Sabtu pagi, jauh sebelum acara dimulai, Yuda Panuluh sudah tiba di kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya. Sabtu (20/9/2025) hari itu adalah hari yang ia nantikan sekaligus ia khawatirkan: Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Angkatan XVI.
Berbekal semangat, Yuda mengenakan celana hitam dan kemeja putih. Rapi. Tapi ternyata pilihan kostum itu justru membuatnya terlihat mirip mahasiswa baru yang sedang mengikuti Masa Orientasi (MOX) di kampus yang sama.
Beberapa panitia bahkan sempat melirik, seolah ia salah ruangan. Ia pun tersenyum canggung, “Ah, salah kostum ternyata,” gumamnya dalam hati.
Meski demikian, Yuda tetap percaya diri. Sebagai peserta UKW baru, ia ingin menunjukkan kesungguhan. Datang lebih awal baginya adalah bentuk kesiapan mental. Aula masih lengang, tetapi degup jantungnya sudah kencang.
Hari pertama berjalan padat. Mulai dari pengantar kode etik jurnalistik, hukum pers, hingga simulasi rapat redaksi. Namun pengalaman paling berkesan justru datang ketika ia harus membangun jejaring.
“Awalnya saya bingung, harus janjian dulu dengan siapa. Tapi ujian jejaring tiba-tiba dimajukan, dari jadwal semula pukul 19.00 menjadi pukul 16.00. Jadi saya harus cepat mencari kontak lain yang bisa dihubungi,” kenangnya.
Situasi mendadak itu membuat Yuda benar-benar diuji. Bukan hanya keterampilan teknis, tapi juga keluwesan komunikasi. Dari sana ia belajar, bahwa wartawan sejati memang dituntut untuk sigap menghadapi perubahan.
Meski sempat salah kostum, salah jadwal, hingga salah strategi jejaring, Yuda mengaku mendapatkan banyak pelajaran.
“UKW ini bukan cuma soal bisa nulis berita, tapi juga menakar diri: apakah saya pantas disebut wartawan?” ujarnya lirih usai sesi ujian.
Pengalaman pertamanya di UKW diwarnai cerita kecil yang kelak mungkin ia kenang dengan senyum.
Namun dari ruang ujian itu, Yudha membawa pulang satu keyakinan besar: wartawan harus independen, beretika baik, dan siap dengan segala dinamika lapangan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments