PWMU.CO – Sampah plastik menjadi salah satu permasalahan lingkungan terbesar di Indonesia. Dari kantong plastik, sedotan, hingga bungkus makanan ringan. Sebagian besar hanya berakhir di tempat sampah tanpa pengolahan lebih lanjut.
Padahal, plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai di alam. Jika tidak ditangani dengan baik, limbah ini dapat mencemari tanah, air, hingga mengancam kesehatan manusia.
Melihat kenyataan tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Pengabdian Masyarakat hadir dengan sebuah inovasi edukasi lingkungan yang disebut Brickreatif.
Program ini dilaksanakan di SDN 4 Pandesari, dengan tujuan menanamkan kesadaran peduli lingkungan sejak dini kepada anak-anak sekolah dasar.
Apa Itu Brickreatif?
Brickreatif merupakan singkatan dari “Brick” (batu bata) dan “kreatif”, yang mengusung konsep edukasi ecobrick.
Botol plastik yang terisi padat dengan sampah plastik non-organik sehingga dapat berfungsi layaknya batu bata ramah lingkungan.
Ecobrick bisa termanfaatkan menjadi berbagai benda berguna, mulai dari kursi sederhana, meja, rak, hingga instalasi edukatif yang mempercantik lingkungan sekolah.
Program ini terancang bukan hanya sebagai solusi pengelolaan sampah, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran kreatif yang menyenangkan bagi anak-anak.
Dengan melibatkan siswa SDN 4 Pandesari, harapannya mereka dapat memahami bahwa menjaga lingkungan bukanlah sesuatu yang sulit, melainkan bisa dilakukan melalui kebiasaan kecil yang konsisten.
Kegiatan di SDN 4 Pandesari
Pelaksanaan Brickreatif di SDN 4 Pandesari terlaksana melalui tiga tahapan utama. Pertama, sosialisasi tentang sampah plastik dan dampaknya. Mahasiswa UMM memberikan penjelasan sederhana dengan gambar, video, dan diskusi interaktif agar anak-anak mudah memahami.
Tahap kedua adalah praktik langsung pembuatan ecobrick. Siswa membawa botol plastik bekas dari rumah, kemudian diajari cara mengisi dengan plastik kemasan secara padat menggunakan tongkat kecil.
Aktivitas ini ternyata menjadi bagian paling menyenangkan bagi mereka. Sambil mengisi botol, anak-anak saling bercanda, berlomba membuat ecobrick yang rapi dan padat.
Tahap terakhir adalah pemanfaatan hasil ecobrick. Botol-botol yang sudah terisi padat kemudian disusun menjadi karya sederhana, seperti kursi duduk dan hiasan kelas.
Dengan cara ini, siswa tidak hanya tahu teori, tetapi juga melihat bahwa ecobrick benar-benar bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Antusiasme Siswa dan Guru
Program Brickreatif mendapatkan sambutan positif dari siswa maupun guru di SDN 4 Pandesari.
Anak-anak terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, bahkan ada yang berinisiatif membawa lebih banyak plastik dari rumah untuk diisi ke dalam botol. Bagi mereka, kegiatan ini bukan hanya belajar tentang sampah, tetapi juga pengalaman baru yang seru.
Guru-guru pun merasa terbantu dengan adanya program ini. Selama ini, pengelolaan sampah di sekolah sering kali hanya sebatas membuang ke tempat sampah tanpa ada proses lanjutan.
Dengan adanya Brickreatif, para guru mendapatkan ide baru untuk menerapkan kegiatan serupa secara berkelanjutan. Mereka juga melihat bahwa pembelajaran lingkungan bisa dikemas dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.
Dampak Nyata Brickreatif
Dampak paling nyata dari program ini adalah tumbuhnya kesadaran siswa untuk lebih peduli pada lingkungan. Setelah mengikuti kegiatan, tak sedikit anak yang berkomitmen untuk tidak membuang sampah plastik sembarangan dan mengumpulkannya untuk diolah menjadi ecobrick.
Hal ini menunjukkan bahwa edukasi lingkungan tidak harus dengan pendekatan serius, tetapi bisa dilakukan dengan metode bermain sambil belajar.
Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara mahasiswa UMM, pihak sekolah, dan masyarakat sekitar. Ecobrick yang mereka hasilkan bersama-sama bisa bermanfaat untuk berbagai keperluan, sehingga memberikan manfaat nyata yang berkelanjutan.
Menjaga Bumi Lewat Langkah Sederhana
Brickreatif membuktikan bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari langkah kecil yang sederhana. Dengan memanfaatkan botol bekas dan plastik yang biasanya dibuang, masyarakat dapat berkontribusi dalam mengurangi pencemaran lingkungan.
Program di SDN 4 Pandesari ini hanyalah permulaan. Harapannya, edukasi ecobrick dapat menyebar ke sekolah-sekolah lain dan menjadi kebiasaan positif di masyarakat.
Mahasiswa UMM melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat berhasil menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat terkemas secara kreatif, menyenangkan, dan berdampak nyata.
Dengan semangat Brickreatif, sampah plastik bukan lagi masalah. Melainkan peluang untuk berkreasi sekaligus menjaga kelestarian bumi.






0 Tanggapan
Empty Comments