Bagi ribuan jamaah yang memadati Lapangan Fasum Bunderan Perumtas 3 Grabagan, Salat Idulfitri 1447 H pada Jumat (20/3/2026), berlangsung khidmat, tertib, dan nyaris tanpa cela. Namun di balik hamparan sajadah yang rapi dan lantunan takbir yang menggema, ada cerita tentang kerja kolektif, kekhawatiran, dan pengorbanan yang tak banyak terlihat.
Sejak jauh hari, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Grabagan Tulangan bersama Takmir Masjid Al Mahdi telah memulai persiapan. Bukan hanya soal teknis lapangan, tetapi juga memastikan setiap detail berjalan presisi—mulai dari penataan sound system, kebersihan lokasi, hingga pengaturan arus jamaah.
“Kami belajar dari tahun-tahun sebelumnya. Apa yang kurang, kami benahi. Apa yang sudah baik, kami perkuat,” ujar salah satu panitia.
Nama Agus Maksum menjadi salah satu yang berada di balik layar. Ia bukan hanya bagian dari panitia, tetapi juga sosok yang bertugas menjemput dan mendampingi khatib, Prof. Syafiq A. Mughni. Tanggung jawab itu bukan perkara ringan. Ketepatan waktu, kenyamanan, hingga kesiapan teknis harus dipastikan berjalan tanpa hambatan.
“Yang paling kami khawatirkan sebenarnya cuaca dan keterlambatan teknis,” ungkap Agus. Namun pagi itu, kekhawatiran seolah luruh bersama cerahnya langit. Semua berjalan sesuai rencana. Bahkan lebih dari yang dibayangkan.
Di sisi lain, pemilihan imam juga melalui pertimbangan matang. Sosok Yusuf Baswedan dipercaya memimpin salat bukan hanya karena kapasitas keilmuannya, tetapi juga kemampuannya menghadirkan kekhusyukan melalui lantunan ayat suci. Irama Nahawand yang ia bawakan pagi itu bukan sekadar indah, tetapi juga menghadirkan suasana batin yang dalam bagi jamaah.
Yang menarik, kesuksesan acara ini bukan hanya hasil kerja panitia inti. Warga sekitar turut ambil bagian. Ada yang membantu menyiapkan konsumsi, ada yang mengatur parkir, bahkan ada yang secara sukarela datang lebih awal hanya untuk memastikan kebersihan lapangan. Gotong royong itu mengalir tanpa banyak komando.
“Ini bukan hanya acara panitia, tapi milik bersama,” kata seorang warga yang sejak subuh sudah berada di lokasi.
Kehadiran Syafiq A. Mughni sebagai khatib juga menjadi magnet tersendiri. Bagi sebagian warga, ini adalah momen langka. Sebab, baru pertama kalinya tokoh dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah hadir langsung di tingkat ranting mereka. Tak heran jika antusiasme jamaah membludak, melampaui perkiraan panitia.
Namun di balik semua itu, ada satu benang merah yang mengikat: kekompakan. Koordinasi yang terjalin sejak awal, komunikasi yang cair antar panitia, serta semangat melayani tanpa pamrih menjadi fondasi utama kesuksesan.
Salat Idulfitri di Grabagan akhirnya bukan hanya tentang satu pagi yang khusyuk. Ia adalah hasil dari proses panjang, kerja sunyi, dan niat tulus banyak orang yang ingin menghadirkan yang terbaik bagi sesama.
Dan mungkin, di situlah makna Idulfitri menemukan wujud nyatanya—bukan hanya kembali suci secara pribadi, tetapi juga menghadirkan kebaikan bersama, bahkan sejak jauh sebelum takbir pertama dikumandangkan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments