Pasar saham Indonesia belakangan ini sedang tidak baik-baik saja. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas, bahkan sempat menyentuh trading halt (penghentian sementara) karena penurunan drastis.
Di tengah kepanikan ini, satu nama lembaga riset global mencuat sebagai pemicu: MSCI (Morgan Stanley Capital International).
Mereka mengeluarkan laporan negatif tentang pasar Indonesia yang memicu aksi jual massal.
Namun, jika kita telisik lebih dalam menggunakan pisau analisis ekonomi-politik, ada aroma yang tercium dari balik runtuhnya etika keuangan yang disebut “Chinese Firewall”.
Apa Itu Chinese Firewall?
Dalam dunia keuangan, ada sebuah prinsip suci bernama “Chinese Firewall” atau Tembok China. Ini bukan tembok raksasa di Beijing, melainkan tembok etika yang memisahkan divisi riset (ekonom) dengan divisi trading (pedagang) dalam satu lembaga keuangan.
Tujuannya sederhana: agar riset yang dihasilkan murni objektif, tidak disetir oleh kepentingan pedagang yang ingin mencari untung.
Dulu, MSCI adalah bagian dari Morgan Stanley. Namun, karena skandal dot-com bubble di Amerika Serikat membuktikan adanya “perselingkuhan” antara riset dan trading, MSCI akhirnya dipisahkan (spin-off) menjadi perusahaan mandiri.
Tujuannya agar pasar percaya bahwa riset mereka independen. Secara teori, MSCI kini berdiri sendiri sebagai lembaga riset murni, terpisah dari bank atau pengelola dana.
Wasit yang Dimiliki Pemain
Namun, Yanuar Rizky (Channel) membongkar fakta yang MSCI: kemandirian itu hanyalah gambaran ilusi.
Siapa pemilik saham terbesar MSCI saat ini? Ternyata, pemegang saham pengendali di atas 5% adalah raksasa Hedge Fund dunia seperti Vanguard dan BlackRock.
Ironisnya, BlackRock dan Vanguard ini jugalah klien terbesar yang membeli produk riset MSCI.
Di sinilah “Tembok Cina” itu berjalan. Logika sederhananya, jika Anda membeli riset sekaligus memiliki perusahaannya, apakah Anda tidak bisa “memesan” hasil risetnya?
Yanuar menyebut ini sebagai konflik kepentingan yang nyata. Para Hedge Fund ini menggunakan MSCI sebagai alat untuk melegitimasi pergerakan pasar yang mereka inginkan.
Mereka bukan lagi sekadar pengguna data, tetapi “bandar” yang bisa mengatur kapan isu negatif dilemparkan ke pasar.
Menggoreng Isu, Menuai Cuan
Mengapa mereka melakukan ini? Jawabannya klasik: Cuan. Di tengah ekonomi global yang lesu dan dividen perusahaan yang menurun, para Hedge Fund butuh “keuntungan teknikal” dari trading.
Untuk mendapat untung dari trading, mereka butuh ombak yang besar atau volatilitas tinggi. Modusnya terbaca jelas dan terpola.
MSCI melempar isu negatif seperti masalah transparansi free float saham di Indonesia pada momen-momen krusial.
Yanuar mengakui bahwa informasi MSCI itu valid dan benar, tetapi ia mempertanyakan timing-nya. MSCI sudah tahu masalah ini bertahun-tahun, tetapi mengapa baru dirilis sekarang saat pasar sedang di puncak?.
Jelas sekali tujuannya untuk menciptakan kepanikan. Ketika investor ritel panik dan menjual saham (cut loss), harga akan hancur.
Di saat itulah, para Hedge Fund ini masuk kembali untuk “nyerok” (mengambil kesempatan) barang di harga bawah.
Mereka menciptakan badai, lalu memungut puing-puingnya yang berharga murah.
Tameng Regulasi yang Sempurna
Kelicikan permainan ini terletak pada bagaimana mereka menggunakan laporan MSCI sebagai “tameng regulasi”.
Otoritas bursa biasanya akan menghentikan perdagangan (suspend) jika saham jatuh tanpa sebab.
Namun, karena kejatuhan ini didasari oleh laporan riset MSCI yang dianggap valid, otoritas tidak bisa berbuat apa-apa.
Laporan riset itu menjadi alibi sempurna bagi Hedge Fund untuk menghancurkan harga pasar tanpa melanggar aturan bursa.
Posisi Indonesia di Kandang Singa
Posisi Indonesia dalam drama ini sangat lemah. Yanuar menyebut kita sebagai sasaran empuk karena otoritas kita tidak punya nyali untuk memeriksa raksasa global ini.
MSCI berani menekan Indonesia untuk transparan soal kepemilikan saham, tetapi tidak ada yang berani menuntut balik agar Hedge Fund membuka data siapa nasabah di balik uang-uang panas tersebut.
Kita sedang menghadapi “Serigala Berbulu Domba”. Mereka datang seolah sebagai investor berjas dan berdasi, padahal sedang memainkan isu untuk mengeruk kekayaan pasar kita lewat volatilitas.
Selama otoritas kita masih silau dengan nama besar asing dan takut menegakkan “Tembok Cina” yang sesungguhnya, pasar modal kita hanya akan terus menjadi mesin uang bagi para bandar global.
Sudah saatnya kita sadar, ini bukan sekadar koreksi pasar, ini adalah perampokan legal yang terstruktur. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments