Langkah kaki saya pelan saat menyusuri kawasan Jabal Uhud, Madinah. Angin gurun berembus lembut, seolah membawa bisik sejarah yang tak pernah usang.
Di hadapan saya, bukit-bukit batu berdiri kokoh, sunyi, namun sarat makna. Di sinilah, lebih dari empat belas abad silam, sejarah besar umat Islam terukir—bukan hanya tentang perang, tetapi tentang nilai, amanah, dan pelajaran kepemimpinan yang abadi.
Pandangan saya tertuju pada sebuah bukit kecil yang tidak terlalu tinggi, namun memiliki posisi strategis. Bukit Rumat—tempat Rasulullah saw menempatkan para pemanah pada Perang Uhud.
Dari tempat inilah, sebuah pesan agung tentang ketaatan dan konsistensi lahir, sekaligus menjadi pelajaran pahit akibat kelalaian manusia.
Rasulullah saw berpesan dengan sangat tegas kepada para pemanah: “Tetaplah di tempat kalian, apa pun yang terjadi. Jangan tinggalkan posisi ini meski kalian melihat kami menang atau kalah.” Perintah itu sederhana, jelas, dan penuh hikmah.
Namun sejarah mencatat, ketika kemenangan tampak di depan mata dan harta rampasan perang mulai terlihat, sebagian pemanah turun dari bukit sebelum perintah dicabut.
Mereka tergoda oleh hasil instan, lupa bahwa posisi mereka adalah kunci keselamatan pasukan. Akibatnya, pasukan Muslim diserang dari arah yang tidak terjaga.
Situasi berbalik. Uhud pun menjadi saksi bahwa kesalahan kecil di titik strategis dapat berdampak besar bagi keseluruhan perjuangan.
Bukit Rumat mengajarkan satu hal mendasar: amanah bukan soal besar atau kecilnya tugas, tetapi tentang kesetiaan menjaganya hingga akhir.
Saat berdiri di kawasan ini, saya merenung. Betapa relevannya pelajaran Bukit Rumat dengan kehidupan hari ini, terutama bagi mereka yang diberi peran kepemimpinan.
Seorang pemimpin—kepala sekolah, penggerak organisasi, atau siapa pun yang diberi amanah—hakikatnya adalah “pemanah” di titik strategis.
Ketika pemimpin meninggalkan nilai dan prinsip karena tergoda kepentingan sesaat—popularitas, kenyamanan, atau materi—maka dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Seluruh barisan yang dipimpinnya ikut merasakan akibatnya.
Uhud mengingatkan kita bahwa setia pada amanah jauh lebih mulia daripada hasil instan, dan disiplin terhadap prinsip lebih berharga daripada kemenangan yang diraih dengan cara yang keliru.
Guru dan Bukit Rumat Pendidikan
Bagi seorang guru, Bukit Rumat adalah cermin tanggung jawab mendidik. Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, tetapi penjaga nilai dan penuntun arah.
Dalam keseharian, mungkin hasil kerja guru tidak langsung terlihat. Perubahan murid tidak selalu instan. Namun justru di situlah letak ujian amanah itu.
Ketika guru tetap bertahan mendidik dengan kesabaran, keikhlasan, dan keteladanan—meski lelah, meski tak selalu diapresiasi—ia sedang menjalankan perannya seperti pemanah Uhud yang taat pada perintah Rasulullah saw.
Sebaliknya, ketika pendidikan hanya dijalani sebagai rutinitas dan formalitas, tanpa ruh dan ketulusan, yang hilang bukan sekadar kualitas pembelajaran, tetapi arah hidup generasi yang dibina.
Pendidikan adalah perjuangan jangka panjang yang menuntut keteguhan, bukan jalan pintas.
Lebih jauh lagi, Jabal Uhud berbicara tentang pengorbanan orang tua. Ayah dan ibu yang bekerja keras, mengorbankan waktu, tenaga, dan harta demi pendidikan anak-anaknya, sejatinya sedang berdiri di “Bukit Rumat” versi mereka sendiri.
Tidak semua pengorbanan langsung membuahkan hasil. Kadang terasa berat, kadang melelahkan, bahkan tak jarang disertai kecemasan.
Namun Islam mengajarkan bahwa harta dan tenaga yang dikeluarkan di jalan kebaikan tidak pernah hilang. Ia menjadi investasi dunia dan akhirat, menjadi doa yang hidup, dan kelak menjadi sebab kemuliaan.
Jabal Uhud juga mengajarkan bahwa kegagalan bukan akhir segalanya. Dari luka dan kehilangan, lahir kedewasaan iman dan kejernihan niat. Uhud bukan hanya tentang kekalahan, tetapi tentang bagaimana umat ini belajar untuk bangkit dengan kesadaran baru.
Bagi pemimpin, guru, dan orang tua, jatuh bukanlah aib selama mau belajar dan kembali pada nilai. Tetaplah bertahan di pos amanah masing-masing, karena di sanalah Allah menilai kesungguhan kita.
Di hadapan Jabal Uhud, saya menyadari satu hal: kemenangan sejati tidak selalu terlihat hari ini. Ia mungkin tersembunyi dalam kesabaran, keikhlasan, dan konsistensi menjaga amanah.
Namun Allah tidak pernah lalai. Pada waktu yang paling tepat, dengan cara terbaik, Dia akan membalas setiap kesetiaan.
Dan Bukit Rumat, hingga hari ini, tetap berdiri—menjadi pengingat bahwa amanah adalah jalan sunyi menuju kemuliaan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments