
“Ya, sudah biar Din saja yang di situ,” jawab Buya pada Hajri.
Cerita Hajri, yang membuat gerr-gerran peserta adalah statemen Buya yang disampaikan oleh Hajri. “Sudah biar Din saja. Dia itu perlu tampil biar jadi tokoh besar Din itu,” kata Buya.
“Kenapa, Buya?” tanya Hajri mencari alasan Buya. “Karena dia itu datang dari pulau kecil,” cerita Hajri tentang jawaban Buya merujuk pada asal Din Syamsuddin yang memang dari pulau kecil, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
(Baca juga: Berusia 107 Tahun tapi Masih Muda Belia, Amien Rais soal Perjalanan Muhammadiyah)
Buya Syafii memberi kesempatan Din Syamsuddin agar berpidato dalam acara itu. “Kalau dia datang, tentu yang akan pidato kan Pak Syafii Maarif karena ada Ketuanya,” tambah Hajri. Karena itu, Buya Syafii yang berada di kamar PP tidak mau datang.
Kisah kedua tokoh Muhammadiyah itu diceritakan oleh Hajriyanto ketika mengupas tradisi egalitarianisme dalam ber-Muhammadiyah. Menurutnya, salah satu tradisi besar Muhammadiyah adalah ketiadaan “darah biru” sebagai syarat menjadi orang besar di Persyarikatan.
Karena itu, siapa saja bisa dipilih oleh warga Persyarikatan sebagai pucuk pimpinan. Bahkan tak pernah memandang asal muasal daerah. Para tokoh yang diamanahi sebagai Ketua (Umum) PP Muhammadiyah bisa berasal dari siapa saja, yang penting punya kompetensi dan integritas. (kholid)






Dua tokoh enggan tuk bertemu. Ada apa?
Jikalau perbedaan pendapat merupakan kekeyaan dlm islam, knp harus saling menghindari???
@Andi Asgar: harap dipahami tidak secara negative thinking…. Konteksnya waktu itu disekitar tahun 1998-2000. Pak Syafii Maarif Ketua Umum PP Muhammadiyah, Pak Din Wakil Ketua; beliau justru memberi kesempatan kepada yang lebih muda untuk tampil di mimbar…. Cara berfikir kaderisasi. Tidak ingin selalu tampil sendiri terus. Tetapi memberi kesempatan yuniornya, yang suatu saat kelak menggantikan, agar juga sudah mulai terbiasa tampil….
Dan terbukti kemudian dalam sejarah, Pak Din dipercaya warga Muhammadiyah, meneruskan kepemimpinan Pak Syafi’i Ma’arif. Itu konteksnya.
Adapun dalam soal Pak Din tidak berkenan hadir di acara ILC beberapa waktu yang lalu, karena Pak Syafii Maarif hadir disitu, dan Pak Din sudah tahu kalau mereka berdua berbeda pendapat; maka dengan bijaknya Pak Din tidak berkenan hadir, karena tidak mau menampilkan perbedaan pendapat beliau, yang bisa difahami keliru oleh masyarakat yang tidak faham.
Sudah biasa dan menjadi tradisi adanya perbedaan pendapat di dalam Muhammadiyah…
demikian Mas Andi Asgar…. 🙂