
PWMU.CO – Kajian epistemologi dalam tradisi filsafat merupakan topik yang terus dikaji dan belum mencapai titik akhir sejak era Sokrates hingga saat ini, berlangsung selama lebih dari 2.300-an tahun.
Hal inilah yang mendorong Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan, Dr Piet Hizbullah Khaidir SAg MA untuk melahirkan karya buku dengan judul “Epistemologi Tadzakkur Rahmani” yang dilaunching dalam kegiatan Kajian Ramadan PWM Jatim 1446 H di Dome Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) pada Sabtu (8/3/2025).
Piet, yang juga menjabat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran dan Sains Al-Ishlah (STIQSI) Lamongan ini menguraikan pemikirannya terkait buku yang diluncurkan dalam wawancara khusus dengan kontributor PWMU.CO.
Dalam pemaparannya, Piet menyoroti dua aspek utama yang masih belum selesai dibahas, yaitu:
Pertama, apakah pengetahuan berbasis pada proses rasional, empiris, atau kombinasi keduanya? Jika hanya didasarkan pada salah satunya, seperti apa bentuknya? Begitu pula jika menggabungkan keduanya, bagaimana teori kebenaran yang dapat dihimpun dan dirumuskan sebagai sebuah teori yang utuh?.
Kedua, relasi antara subjek dan objek pengetahuan. Bagaimana cara subjek mengetahui objek pengetahuan? Selain itu, dalam bentuk apa objek pengetahuan itu hadir? Apakah berupa materi fisik, semi-metafisik, atau metafisik?.
“Terhadap dua persoalan utama yang dikaji di atas, buku ini menganalisisnya melalui tiga pendekatan utama. Pertama, menggunakan pendekatan tafsir sufi dengan mengeksplorasi tafsir Ibn ‘Arabi melalui dua rujukan utama yakni Al-Futuhat al-Makkiyyah dan Tafsir Ibn ‘Arabi. Kedua, melalui pendekatan tafsir rasional dengan mengkaji tafsir Fakhr al-Din al-Razi berdasarkan dua rujukan utama yakni Tafsir Mafatih al-Ghayb dan Mabahith al-Mashriqiyyah,” sambung Alumnus School of Theology and Philisophi, the University of Leeds, England tahun 2009 ini
Piet juga menjelaskan bahwa pendekatan ketiga dilakukan melalui kajian terhadap lafal-lafal kunci epistemologi yang terdapat dalam al-Quran. Terdapat 16 lafal kunci yang dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu lafal-lafal kunci epistemologi dan lafal-lafal kunci lokus pengetahuan.
“Keseluruhan kajian tentang epistemologi ini saya sebut sebagai sistem pengetahuan dalam al-Quran, yang ditelaah menggunakan pendekatan fenomenologi Edmund Husserl,” tuturnya.
Buku setebal 356 halaman ini menegaskan jawaban serta pemihakan al-Quran terhadap bentuk dan model pengetahuan, serta relasi antara subjek dan objek pengetahuan sebagaimana dikaji dalam filsafat. Temuan utama dari jawaban al-Quran dalam buku ini disebut dengan istilah Tadzakkur Rahmani.
Piet mengakui bahwa dalam menyelesaikan penulisan buku ini, ia tetap membuka diri terhadap kritik dan masukan dari pembaca. Sebagai mubaligh yang produktif dalam menulis, ia berharap saran dari pembaca dapat menjadi bahan perbaikan bagi karyanya di masa mendatang.
Berikut beberapa karya buku yang ditulis oleh Piet Hizbullah:
• Nalar Kemanusiaan, Nalar Perubahan Sosial (2006).
• Allah is My Audience (2018).
• Strategi Marketing Islam Moderat (2025)
Penulis Gondo Waloyo Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments