Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Cita-Cita Dirikan Kampung Muhammadiyah di Pusat Kota Surabaya

Iklan Landscape Smamda
Cita-Cita Dirikan Kampung Muhammadiyah di Pusat Kota Surabaya
Azrohal Hasan menyampaikan narasi awal dalam acara Muhammadiyah Historical Walk, Ahad (9/11/2025). Foto: Agus Budiman/PWMU.CO
pwmu.co -

Jalan Genteng Muhammadiyah bukan sekadar nama jalan di tengah hiruk-pikuk pusat Kota Surabaya. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang dakwah dan pendidikan Muhammadiyah di kota ini.

Di balik lalu lintas padat dan gedung-gedung modern, tersimpan jejak perjuangan yang layak dihidupkan kembali—sebagai cita-cita besar, yakni menjadikan kawasan ini sebagai Kampung Muhammadiyah.

Hal ini disampaikan oleh sejarawan sekaligus Redaktur Pelaksana PWMU.CO, Azrohal Hasan, M.Hum, saat membuka kegiatan Muhammadiyah Historical Walk Tunjungan Edition, Ahad (9/11/2025).

Kegiatan dalam rangla Milad ke-113 Muhammadiyah itu, mengajak peserta menelusuri kembali jejak dakwah Muhammadiyah di pusat kota, khususnya di kawasan Genteng dan Tunjungan, yang sejak masa kolonial telah menjadi pusat pergerakan sosial dan ekonomi.

Menurut Azrohal, Kecamatan Genteng telah lama menjadi simbol kemajuan kota. Namun, di balik citra metropolis itu, tersimpan nilai spiritual dan sosial yang tak ternilai, yakni warisan dakwah Muhammadiyah.

“Nama Jalan Genteng Muhammadiyah bukan sekadar papan nama. Ia adalah penanda sejarah perjuangan, tempat di mana Muhammadiyah membangun peradaban pendidikan di jantung kota,” ungkapnya.

Jejak itu berawal dari Kampung Peneleh, tempat KH Ahmad Dahlan bertemu dengan HOS Tjokroaminoto. Pertemuan dua tokoh besar itu melahirkan semangat kebangsaan dan dakwah yang kemudian menumbuhkan generasi penerus seperti Ir. Soekarno dan KH Mas Mansyur.

Dari Peneleh, perjalanan dakwah Muhammadiyah berlanjut ke Jalan Genteng Schout (kini Jalan Genteng Muhammadiyah). Di tempat inilah, pada tahun 1928, berdiri HIS Muhammadiyah, sekolah modern pertama Muhammadiyah di Surabaya, setelah sebelumnya berlokasi di Peneleh Gang 7. Sejak saat itu, kawasan Genteng menjadi pusat dakwah dan pendidikan Muhammadiyah di kota ini.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kini, dua amal usaha Muhammadiyah tetap berdiri kokoh di kawasan itu: SMP Muhammadiyah 2 dan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Namun, seiring perkembangan kota, semangat untuk menjadikan kawasan ini sebagai kampung dakwah mulai meredup, tergeser oleh tingginya nilai tanah dan derasnya arus urbanisasi.

Padahal, cita-cita itu pernah diimpikan oleh Ir. Sudarusman, salah seorang tokoh Muhammadiyah yang pernah menjadi Kepala SMP Muhammadiyah 2 dan Kepala SMA Muhammadiyah 10,  di kawasan ini akan lahir Kampung Muhammadiyah.

“Kampung Muhammadiyah” yang dia maksudkan adalah kawasan di mana nilai-nilai Islam berkemajuan hidup berdampingan dengan dinamika kota modern. Sebuah lingkungan yang memadukan masjid, sekolah, panti asuhan, rumah kader, dan ruang-ruang publik berbasis dakwah dan pelayanan umat.

Cita-cita itu memang belum terwujud. Namun, melalui kegiatan Historical Walk kali ini, semangat itu kembali mengemuka. Para peserta tidak hanya menapaki sejarah, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk meneruskan perjuangan dakwah Muhammadiyah di tengah modernitas kota.

“Kita tidak sekadar mengenang masa lalu, tapi memetik semangatnya untuk membangun masa depan. Jika dahulu Genteng Muhammadiyah menjadi pusat pendidikan dan pencerahan, maka sudah saatnya kita hidupkan kembali semangat itu dengan mewujudkan Kampung Muhammadiyah di Surabaya,” terang Azrohal.

Cita-cita itu bisa menjadi simbol dakwah urban Muhammadiyah, sebuah oase nilai-nilai Islam berkemajuan di tengah gemerlap kota metropolitan. Di sinilah sejarah, budaya, dan dakwah berpadu menjadi satu kesatuan yang hidup dan relevan bagi generasi kini. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu