Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam yang lahir dengan semangat pembaruan, keberanian berpikir, dan kepekaan sosial. Namun dalam perjalanannya, sejumlah nilai dasar dinilai mulai memudar.
Refleksi kritis inilah yang disampaikan Dr. Nurbani Yusuf, M.Si dalam pengajian rutin Ahad pagi PCM Tulangan, Sidoarjo, yang mengajak warga Persyarikatan merenungi kembali jati diri Muhammadiyah: apa saja yang sesungguhnya mulai hilang?
Dalam pengajian yang digelar di Masjid Al-Furqon, Kepatihan RT 03 RW 02, Tulangan, Ahad (11/01/26) tersebut, Nurbani Yusuf hadir sebagai Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Batu–Malang sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Mengawali pemaparannya, Nurbani menyampaikan rasa syukur dapat bersilaturahmi dengan warga Muhammadiyah Tulangan. Dia kemudian mengajak jamaah melihat kembali posisi historis Muhammadiyah dalam perjalanan bangsa.
“Muhammadiyah lahir pada tahun 1912, jauh sebelum Republik Indonesia berdiri pada 1945. Bahkan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, tercatat sebagai kader Muhammadiyah dengan nomor NBM 334,” ungkapnya.
Menurutnya, fakta sejarah ini menegaskan bahwa sejak awal Muhammadiyah hadir sebagai gerakan Islam yang progresif, berani berpikir jauh ke depan, dan tidak takut melakukan pembaruan demi kemaslahatan umat.
Masuk pada inti materi, Nurbani melontarkan pertanyaan reflektif kepada jamaah, “Apa yang hilang di Muhammadiyah?” Ia kemudian memaparkan enam hal penting yang menurutnya perlu dihidupkan kembali.
Pertama, filsafat. Cara berpikir filosofis kerap dicap liberal dan radikal. Padahal, keberanian berpikir visioner itulah yang mendorong KH Ahmad Dahlan bersama KH Sudjak mendirikan rumah sakit dan sekolah modern.
“Dulu mereka dicemooh sebagai kyai Londo dan kyai kafir. Namun sejarah membuktikan, pemikiran ‘radikal’ itulah yang justru memajukan umat,” tegasnya.
Kedua, tasawuf. Dia menilai praktik keberagamaan saat ini cenderung formalistik, bukan spiritualistik. Banyak perdebatan teknis ibadah, tetapi melupakan esensi kekhusyukan.
“Beragama harus holistik, tidak cukup dilihat dari satu sudut saja. Kita perlu memahami bagaimana Nabi salat dengan khusyuk, bukan sekadar memperdebatkan tata caranya,” tambahnya.
Ketiga, politik. Warga Muhammadiyah, menurutnya, tidak boleh alergi terhadap politik. Sejarah mencatat Partai Masyumi lahir dari inisiatif tokoh-tokoh Muhammadiyah.
Karena itu, keterlibatan politik harus dipahami sebagai ikhtiar strategis untuk memperjuangkan kepentingan umat.
“Memilih partai dan pemimpin harus dipertimbangkan, apakah berpihak kepada umat Islam dan nilai-nilai Muhammadiyah,” ujarnya.
Keempat, musik. Masih ada sebagian warga Persyarikatan yang mengharamkan musik. Padahal dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah, musik dinyatakan boleh.
“Jangan sampai kita lebih keras dari keputusan resmi Persyarikatan,” katanya.
Kelima, poligami. Isu poligami juga sering disalahpahami. Menurutnya, poligami tidak haram selama syarat dan rukunnya terpenuhi. Ia menyinggung fenomena adanya ustaz Muhammadiyah yang tidak lagi mendapat jadwal kajian di masjid karena berpoligami.
“Ini realitas sosial yang perlu disikapi dengan bijak,” terangnya.
Keenam, rokok. Terkait rokok, Nurbani menyebut bahwa persoalan ini masih menjadi perdebatan di ranah tarjih dan belum diharamkan secara mutlak.
“Apakah yang haram itu tembakaunya, cengkehnya, atau kertasnya?” tanyanya secara retoris.
Menutup kajian, Nurbani menegaskan bahwa Muhammadiyah sejatinya adalah gerakan yang adaptif dan fleksibel.
Dia mencontohkan sosok almarhum AR Fahruddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang dikenal bersahabat dengan Gus Dur.
“Beliau pernah menjadi imam salat tarawih di Pesantren Tambakberas Jombang dan memimpin yasinan dengan mengkaji ayat demi ayat. Dakwahnya diterima karena dilakukan dengan hikmah dan kebijaksanaan,” ungkapnya.
Sebelum kajian dimulai, acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 130–141 oleh Muhammad Fakhruddin Effendy. Ia berharap bacaan Kalam Ilahi tersebut membawa keberkahan dan kelancaran acara.
Ketua PCM Tulangan, Abdillah Adhie, dalam sambutan iftitahnya menyampaikan apresiasi atas kepedulian warga Persyarikatan dalam penggalangan dana bagi korban bencana di Aceh dan Sumatera.
“Dana yang terkumpul dan disetorkan melalui Lazismu PDM mencapai Rp 98.503.300,” ungkapnya.
Pengajian ini diharapkan mampu menguatkan kembali semangat refleksi, keterbukaan berpikir, dan karakter berkemajuan Muhammadiyah di PCM Tulangan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments