Peserta Pelatihan Menulis Dinamika Aisyiyah tampak antusias mengikuti pemaparan materi yang disampaikan oleh Ahmad Faizin Karimi pada Sabtu (1/11/2025) di Aula SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik. Dalam kesempatan itu, Faizin menegaskan pentingnya kreativitas dalam menulis dan mengingatkan peserta agar tidak bergantung sepenuhnya pada Artificial Intelligence (AI).
“Di era teknologi cerdas seperti sekarang, seharusnya semakin mudah bagi seseorang untuk menghasilkan karya, baik tulisan, gambar, maupun video. Namun, jangan sampai bergantung sepenuhnya pada teknologi AI,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kualitas naskah yang dihasilkan tidak bisa sepenuhnya ditentukan oleh mesin pintar atau AI karena teknologi hanya mampu memberikan informasi sejauh data yang tersedia di internet.
Laki-laki yang juga dikenal sebagai pegiat literasi tersebut menekankan bahwa tidak semua fakta yang dialami tercatat secara online sehingga penulis sebaiknya tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi untuk menghasilkan karya berkualitas.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LBSO) PDA Kabupaten Gresik bekerja sama dengan Majelis PAUD Dasmen Kabupaten Gresik ini, ia menegaskan bahwa prinsip dasar dalam menghasilkan karya bersama adalah berpikir.
“Jika peserta memiliki kreativitas untuk mengembangkan, tentu sangat diperbolehkan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Faizin menjelaskan bahwa tulisan tentang dinamika lembaga tidak cukup hanya berisi data atau profil umum semata.
“Tulisan sebaiknya dibuat mengalir dan memunculkan sisi emosional dengan menjawab unsur why (mengapa) dan how (bagaimana). Dalam hal ini, penulisan dinamika berbeda dengan jurnalistik karena jurnalistik lebih bersifat straight news,” jelasnya.
Ia juga berpesan kepada peserta agar aktif saat wawancara dengan narasumber.
“Saat mengajukan pertanyaan, jangan hanya berhenti pada satu pertanyaan. Gali lagi dan lagi,” pesannya.
Sementara itu, moderator, Dewi Musdalifah turut membangkitkan semangat peserta dengan menyampaikan bahwa perempuan memiliki kelebihan berupa sifat yang detail, emosional, dan imajinatif.
“Hal inilah yang mendorong munculnya gagasan untuk menulis dinamika lembaga. Ketika seorang penulis menuangkan hal-hal yang disoroti dan dianggap penting dalam lembaganya, tentu akan menjadi menarik. Setiap lembaga memiliki pertumbuhan yang berbeda-beda, bisa berupa konflik, prestasi, maupun perkembangan signifikan,” ujarnya.
Dewi juga menambahkan, menulis merupakan cara untuk belajar menjadi pribadi yang jujur.
“Dengan menulis sebenarnya kita telah belajar untuk menjadi orang yang jujur, benar tidak, Bu?,” tanyanya yang disambut anggukan peserta.
Menjelang sesi praktik menulis, Dewi Musdalifah menyampaikan lima formula dalam merangkai cerita, yaitu:
1. Mengubah data menjadi manusia.
2. Mengubah daftar data menjadi peristiwa.
3. Mengubah laporan menjadi emosi dalam narasi.
4. Mengubah hasil menjadi makna.
5. Mengubah kesimpulan menjadi refleksi.
Sebelumnya, pada pertemuan daring pertama bulan lalu, panitia telah membagikan instrumen sebagai acuan pengumpulan data bagi penulis. Instrumen tersebut berfungsi untuk memastikan kita memiliki bahan yang cukup agar saat menulis tidak kesulitan.
Usai pemaparan materi, sebanyak 87 peserta yang terdiri dari Amal Usaha Aisyiyah, baik dari Kelompok Bermain (KB) maupun Taman Kanak-kanak (TK), serta utusan dari Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) se-Kabupaten Gresik langsung mengeksekusi instrumen masing-masing yang berisi 60 butir pertanyaan untuk dikembangkan menjadi karya tulis.
Hasil tulisan para peserta tersebut nantinya akan dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk buku. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments