Sebagai pamungkas, sambutan Pimpinan Muhammadiyah Ranting Sukolilo, Bapak Abdul Rahman. Dalam sambutannya Bapak Abdul Rahman menekankan pentingnya kader IMM dalam menjaga nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah di tengah dinamika kehidupan kampus dan masyarakat.

Sebagai materi utama pengkaderan, pada sesi pertama membahas materi keislaman oleh Bapak Asep Budi Yanto. Materi keislaman ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai Islam sebagai sistem kehidupan (way of life). Serta menanamkan kesadaran akan peran kader IMM dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam di berbagai ranah kehidupan. Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti post-test guna mengukur pemahaman mereka terhadap materi.
Pada hari kedua, Sabtu (22/02/2025) memulai kegiatan dengan shalat Subuh berjamaah. Kemudian berlanjut dengan forum IOT (Instruktur Of Training) yang berisi sesi hafalan ayat-ayat tertentu dari Al-Quran oleh peserta. Usai forum ini, peserta langsung bersiap-siap mengikuti materi kedua tentang Kemuhammadiyahan. Materi kedua ini terkait sejarah, ideologi, serta peran Muhammadiyah dalam dinamika sosial-keagamaan di Indonesia, oleh Bapak Azrohal Hasan. Setelah penyampaian materi, berlanjut ke sesi Focus Group Discussion (FGD) untuk memperdalam pemahaman mereka melalui diskusi kelompok.

Usai pemaparan materi kemuhammadiyahan, peserta memanfaatkan untuk istirahat, sholat, dan makan (ishoma), sekaligus persiapan ke materi Manajemen Organisasi. Materi ketiga ini oleh Immawati Rada Annisa ini tujuannya untuk membekali peserta dengan keterampilan dasar dalam mengelola organisasi secara efektif.
Sedang materi keempat oleh Immawan Nur Cholis, membahas tentang Gerakan Mahasiswa. Materi ini peserta melatih diri untuk mengkritisi perubahan gerakan mahasiswa dari waktu ke waktu dan memberi rekomendasi ke ranah gerakan rakyat supaya gerakan akademis lebih inklusif terhadap seluruh identitas kelas dalam masyarakat sipil.
Dan pada sesi materi terakhir dalam prosesi DAD ini, peserta mendapatkan materi mengenai Ke-IMM-an dari Immawan Fadhil Fatchurrohman. Materi ini merupakan upaya untuk mengenalkan lebih dalam mengenai sejarah, nilai-nilai dasar, serta strategi gerakan IMM dalam membangun kader yang unggul secara intelektual dan spiritual.
Pada hari ketiga atau hari terakhir, dini hari sekitar pukul 01.30 WIB, peserta mengikuti sesi deep talk. Sesi ini menjadi ruang bagi mereka untuk menyampaikan berbagai pertanyaan, pengalaman, serta refleksi selama mengikuti DAD. Pada sesi ini Badan Pengurus Harian (BPH) Pimpinan Komisariat Yustisia bertindak sebagai mentor sekaligus pendamping peserta.
Setelah sesi deep talk, peserta selanjutnya menuju prosesi pengukuhan kader. Dalam prosesi ini, setiap calon kader mendapatkan satu lilin sebagai simbol penerangan dan harapan. Mereka kemudian mengucapkan Ikrar Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Ikrar ini sebagai komitmen mereka untuk mengemban amanah sebagai kader IMM yang siap berkontribusi dalam dakwah dan perjuangan intelektual. Melalui pembinaan intensif selama tiga hari, selain mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang Keislaman, Kemuhammadiyahan, dan Gerakan Mahasiswa. Peserta juga menginternalisasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan akademik dan sosial mereka.
IMM sebagai ortom Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam mencetak kader yang berintegritas, progresif, dan berkomitmen terhadap perjuangan dakwah Islam, khususnya di lingkungan akademis. Oleh karena itu, harapan dari penanaman nilai melalui DAD ini tidak hanya menjadi bekal intelektual, tetapi juga membentuk karakter kader yang siap menghadapi tantangan zaman.
Sebagaimana pesan KH. Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”, maka setiap kader IMM harus memiliki jiwa pengabdian yang tulus dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya. Dengan semangat “In Harmonia Progressio”, kader IMM seyogyanya dapat senantiasa menjaga keselarasan dan kebersamaan dalam mencapai kemajuan, baik dalam ranah akademik, sosial, maupun dalam perjuangan keumatan. IMM tidak hanya mencetak mahasiswa yang unggul secara akademik, tetapi juga individu yang memiliki kepedulian, keberanian, dan kesadaran untuk berperan aktif dalam menciptakan perubahan yang lebih baik. Menjadi kader IMM bukan hanya soal identitas, melainkan juga soal tanggung jawab. Kini, tugas mereka adalah membuktikan bahwa nilai-nilai yang telah didapatkan selama DAD dapat benar-benar diterapkan dalam kehidupan nyata. Perjalanan sebagai kader baru saja dimulai. Fastabiqul Khairat!
Penulis Gemala Tazniem Rofik, Editor Notonegoro






0 Tanggapan
Empty Comments