
Oleh: Ma’mun Murod Al-Barbasy – Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta
PWMU.CO – Baladinisia, sebut saja nama sebuah negeri imaginer di jazirah Arab. Dalam sejarahnya Baladinisia pernah berhasil melakukan lompatan perubahan yang sangat membanggakan.
Sebelumnya, Baladinisia dikenal sebagai negeri yang gelap (mudzlim) lantaran praktik kedzaliman dalam segala bentuknya hadir di seluruh ruang publik. Kejahatan ekonomi, politik, dan hukum seakan menjadi ornamen keseharian praktik pemerintahan di Baladinisia.
Para pejabatnya korup, yang ditandai dengan praktik korupsi merajalela dari pusat sampai daerah. Hukum sebagai panglima sebatas slogan. Realitanya, hukum diperjualbelikan sedemikian rupa.
Dalam setiap pembahasan undang-undang, nyaris tak ada satu pun pasal yang luput dari transaksi. Praktik ekonomi berpihak pada kalangan terbatas (kaum oligarki) dan sebaliknya, masyarakat kebanyakan (mayoritas) teralienasi dan menjadi kaum miskin struktural (mustadzafín).
Namun dalam perjalanan waktu, Baladinisia berubah menjadi negeri yang terang (munawar, mudhi’) atau al-Qur’an menyebutnya sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafùr. Hadir kebijakan ekonomi yang memberdayakan dan berpihak kepada kaum mayoritas, angka korupsi berhasil ditekan sedemikian rupa.
Untuk membuat efek jera, para koruptor dijatuhi hukuman mati. Bahkan, sebagian koruptor ada yang sengaja dijadikan santapan harimau-harimau di kebun binatang terbesar di Baladinisia: Bustan al-Safri.
Siapa faktor penentu perubahan tersebut? Tak lain adalah Presiden Azizi, yang berhasil memenangkan pemilihan presiden (Pilpres) yang penuh kecurangan, setelah sebelumnya dua kali ikut Pilpres.
Sebelum terpilih sebagai presiden, Azizi dikenal sebagai mantan petinggi pasukan elit, sejenis Kopassus. Azizi yang juga dikenal sebagai militer-intelektual, sejak muda dikenal idealis dan mempunyai watak nasionalisme yang tinggi.
Selepas pensiun dari pasukan elit, Azizi memutuskan memasuki dunia politik. Darah politik tampaknya mengalir dari bapaknya yang semasa hidupnya pernah aktif di salah satu partai politik.
Azizi sangat serius memasuki dunia politik. Niatnya hanya satu: Memperbaiki Baladinisia. Berbekal kemampuan yang dimilikinya, Azizi sangat yakin akan mampu memperbaiki kondisi Baladinisia.
Akhirnya, setelah mengikuti Pilpres untuk ketiga kalinya Azizi berhasil menang secara mayoritas, mengalahkan dua kandidat lainnya.
Layaknya Pilpres yang selama ini berlangsung di Baladinisia, ada tiga kelompok strategis yang dinilai bisa “mengatur” kemenangan seorang kandidat presiden: kalangan oligark ekonomi dengan kekuatan fulus-nya; Wikalah al-Syurtiyyun sejenis kepolisian dengan kekuatan sebagai penegak hukum yang jangkauan kuasanya sangat luas hingga ke desa-desa.
Dan terakhir, lembaga survei yang dalam beberapa kali Pilpres di Baladinisia posisinya sangat menentukan. Bahkan, bisa mengatur kemenangan seorang kandidat presiden. Dan tak bisa dipungkiri, terpilihnya Azizi juga termasuk berkat jasa tiga kelompok strategis tersebut.
Info terbatas yang diperoleh dari kalangan Istana, Azizi sebenarnya sangat tidak nyaman dengan proses kemenangannya yang tidak fair, penuh kecurangan. Karenanya Azizi bertekad “membalasnya” dengan membuat “paket kebijakan politik” yang demokratis dan bertekad menciptakan pemilu yang fair dengan mempercepat pelaksaaan Pilpres.
Bukan hanya itu, Azizi juga berniat untuk memarjinalkan peran kaum oligark hitam yang selama ini hanya menjadi benalu dan beban bagi Baladinisia, mengontrol ketat keberadaan lembaga survei, dan melakukan reformasi total di kepolisian.
Memarjinalkan Benalu Negeri
Menyadari bahwa masalah yang dihadapi Baladinisia sangat kompleks, setelah dilantik Presiden Azizi melakukan langkah-langkah politik taktis, tegas namun sangat terukur.
Mula pertama Azizi memanggil dan mengajak bicara dua jenderal bintang dua, sebut saja Mayjen Hamzah dari pasukan khusus (sejenis Kopassus) dan Irjen Bilal dari Brigade Bergerak (sejenis Brimob). Keduanya dinilai Azizi sebagai dua jenderal yang relatif bersih.
Dalam perbincangan tersebut, Azizi menyatakan akan menjadikan keduanya masing-masing sebagai Panglima Tentara Baladinisia dan Kepala Kepolisian Baladinisia, dengan tugas utama mem-backup kebijakan Azizi, terutama terkait upaya “bersih-bersih” di Baladinisia.






0 Tanggapan
Empty Comments