Gedung Bale Sang Pencerah pagi itu terasa berbeda. Bukan hanya karena dipenuhi anggota koperasi, pengurus, dan tamu undangan, tetapi karena semangat yang berdenyut di dalamnya: semangat untuk memberi, bukan sekadar menghitung laba.
Sabtu (24/1/2026), Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Baitul Tanwil Muhammadiyah (BTM) Mulia Jawa Timur menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2025. Sebuah forum yang bukan hanya ruang laporan angka, tetapi juga cermin perjalanan dan arah perjuangan ke depan.
Hadir dalam kegiatan ini perwakilan Dinas Koperasi Provinsi Jawa Timur dan Dinas Koperasi Kabupaten Lamongan, jajaran pengurus KSPPS BTM Mulia, PCM Pangkatrejo, Majelis Ekonomi PDM Lamongan, Dewan Pengawas Syariah KSPPS BTM Mulia, PCM Babat, PCM Sekaran, serta seluruh anggota koperasi.
Dalam sambutannya, Direktur KSPPS BTM Mulia, Arif Rahman Saidi SE MH, menegaskan bahwa RAT adalah bentuk pertanggungjawaban moral dan organisatoris pengurus kepada anggota.
“RAT ini adalah ruang kami untuk mempertanggungjawabkan amanah. Apa yang njenengan titipkan kepada kami selama satu tahun, harus kami laporkan secara terbuka,” ujarnya.
Ia mengakui, kehati-hatian dalam mengelola amanah menjadi prinsip utama pengurus. Bukan hanya keberhasilan yang disampaikan, tetapi juga tantangan dan persoalan yang akan dihadapi ke depan; mulai dari sumber daya manusia, pasar, hingga perubahan perilaku ekonomi masyarakat.
Pak Arif lalu mengajak hadirin menengok ke belakang, pada masa awal berdirinya BTM Mulia 16 tahun silam. Sebuah fase yang lahir dari kegelisahan sederhana: maraknya praktik rentenir di Pasar Babat yang mencekik pedagang kecil.
“Dulu kami tidak berpikir untung atau rugi. Tidak memikirkan dapat berapa. Yang kami pikirkan hanya satu: bagaimana Muhammadiyah hadir mengatasi masalah umat,” kenangnya.
Justru dari keikhlasan itulah, kepercayaan masyarakat tumbuh. BTM Mulia berkembang, menguat, dan menjadi sandaran ekonomi anggota.
Namun zaman terus berubah. Jika dulu musuhnya adalah rentenir konvensional, kini tantangan bergeser ke pinjaman online.
“Hari ini tantangan kita adalah pinjol. Banyak masyarakat kita terjebak. Maka arah gerakan kita ke depan adalah bagaimana BTM Mulia hadir sebagai solusi,” tegas Arif.
Ia menyadari, semakin besar lembaga, semakin besar pula tantangan, terutama pada kualitas SDM dan sistem pengawasan. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen untuk ikut terlibat dalam penguatan internal koperasi.
“Semoga semua tantangan ini bisa kita hadapi bersama, dan BTM Mulia terus memberi manfaat bagi masyarakat dan Indonesia,” harapnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments