Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dahnil Anzar, Wamen Haji dan Umrah di Mata Saya: Harapan Baru untuk Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Dahnil Anzar, Wamen Haji dan Umrah di Mata Saya: Harapan Baru untuk Indonesia
Dahnil Anzar Simanjuntak didampingi istri usai pelantikan sebagai Wamen Haji dan Umrah di Jakarta (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Muhammad Syaikhul Islam Sekretaris Bidang Pendidikan PB Matahari Pagi Indonesia (MPI)
pwmu.co -

Pelantikan Dr H Dahnil Anzar Simanjuntak, SE ME — sahabat saya yang akrab disapa Bang Anin — sebagai Wakil Menteri Haji dan Umrah oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (8/9/2025) di Istana Merdeka Jakarta adalah peristiwa penting bagi umat Islam Indonesia.

Bersama Menteri Haji dan Umrah, M Irfan Yusuf (Gus Irfan), Bang Anin kini memikul amanah besar yang menyangkut ibadah paling agung dalam rukun Islam kelima yakni haji.

Sebagai negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia, posisi Indonesia sangat strategis. Penyelenggaraan haji bukan hanya soal teknis keberangkatan dan pelayanan jemaah, tetapi juga memiliki dimensi sosial, ekonomi, dan peradaban. Inilah yang coba ditangkap oleh Bang Anin melalui konsep yang ia gagas bersama timnya: “tiga sukses haji”, sukses ibadah, sukses ekonomi, dan sukses peradaban.

Haji merupakan perjalanan ruhani yang menjadi puncak ibadah seorang Muslim. Bagi jutaan umat, momen wukuf di Arafah, thawaf mengelilingi Ka’bah, hingga melontar jumrah di Mina merupakan pengalaman spiritual yang tak ternilai. Oleh karena itu, dimensi ibadah harus senantiasa menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan haji.

Bang Anin meyakini, pelayanan haji tidak boleh sekadar administratif. Kementerian Haji dan Umrah harus memastikan bahwa jemaah mendapatkan bimbingan yang baik, pendampingan yang memadai, serta fasilitas yang menunjang kekhusyukan ibadah. Setiap detail pelayanan adalah bagian dari amanah besar yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Haji sebagai Lokomotif Ekonomi Umat

Namun, lebih jauh dari sekadar ibadah, haji juga memiliki dimensi ekonomi yang sangat besar. Setiap tahun, triliunan rupiah mengalir dalam penyelenggaraan haji, mulai dari biaya perjalanan, akomodasi, konsumsi, hingga kebutuhan perlengkapan jemaah.

Jika dikelola dengan baik, potensi ini bisa menjadi lokomotif ekonomi umat. UMKM dapat dilibatkan dalam pengadaan perlengkapan haji, industri halal bisa dikembangkan, dan dana haji bisa dioptimalkan secara produktif dengan prinsip syariah. Inilah yang sering ditekankan Bang Anin: haji bukan hanya soal ritual, tetapi juga bisa menjadi sarana pemberdayaan ekonomi rakyat dan atau umat.

Saya masih ingat bagaimana dalam beberapa kunjungan kerja, Bang Anin memilih makan di warung dan depot lokal. Sederhana, tetapi bermakna. Baginya, dukungan nyata terhadap UMKM adalah bagian dari strategi besar: ekonomi umat tidak boleh terpinggirkan. Jika pola ini diterapkan dalam skala besar di penyelenggaraan haji, maka manfaatnya akan sangat luas.

Dimensi ketiga adalah yang paling visioner: haji sebagai momentum membangun peradaban. Haji merupakan pertemuan tahunan terbesar umat Islam di dunia. Jutaan Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di satu tempat, pada waktu yang sama, mengenakan pakaian ihram yang seragam.

Indonesia, dengan jemaah terbanyak, memiliki peluang besar untuk memainkan peran strategis. Kita bisa menunjukkan wajah Islam Indonesia yang moderat, ramah, dan rahmatan lil ‘alamin. Melalui diplomasi haji, Indonesia dapat memperkuat jaringan dengan dunia Islam, sekaligus menyumbang gagasan besar bagi peradaban Islam global.

Inilah yang dimaksud Bang Anin dengan “sukses peradaban”. Haji bukan hanya soal melaksanakan kewajiban, tetapi juga momentum meneguhkan peran umat Islam Indonesia di panggung dunia.

Pemimpin yang Mau Turun ke Lapangan

Tentu gagasan besar ini membutuhkan pemimpin yang mau bekerja keras, belajar, dan turun langsung ke lapangan. Di sinilah saya percaya pada kapasitas Bang Anin. Rekam jejaknya telah menunjukkan komitmen dan kemampuan untuk mewujudkan visi besar tersebut.

Di musim haji 2025 lalu, ia tidak hanya duduk di ruang rapat atau memberi arahan dari kejauhan. Ia benar-benar hadir di tengah jemaah. Saya masih teringat momen ketika ia terekam menggendong seorang jemaah haji yang kelelahan dalam perjalanan dari tenda Mina menuju Jamarat. Itu bukan pencitraan, melainkan ekspresi tulus kepedulian seorang pemimpin.

Sikap seperti ini menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan umat. Publik butuh pejabat yang tidak sekadar mengatur, tetapi benar-benar hadir merasakan penderitaan dan kebutuhan masyarakat.

Harapan dan Jalan Panjang ke Depan

Tantangan penyelenggaraan haji tidak kecil: antrean panjang daftar tunggu, biaya haji yang terus meningkat, layanan yang harus ditingkatkan, hingga pengelolaan dana haji yang transparan. Semua ini menuntut keberanian, integritas, dan visi jangka panjang.

Namun saya yakin, bersama Gus Irfan, Bang Anin mampu melangkah maju. Keduanya adalah kombinasi ideal: pengalaman pesantren dan jaringan kultural Gus Irfan dipadukan dengan kapasitas intelektual, komunikasi, dan gerakan Bang Anin. Jika sinergi ini berjalan baik, maka wajah baru penyelenggaraan haji akan segera terlihat.

Haji adalah ibadah suci, sekaligus momentum ekonomi, dan titik temu peradaban. Konsep tiga sukses yang dibawa Bang Anin adalah formula yang bukan hanya realistis, tetapi juga visioner.

Penulis bersama Dahnil Anzar Simanjuntak (Istimewa/PWMU.CO)

Sebagai sahabat, saya merasa bangga sekaligus optimis. Saya percaya, Bang Anin akan menunaikan amanah ini dengan integritas dan dedikasi penuh. Semoga Allah memberi kekuatan kepada kedua nahkoda tersebut dalam memimpin Kementerian Haji dan Umrah.

Bagi umat Islam Indonesia, inilah saatnya menaruh harapan baru: haji yang lebih baik, lebih bermartabat, dan lebih berperadaban, InsyaAllah. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu