bangsa—meski tanpa tanda jasa yang tersemat di dada. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments