Dalam upaya memperkuat sinergi antara lembaga keuangan nasional dan gerakan sosial keagamaan terbesar di Indonesia, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan jajaran PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, Jum’at (31/1/20250).
Pertemuan tersebut membahas peluang kolaborasi strategis di bidang bisnis, digitalisasi, hingga program pengembangan sumber daya manusia dan pemagangan global bagi mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).
Rombongan BNI dipimpin oleh Direktur Utama Putrama Wahju Setiawan, didampingi Direktur Kelembagaan Eko Setyo Nugroho, General Manager Kelembagaan Meiliana serta Regional CEO BNI Yogyakarta Ariyanto. Mereka disambut langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama Komisaris Independen PT Jamkrindo Muhammad Muchlas Rowi.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kolaborasi, dengan komitmen bersama untuk memperkuat kontribusi ekonomi, pendidikan, dan sosial bagi masyarakat Indonesia.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setiawan menyampaikan apresiasi atas kesempatan untuk bersilaturahmi dan menjajaki kerja sama strategis dengan Muhammadiyah.
Pihak BNI, kata Putrama, berkomitmen untuk mendukung penguatan ekosistem digital Muhammadiyah, termasuk pengembangan bisnis bagi penguatan UMKM yang bermanfaat bagi kesejaahteraan masyarakat sebagaimana tema Milad ke-113 Muhammadiyah tahun ini.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyambut baik dukungan BNI. Namun menekankan pentingnya tata kelola yang baik good corporate governance (GCG).
“Harus GCG dan tertata kelola dengan bener. Agar seluruh kegiatan tetap tertata dengan benar, transparan, dan memberi manfaat maksimal bagi umat dan rakyat,” tegas Haedar seperti dilansir di laman resmi PP Muhammadiyah.
Haedar juga menekankan pentingnya institusi-institusi milik pemerintah termasuk BUMN semakin peduli dan berkomitmen dalam menyejahterakan rakyat, antara lain melalui kerjasama dengan organisasi kemasyarakatan yang memiliki basis dan jaringan kuat di masyarakat di seluruh tanah air seperti Muhammadiyah.
BNI juga membuka peluang kemitraan dalam program pemagangan SDM melalui PTMA di luar negeri yang dijalankan Muhammadiyah, didukung oleh jaringan BNI yang ada di beberapa negara di dunia. Dalam pembahasan tersebut,
Haedar menyoroti tantangan utama program caregiver yang terletak pada aspek penguasaan bahasa dan perlunya reorientasi kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan pasar global.
“Kendala utama caregiver di luar negeri adalah soal bahasa, dan perlu re orientasi baru. Mereka juga harus siap secara mental, budaya, dan komunikasi agar mampu beradaptasi dan menunjukkan karater bangsa,” ujar Haedar.
BNI menyambut baik hal tersebut dan menyatakan siap mendukung para peserta magang melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pekerja Migran Indonesia (PMI), sehingga mahasiswa atau peserta binaan Muhammadiyah dapat memperoleh akses pembiayaan yang mudah dan terjangkau.
“BNI juga siap mendukung peserta magang Muhammadiyah melalui fasilitas KUR Pekerja Migran Indonesia, dan memanfaatkan layanan keuangan BNI yang bisa diakses secara global,” ujar Putrama Wahju Setiawan, Direktur Utama BNI.
Dalam kesempatan itu, juga dibahas sejumlah unit usaha Muhammadiyah yang telah berkembang, seperti bisnis perhotelan dan konstruksi melalui SM Tower di Yogyakarta dan Berau untuk menggerakkan umat.
“Seluruh unit usaha Muhammadiyah pada dasarnya digerakkan untuk kemaslahatan umat, dengan semangat saling menopang antara bidang usaha dan kegiatan sosial. Kelebihan hasil dari unit usaha tersebut sebagian besar dialokasikan untuk mendukung pembangunan lembaga pendidikan, termasuk sekolah-sekolah di daerah tertinggal seperti Papua,” ungkap Haedar.
Terakhir, BNI menyampaikan kesiapan untuk memperluas dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Termasuk kolaborasi potensial dengan Lazismu yang mulai dijajaki, seiring dengan proses integrasi layanan digital BNI yang tengah berlangsung di platform Wondr.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments