Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menuju Modernitas Dibedah Bersama Gerry van Klinken di Gedoeng Moehammadijah

Iklan Landscape Smamda
Buku Menuju Modernitas Dibedah Bersama Gerry van Klinken di Gedoeng Moehammadijah
Gerry van Klinken (tiga dari kiri) hadir dalam acara bedah buku di Gedoeng Moehammadijah Yogyakarta. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Diskusi buku “Menuju Modernitas” karya sejarawan Gerry van Klinken digelar di Gedoeng Moehammadijah, Yogyakarta, Senin (24/11/2025).

Acara yang diselenggarakan oleh Majelis Pustaka Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bersama Yayasan Obor Indonesia dan Inside Indonesia itu menyoroti kembali kontribusi lima tokoh minoritas Kristen dalam gerakan antikolonial, sekaligus membuka ruang dialog tentang modernitas dan peran Muhammadiyah dalam sejarah Indonesia.

Wakil Ketua II MPI PP Muhammadiyah Widiyastuti menyambut baik agenda ini. Dia menambahkan, Muhammadiyah ormas yang memiliki wawasan terbuka dalam dialog dengan berbagai pemikiran.

“Jadi kalau kita lihat komunikasi Kiai Dahlan tidak hanya dengan orang Islam, tapi juga dengan orang-orang Katolik, Kristen juga melakukan diskusi yang sangat terbuka,” ungkapnya seperti dilansir di laman resmi PP Muhammadiyah.

Sejarah Pendiri Muhammadiyah itu menurutnya menjadi catatan yang perlu diingat oleh generasi penerus perjuangan Muhammadiyah. Keterbukaan dan mengedepankan dialog, katanya, menjadi salah satu kunci Muhammadiyah bisa tetap tumbuh serta bermanfaat sampai satu abad lebih ini.

“Muhammadiyah dengan keterbukaannya ternyata itu bisa membuat kita bisa bertahan beberapa zamannya,” tambahnya.

Wiwid juga menyampaikan terima kasih kepada Serikat Taman Pustaka – sayap gerakan MPI PP Muhammadiyah – sebagai penyambung komunikasi dengan Gerry van Klinken untuk bisa diselenggarakannya acara Apresiasi dan Diskusi Bedah Buku “Menuju Modernitas: Politik Antikolonial 5 Tokoh Minoritas”.

Sementara itu, Gerry van Klinken menyampaikan terima kasih ke Muhammadiyah karena telah diberikan ruang untuk membedah karyanya yang telah dirampungkan kurang lebih 30 tahun silam ini. Dan kini rilis kembali dengan cetak baru pada 13 November 2025.

Dalam paparan Gerry, buku ini menceritakan tentang lima orang Kristen Katolik dan Protestan – representasi minoritas – yang memiliki riwayat hidup anti kolonial. Kelima orang itu adalah Albertus Soegijapranata, Ignatius Joseph Kasimo, Toedoeng Soetan Goenoeng Moelia, G.S.S.J. Ratu Langie, dan Amir Syarifuddin.

“Saya memilih lima orang yang kira-kira mewakili berbagai ketegangan atau kemungkinan di dalam situasi ini. Bagaimana mereka akan menanggapinya. Masalahnya tentu saja mereka memeluk agama penjajah, sehingga pasti akan dipandang sebagai orang yang loyal ke penjajah,” katanya.

Kolonialisme, Modernisme, dan Lalu Muhammadiyah

Penjajahan masa kolonial, katanya, memiliki dua sisi yang saling berkaitan. Karena selain menyebabkan kesengsaraan, pada waktu bersamaan Penjajah juga membonceng modernitas. Modernitas dibawa masuk melalui pintu-pintu pelabuhan di Nusantara kala itu.

“Jadi bagaimana mereka akan menyikapi hal-hal itu, budaya baru, dan sebagian menganut agama penjajah, dan sebagian besar lagi menikmati modernitas. Dan sekaligus ingin menjadi otonom, ingin menjadi merdeka,” katanya.

Modernitas yang dibonceng penjajah ini menjadi obor baru bagi bangsa Nusantara yang kala itu dijajah. Salah satu ekspresi dari modernitas adalah otonomi, menghilangkan feodalisme, dan semangat anti penjajahan. Maka api semangat ini diserap sebagai bahan bakar untuk melakukan perlawanan.

Namun demikian, perlawanan dari kelima sosok ini masing-masing berbeda. Perbedaan gaya kepemimpinan ini dilatarbelakangi oleh sejarah masa lalu para tokoh tersebut. Tapi mereka juga memiliki kesamaan, yaitu otoritas yang mereka miliki sama-sama digunakan untuk menumbangkan kolonialisme.

Sebagai penanggap, Dosen UNISA Yogyakarta, Iwan Setiawan menyampaikan, Muhammadiyah menjadi bagian penting dalam proses kemerdekaan Indonesia, sebagaimana dengan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok lain – sekaligus menjadi pelaku modernisasi itu sendiri.

“Muhammadiyah mengakui bahwa kemerdekaan yang diraih oleh Indonesia merupakan nikmat dari Allah SWT, yang diperjuangkan oleh seluruh elemen bangsa – tidak hanya umat Islam saja. Fakta ini menjadi alasan Muhammadiyah berkomitmen terhadap negara Pancasila,” katanya.

Mengambil semangat dari penulisan buku “Menuju Modernitas”, Ketua Serikat Taman Pustaka, David Efendi berharap narasi tentang interaksi para tokoh Muhammadiyah dengan kelompok atau tokoh minoritas lebih banyak diangkat. Mengingat sejarah penghapusan tujuh kata sila pertama Pancasila juga erat dengan realitas tersebut.

Sementara itu terkait dengan otoritas, David menceritakan bahwa di Muhammadiyah terdapat otoritas akan tidak melekat pada individu, melainkan otoritas tersebut melekat pada organisasi/institusi. Selain itu, Muhammadiyah juga sebagai organisasi modern, baik secara spirit maupun realita.

“Muhammadiyah sebagai organisasi modern, dengan modernisasi itu mulai dari pemikiran tentang Al Qur’an dan Hadis yang menjadi fondasi gerakan. Kemudian organisasi ini juga sangat Weberian dalam konteks legal formal,” katanya.

Weberian dalam konteks legal formal yang dimaksud David seperti pembagian pekerjaan yang jelas, struktur dan jaringan yang pasti, termasuk pengarsipan dokumen yang rapi sejak awal pendirian sampai dengan saat ini. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu