
PWMU.CO – Dakwah bukan sekadar ceramah di mimbar masjid. Bukan pula hanya berbentuk pengajian dari kampung ke kampung. Di era ketika algoritma media sosial lebih berpengaruh daripada khutbah Jumat, dakwah Islam menghadapi tantangan eksistensial: menjadi mercusuar di tengah badai informasi atau tenggelam dalam pusaran konten viral yang kerap merusak akidah.
Data mengejutkan dari Digital Islamic Education Report (2024) menyebutkan bahwa 68% generasi muda Muslim lebih sering belajar agama dari TikTok dan YouTube daripada mendatangi ulama resmi. Ini bukan sekadar perubahan medium, tapi pertanda terjadinya krisis otoritas keagamaan yang berpotensi mengakibatkan pemahaman Islam tercabik-cabik oleh algoritma.
Ini adalah fakta: bahwa konten dakwah dengan narasi sensasional — seperti: Artis X masuk neraka karena gaya hidupnya — mendapat engagement 10 kali lebih banyak daripada ceramah sistematis tentang tauhid. Survei Pusat Studi Islam Moderat (2023) mengungkapkan bahwa 53% anak muda lebih mempercayai ustaz viral di media sosial, meskipun latar belakang pendidikannya tidak jelas. Di sinilah letak bahaya laten itu: ketika mengukur kebenaran agama dari seberapa sering ia menjadi trending topic, bukan dari kedalaman ilmu dan integritas keilmuan.
Namun kita tidak lazim hanya menyalahkan teknologi sebagai pangkal persoalan. Problematika yang sesungguhnya justru terletak pada kegagapan umat Islam dalam menguasai revolusi digital. Sementara kelompok radikal dengan lihai memanfaatkan platform seperti Telegram dan Twitter untuk menyebarkan narasi eksklusif. Sisi lain, masih banyak dai-dai tradisional-konvensional yang masih berkutat dengan metode lama tanpa adaptasi. Akibatnya, ruang digital penuh dengan konten yang either terlalu kaku (hingga tidak menarik) atau terlalu cair (hingga menyesatkan).
Di balik tantangan ini, sesungguhnya tersimpan peluang besar. Dakwah digital yang cerdas bisa menjadi tameng terhadap upaya-upaya untuk menciptakan perpecahan sosial. Contoh nyata terjadi di Filipina Selatan, Gerakan #PeacefulUmmah ternyata berhasil menurunkan radikalisme pemuda Muslim sebesar 40% melalui kampanye konten kreatif di Instagram dan Spotify. Di Indonesia, ada kelompok bernama Islam That Makes Sense yang menjadikan filsafat Islam yang rumit menjadi renyah karena kolaborasi dengan thread Twitter, tanpa mengurangi kedalaman makna.
Mari kita jadikan dakwah hari ini sebagai bentuk jihad literasi.
Saatnya kita tidak hanya berdakwah, tapi juga menjadi pelita di tengah banjir informasi. Caranya?
- Rangkul medium baru – Jika generasi muda ada di TikTok, mari hadirkan konten tauhid yang kreatif dan membumi di sana.
- Lawan hoaks dengan data – Jangan sembarangan membagikan klaim agama. Setiap hadis harus terverifikasi sebelum viral.
- Jaga semangat moderasi – Di tengah era polarisasi, biarkan dakwah kita menjadi penyejuk, bukan pemicu perpecahan.
Kita sedang berada di persimpangan: apakah dakwah akan menjadi alat perekat pemersatu atau sebaliknya menjadi penyulut perpecahan? Penentunya bukan pada teknologi, tapi pada mentalitas dai-dai jaman now. Musuh terbesar umat Islam saat ini bukan agama lain, tapi ketidakberdayaan umat dalam membedakan ilmu dan ilusi.
Jika kita gagal beradaptasi, bersiaplah menyambut generasi Muslim yang kenyang konten, tapi lapar makna—rabun terhadap ilmu, karena disuapi narasi instan tanpa landasan. Dakwah hari ini bukan sekadar urusan menyelamatkan iman individu, tapi menyelamatkan peradaban dari ancaman amnesia kolektif.
Di era digital, dakwah bukan lagi pilihan, melainkan keharusan yang menuntut strategi baru. Tantangannya bukan hanya menyampaikan kebenaran, tapi menyaingi derasnya arus disinformasi yang diproduksi dan disebar oleh mesin viral. Jika para ulama dan dai enggan memasuki gelanggang algoritma, ruang-ruang digital akan dikuasai oleh “ustadz sensasional”—yang lebih mementingkan jumlah likes ketimbang akurasi dalil. Ini bukan sekadar krisis konten, tapi krisis otoritas keagamaan yang serius. Kita bisa saja melihat generasi Muslim yang fasih berdebat di kolom komentar, tapi gagap ketika berhadapan dengan kedalaman khazanah keilmuan Islam.
Dari semua tantangan yang ada, tentu ada peluang untuk menjadikan dakwah sebagai kekuatan pemersatu di tengah masyarakat yang kian terfragmentasi. Kolaborasi ilmu tradisional dengan kecanggihan digital harus dilakukan. Juru dakwah harus berani keluar zona melalui kreativitasnya — tanpa mengorbankan validitas. Misi terbesar dakwah bukan hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga menjaga martabat ilmu agama dari gerusan budaya instan dan sensasionalisme.***
Editor Notonegoro






0 Tanggapan
Empty Comments