
PWMU.CO – Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru yang menyasar berbagai produk dari negara-negara mitra dagang utama, Kamis (3/4/2025). Kebijakan ini memicu reaksi global karena dianggap sebagai langkah proteksionis yang dapat memperburuk ketegangan perdagangan internasional.
Menurut pernyataan resmi, tarif baru ini bertujuan untuk melindungi industri dalam negeri Amerika dari praktik perdagangan yang dianggap tidak adil. Beberapa sektor yang terdampak termasuk baja, aluminium, dan barang elektronik. Trump menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari strategi “America First” yang sebelumnya ia canangkan saat masih menjabat sebagai Presiden AS.
Efek Domino bagi Mitra Dagang
Keputusan ini langsung mendapat tanggapan dari berbagai negara. China, yang menjadi salah satu sasaran utama kebijakan ini, mengancam akan membalas dengan tarif serupa pada produk-produk asal Amerika. Uni Eropa dan negara-negara lain juga mulai mempertimbangkan langkah balasan guna melindungi kepentingan ekonomi mereka.
Pakar ekonomi internasional memperingatkan bahwa kebijakan ini berisiko memicu perang dagang baru yang dapat mengguncang ekonomi global. “Kenaikan tarif ini bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan harga barang di pasar internasional,” ujar seorang analis perdagangan dari Harvard University.
Dampak bagi Indonesia?
Meskipun Indonesia tidak termasuk dalam daftar utama negara yang terdampak langsung, kebijakan ini tetap memiliki efek tidak langsung. Harga bahan baku yang naik akibat ketegangan perdagangan global dapat memengaruhi industri manufaktur dalam negeri. Selain itu, jika ekspor Indonesia ke negara-negara mitra AS terdampak, maka rantai pasokan global bisa ikut terganggu.
Pemerintah Indonesia diharapkan dapat mengantisipasi kebijakan ini dengan memperkuat kerja sama perdagangan dengan negara lain dan mencari alternatif pasar ekspor.
Keputusan AS untuk kembali menaikkan tarif impor di era Trump menunjukkan bahwa strategi proteksionisme masih menjadi bagian dari kebijakan ekonomi Amerika. Dunia kini menanti bagaimana negara-negara lain merespons langkah ini. (*)
Penulis Azrohal Hasan Editor Wildan Nanda Rahmatullah






0 Tanggapan
Empty Comments