Suasana Auditorium AR Fachruddin SD Muhammadiyah 11 Surabaya tampak hidup pada Ahad (15/2/2026).
Puluhan peserta berkumpul dalam agenda Seminar Public Speaking bertajuk “Bersinergi dalam Dakwah, Mengubah Kata Jadi Karya” yang diinisiasi oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat dan Informasi Digitalisasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan.
Acara ini menjadi momentum penting dalam rangkaian Semarak Syiarmu Awards untuk membekali kader muda dengan keterampilan komunikasi di era modern.
Hadir sebagai narasumber, Indah Machmudah Chumaidi, seorang sosok muda inspiratif yang memiliki latar belakang mumpuni di dunia penyiaran dan organisasi.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur angkatan 2023 ini tidak hanya dikenal sebagai Ketua PC Nasyi’atul ‘Aisyiyah Krembangan, tetapi juga merupakan Presenter TV 9 Nusantara yang telah aktif melanglang buana sebagai MC, moderator, dan host sejak tahun 2020.
Dalam sesi pertama, Indah membedah fenomena nervous atau gugup yang sering dialami pembicara pemula.
Ia menjelaskan bahwa kegugupan adalah respons alami tubuh terhadap ancaman, baik nyata maupun bayangan, yang memicu reaksi fight or flight.
Untuk mengatasinya, Indah mengajak peserta melakukan afirmasi positif dengan menanamkan pola pikir “pasti bisa” dan fokus pada tujuan.
Selain itu, pengaturan napas dalam serta persiapan materi yang matang menjadi kunci utama mengubah rasa takut menjadi kekuatan di atas panggung.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa inti dari komunikasi publik atau public speaking bukan sekadar kelancaran berbicara, melainkan bagaimana pesan tersebut dapat dipahami dan diingat oleh audiens.
Untuk mencapai hal tersebut, seorang pembicara harus memiliki tujuan yang jelas apakah untuk menyampaikan informasi, mengajak, atau menggerakkan orang lain serta mampu mengenali kebutuhan audiensnya.
Memasuki materi dakwah digital, Indah memaparkan pentingnya prinsip Ikhlas dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan di media sosial.
Prinsip ini mencakup niat yang Ikhlas, pembuatan Konten yang bertanggung jawab, penggunaan bahasa yang Humanis dan santun, dan sikap Luwes terhadap tren yang sedang berkembang.
Selain itu, konten harus bersifat Adaptif terhadap platform dan disampaikan melalui teknik Storytelling yang kreatif. Indah juga mengingatkan para peserta bahwa jejak digital bersifat nyata dan abadi.
Oleh karena itu, dakwah digital yang efektif harus berfokus pada solusi dan pertumbuhan diri, bukan justru merendahkan orang lain.
Konten yang baik adalah konten yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, mampu mengangkat cerita nyata, serta menghadirkan solusi atas permasalahan yang ada.
Sebagai bentuk implementasi teori, kegiatan ini ditutup dengan tantangan bagi peserta untuk membuat konten media sosial yang mencerminkan manfaat dan kesan pesan selama acara berlangsung.
Melalui simulasi peran sebagai siswa, content creator, hingga ketua organisasi, para peserta diajak untuk langsung mempraktikkan teknik berbicara efektif dalam berbagai situasi.
Harapannya, semangat bersinergi dalam dakwah ini dapat terus berlanjut melalui karya-karya nyata di ruang digital.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments