Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bulan Safar Bukan Pembawa Sial

Iklan Landscape Smamda
Bulan Safar Bukan Pembawa Sial
pwmu.co -

PWMU.CO – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti kediaman Bapak Mohammad Tharmum pada Sabtu malam (2/8/2025). Warga Muhammadiyah dari berbagai ranting se-Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, berkumpul dalam kegiatan Kajian Rutin yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Waru.

Kajian yang dimulai tepat pukul 19.30 WIB ini diawali dengan pembacaan Ummul Quran oleh Ustadz Moh Jufri. Suasana hening, khidmat, dan penuh kekhusyukan menyelimuti puluhan jamaah yang hadir.

Pemateri, Ustadz Abdul Malik Reza, mengawali tausiyahnya dengan mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Dalam penyampaiannya, ia mengutip firman Allah dalam Surat Ibrahim ayat 7:

Artinya: “Jika kamu bersyukur atas nikmat-Ku, pasti akan Aku tambah nikmat itu; tetapi jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Menurut Ustadz Malik, sapaan akrabnya, bersyukur bukan sekadar diucapkan dengan lisan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk ketakwaan. Ia menjelaskan bahwa ketakwaan berarti menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta tidak mencampuradukkan yang haq dengan yang batil.

Sebagai contoh, ia menyebutkan kebiasaan membaca doa sebelum makan.

“Itu tanda kita melibatkan Allah dalam urusan kita. Sebaliknya, melakukan sesuatu tanpa melibatkan Allah adalah bentuk kufur nikmat,” pesannya.

Meluruskan Pandangan tentang Bulan Safar

Memasuki topik kedua, Ustadz Malik meluruskan pemahaman keliru sebagian masyarakat yang masih meyakini bulan Safar sebagai bulan sial atau bulan penuh musibah..

Ia membacakan hadits Nabi Muhammad SAW:

Artinya: “Tidak ada penularan penyakit yang terjadi dengan sendirinya, tidak ada anggapan sial karena tanda tertentu, tidak ada burung hantu pembawa maut, dan tidak ada kesialan bulan Safar.” (HR. Muslim)

“Keyakinan semacam itu berasal dari tradisi jahiliyah, bukan ajaran Islam. Nabi menegaskan tidak ada hari, bulan, atau tahun yang membawa petaka,” tegasnya.

Ia kemudian menyitir QS. Asy-Syura ayat 30 yang menegaskan bahwa musibah adalah akibat perbuatan manusia:

Artinya: “Dan musibah apa saja yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahanmu).”

Di akhir acara, salah satu jamaah bertanya dalam bahasa Madura.

Mun aghabèi tajhîn Sappâr ka’ sak kadhî nâpah? Mâkle tak nâ’as.” (Kalau membuat bubur Safar itu bagaimana? Katanya supaya tidak kena sial).

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ustadz Malik menjelaskan bahwa membuat dan membagikan bubur Safar diperbolehkan sebagai bagian dari tradisi budaya, begitu pula dengan membagikan nasi, camilan, atau makanan lainnya, selama tujuannya adalah untuk berbagi, bersedekah, dan mempererat ukhuwah. Namun, hal tersebut tidak boleh dilandasi oleh keyakinan bahwa bulan Safar membawa kesialan.

Setelah penyampaian materi selesai, acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz Helmy. Dalam sesi akhir, para peserta menyepakati bahwa pengajian rutin bulan depan akan dilaksanakan di kediaman Bapak Sulfan.

Suasana kebersamaan dan semangat untuk memperbaiki diri terasa sangat kuat sepanjang acara. Pesan utama yang disampaikan malam itu adalah pentingnya bersyukur setiap saat serta meluruskan keyakinan keliru, terutama yang berkaitan dengan bulan Safar. (*)

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu