
PWMU.CO – Sudah setengah bulan sejak peluncurannya, Film Sore: Istri dari Masa Depan masih menggema dan terputar dalam pikiran saya. Perasaan haru saat pertama kali menonton masih bisa saya rasakan sampai pada saat saya menulis esai ini. Menurut subjektivitas saya, film ini sangat menakjubkan.
Salah satu hal yang membuat saya takjub, terharu, sekaligus skeptis secara bersamaan, adalah besarnya rasa cinta Sore kepada Jonathan, suaminya. Sore, sang istri dari masa depan Jonathan, rela melintasi waktu dan berkali-kali mati dan hidup lagi hanya demi membuat Jonathan mau mengubah kebiasaan buruknya. Sore ingin agar Jonathan hidup lebih lama dan tidak mati muda.
Tapi sayang, kebiasaan buruk Jonathan tetap tidak bisa berubah. Justru Sore mendapatkan fakta berupa trauma Jonathan yang tidak pernah Sore ketahui sepanjang hidupnya. Trauma inilah yang membuat Jonathan hidup dalam kebiasaan yang tidak sehat.
Hingga sampai pada satu titik, setelah ratusan kali Sore mengalami mati dan hidup kembali. Akhirnya Sore mendapatkan satu kesimpulan, bahwa yang mampu mengubah seseorang hingga keluar dari traumanya, adalah rasa cinta yang tulus. Dan benar adanya, setelah Sore berupaya menerima dan mencintai Jonathan dengan sepenuh hati. Jonathan pun bisa mengubah kebiasaan buruknya.
Sebagai film fiksi, ini adalah pendekatan yang mengharukan bagi saya, bahwa cinta yang tulus dari orang terdekat mampu menggerakkan seseorang untuk sembuh dan beranjak dari trauma yang Ia alami. Namun secara bersamaan, pikiran saya juga mempertanyakan “Apakah benar cinta yang tulus dapat menyembuhkan trauma seseorang?”
Trauma
Perlu diketahui, trauma sendiri memiliki berbagai konteks pemaknaan, yakni trauma sebagai peristiwa, trauma sebagai respons, dan trauma sebagai gangguan atau penyakit mental. Trauma sebagai peristiwa dan respons adalah pengalaman tidak mengenakkan yang dialami oleh seseorang sehingga menyebabkan orang tersebut kurang mampu atau tidak berani mengambil keputusan dalam hidupnya. Sedangkan trauma sebagai gangguan mental adalah gangguan yang berkembang dari trauma yang parah serta tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Trauma ini lebih kita kenal sebagai Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Itu artinya, tidak semua trauma bisa dikatakan sebagai gangguan mental. Setiap dari kita pasti punya yang namanya trauma. Trauma adalah respons otomatis dari tubuh kita, namun (sekali lagi) bukan berarti trauma yang kita rasakan adalah gangguan mental. Akan tetapi jika trauma yang dialami tidak ditangani dengan tepat dan segera, maka trauma tersebut berpotensi menjadi lebih parah dan berujung pada PTSD. Jika kamu merasa relate dan merasa sedang mengalami trauma, akan lebih baik jika kamu memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater, dan hindari untuk melakukan self-diagnose.
“Bagaimana kita bisa keluar dan sembuh dari trauma?” Proses penyembuhan trauma itu sendiri disesuaikan dengan seberapa parah tingkat trauma yang dialami oleh seseorang. Beberapa trauma ringan biasanya akan bisa sembuh dengan sendirinya.
Trauma sendiri dibagi menjadi beberapa jenis, yakni: ada trauma akut, trauma kronis, dan trauma kompleks. Dan setiap jenis trauma akan memberikan dampak yang berbeda pada individu yang mengalaminya. Selain itu, proses penyembuhan dari masing-masing jenis trauma juga berbeda-beda.
Jika kita kembali pada pertanyaan awal, “apakah cinta dapat menyembuhkan trauma”? Kunci kesembuhan dari trauma bisa jadi berbeda-beda bagi setiap jenis trauma maupun individu yang mengalami trauma. Trauma tidak sebegitu sederhananya dapat disembuhkan hanya dengan cinta. Jika keberadaan cinta dari orang terdekat tidak diimbangi dengan kemauan dan kemampuan untuk sembuh dari individu yang mengidap trauma, maka trauma tidak akan sembuh begitu saja. Namun jika rasa cinta tersebut hadir dan diimbangi dengan kemauan dan kemampuan untuk sembuh dari individu yang mengidap trauma, maka trauma akan lebih mudah untuk disembuhkan.
Dengan demikian, kunci dari kesembuhan adalah diri kita sendiri. Cinta yang tulus dari orang terdekat tidak akan serta merta membuat trauma kita sembuh, jika kita sendiri tidak mencintai dan menghargai diri kita. Keberadaan cinta dari orang terdekat, hanya dapat membantu kita untuk belajar memaknai dan mengubah cara pandang kita terhadap trauma yang kita alami. Sisanya kesembuhan datang dari kemauan kita untuk mengubah hal-hal kecil yang ada dalam hidup kita. Sebagaimana Jo yang sembuh dari trauma, Ia tidak serta-merta sembuh karena cinta dari istrinya. Tapi karena cinta dari istrinyalah, Jo akhirnya mau mengubah kebiasaan buruknya. Jo berupaya memaafkan ayahnya, dan dengan itulah Jo bisa sembuh dari traumanya.***
Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments