Silaturahmi guru dan karyawan beserta keluarga SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya angkatan ketiga kembali digelar pada Sabtu (17/1/2026).
Dalam kesempatan ini, para peserta mengikuti kajian tentang lima tanda mukmin sejati.
Agenda rutin yang dibarengi arisan keluarga tersebut menjadi salah satu program unggulan SD Musix untuk mempererat hubungan kekeluargaan antar guru dan karyawan. Kegiatan ini dilaksanakan secara bergiliran dari rumah ke rumah.
Acara yang dipandu oleh Guru kelas 1-A, Hafshoh, S.Pd., ini diawali dengan pembacaan tilawah Al-Qur’an oleh Muhammad Zidan Al Makkah, siswa kelas 5-ICP.
Sambutan pertama disampaikan oleh Kaur Personalia sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SD Musix, Puspitawati. Ia menyampaikan salam dari Kepala SD Musix, Munahar, S.H.I., M.Pd., yang saat ini masih menjalankan ibadah umrah di Tanah Suci.
“Dengan kegiatan ini, kita bisa saling mengenal keluarga besar guru dan karyawan, bukan hanya teman kerja di sekolah,” ujarnya.
Sebagai tuan rumah, Achmad Bayu Pradana, S.T., suami dari Astri Wulandari, guru kelas 4-ICP, menyampaikan selamat datang dan memperkenalkan diri.
Ia turut menuturkan bahwa keluarganya tinggal bersama istri, ibu mertua, dan calon buah hatinya yang tengah dikandung sang istri.
Hadir sebagai narasumber Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Drs. H. Suhadi M. Sahli, M.Ag.
Ia membuka tausiah dengan membacakan QS. Al-Anfal ayat 2 yang menjelaskan sifat-sifat orang mukmin.
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ ۙ.
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah (kuat) iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.
“Berdasarkan ayat ini, terdapat beberapa ciri mukmin sejati,” jelasnya.
Ia kemudian mengupas lima ciri mukmin sejati, yakni:
1. Hati bergetar saat nama Allah disebut, dan segera merespons panggilan-Nya, seperti bersegera menunaikan salat ketika mendengar azan.
2. Iman bertambah ketika mendengar ayat-ayat Allah, baik ayat qauliyah (tertulis dalam Al-Qur’an) maupun qauniyah (yang tampak dalam ciptaan-Nya).
3. Hanya bergantung kepada Allah, tidak berharap kepada selain-Nya, serta menjauhi segala bentuk kemusyrikan.
4. Tidak meninggalkan salat dalam kondisi apa pun, meski dalam kesibukan.
5. Gemar berinfak, baik melalui harta maupun kontribusi berupa ilmu dan tenaga.
Ia juga menegaskan bahwa guru memiliki keistimewaan dalam amalan jariah karena ilmu yang diajarkan akan terus mengalirkan pahala selama digunakan oleh murid-muridnya.
Mengutip hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menutup tausiah dengan pesan agar setiap muslim memperbanyak amal kebaikan yang manfaatnya terus berlangsung.
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang saleh
Ramah tamah sebagai penutup acara diisi dengan menikmati hidangan istimewa berupa sate ayam, kikil sapi, capcai, dan minuman segar. Tidak lupa, setiap tamu yang hadir juga mendapatkan souvenir sebagai kenang-kenangan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments