Umur adalah amanah. Setiap detik yang Allah titipkan kepada manusia bukan sekadar angka yang bertambah, melainkan kesempatan yang harus diisi dengan makna.
Karena itu, dalam Islam, panjang umur tidak dinilai dari lamanya seseorang hidup, tetapi dari sejauh mana umur itu digunakan untuk ketaatan dan kemanfaatan.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah Kami panjangkan umur seseorang melainkan agar dia kembali kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah.” (QS. Fathir: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa umur yang diperpanjang bukan tanpa tujuan. Panjangnya usia sejatinya adalah ruang luas bagi manusia untuk semakin dekat kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan memperbaiki diri.
Rasulullah saw juga bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi kompas hidup: umur panjang adalah nikmat jika disertai amal yang baik. Sebaliknya, umur panjang tanpa ketaatan justru dapat menjadi hujjah (alasan) yang memberatkan di hadapan Allah kelak.
Umur panjang dan bermanfaat dapat dipahami dalam beberapa dimensi penting:
1. Umur yang diisi dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala
Ibadah, zikir, salat, puasa, sedekah, dan amal kebaikan lainnya menjadi tanda bahwa umur seseorang tidak berlalu sia-sia.
Ada orang yang mungkin usianya tidak terlalu panjang, tetapi penuh dengan ibadah dan keikhlasan. Ada pula yang diberi umur panjang agar semakin banyak kesempatan untuk memperbaiki diri.
2. Umur yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain
Manfaat tidak selalu berarti hal besar. Seorang guru yang dengan sabar mengajar murid-muridnya, seorang petani yang menanam dengan jujur, seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dengan nilai iman, atau seorang tetangga yang ringan tangan membantu sesama—semua itu adalah bentuk umur yang bermanfaat.
3. Umur yang berakhir dengan husnul khatimah
Tujuan akhir dari umur panjang adalah wafat dalam keadaan iman, membawa amal saleh, dan meninggalkan jejak kebaikan. Husnul khatimah bukan hasil kebetulan, tetapi buah dari kebiasaan hidup dalam kebaikan.
Kita sering menjumpai orang tua di masjid yang setiap subuh sudah duduk membaca Al-Qur’an. Rambutnya memutih, langkahnya perlahan, namun lisannya basah oleh zikir.
Meski tenaga telah berkurang, semangat ibadahnya tidak pudar. Umurnya panjang, dan setiap harinya dipersembahkan untuk mendekat kepada Allah.
Ada pula sosok yang sepanjang hidupnya menjadi rujukan kebaikan. Ketika ia wafat, orang-orang berkata, “Kami kehilangan teladan.” Padahal yang hilang bukan hanya orangnya, tetapi manfaat dari umur panjang yang ia isi dengan amal dan keikhlasan.
Sebaliknya, ada juga orang yang panjang usia, tetapi waktunya habis dalam kelalaian. Panjang umurnya tidak meninggalkan bekas kebaikan. Inilah peringatan agar kita tidak sekadar berharap hidup lama, tetapi hidup bermakna.
Amalan yang Menjadikan Umur Panjang dan Bermanfaat
Beberapa amalan yang disebutkan dalam ajaran Islam dapat menjadi sebab keberkahan umur:
- Berbuat baik kepada sesama, karena kebaikan yang dibagikan akan kembali sebagai keberkahan hidup.
- Menuntut ilmu, sebab ilmu yang diamalkan terus mengalirkan pahala meski usia menua.
- Memperbanyak zikir, karena dzikir menenangkan hati dan menjaga hubungan dengan Allah.
- Beramal saleh secara konsisten, walau kecil tetapi terus dilakukan.
Namun perlu disadari, umur panjang dan manfaat sejatinya adalah kehendak Allah. Tugas manusia adalah berikhtiar, memperbaiki niat, dan mengisi setiap hari dengan amal terbaik yang mampu dilakukan.
Doa
Yaa Allah, sungguh kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat bagi diri kami dan orang lain, rezeki yang halal, serta amal yang Engkau terima dan Engkau ganjari dengan kebaikan.
Yaa Allah, terimalah dari kami seluruh amalan kami, jadikan sisa umur kami lebih baik dari sebelumnya, dan akhirilah hidup kami dengan husnul khatimah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments