Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Danish, Murid Disabilitas yang Menginspirasi di Upacara Bendera SD Mugres

Iklan Landscape Smamda
Danish, Murid Disabilitas yang Menginspirasi di Upacara Bendera SD Mugres
M. Danish Aniq, murid SD Mugres dengan disabilitas daksa saat membacakan teks Janji Pelajar Muhammadiyah dengan tegas. Foto: Abizar Purnama/PWMU.CO.
pwmu.co -

Senin pagi (29/09/2025), sinar matahari menyapa hangat Lapangan AR Fakhruddin Square, SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A. Seperti biasa, derap langkah pasukan pengibar bendera dari siswa kelas 5 membuka upacara dengan disiplin dan semangat membara.

Namun, ada yang istimewa dari upacara pagi itu. Di antara deretan petugas upacara, berdiri tegap seorang siswa yang menarik perhatian banyak pasang mata.

Namanya Muhammad Danish Aniq. Ia bukan petugas pengibar bendera ataupun pemimpin barisan, tetapi pagi itu, Danish, siswa kelas 5 dengan disabilitas daksa, mendapatkan kehormatan sebagai pembaca Janji Pelajar Muhammadiyah.

Bagi sebagian orang, menjadi petugas upacara mungkin terasa biasa saja, tetapi bagi Danish, hari itu adalah panggung keberanian.

Sejak usia empat tahun, Danish harus kehilangan satu kakinya akibat kecelakaan. Sebuah pengalaman yang tidak mudah bagi anak seusianya. Namun, keterbatasan itu tak pernah memadamkan semangatnya. Justru dari sanalah tekadnya tumbuh.

“Awalnya saya takut tidak bisa, tapi teman-teman memberi semangat. Saya ingin mencoba seperti yang lain,” ujarnya dengan senyum malu-malu setelah upacara.

Penugasan sebagai Paskibra ini merupakan pengalaman perdana bagi siswa-siswa kelas 5. Sebanyak 22 murid terlibat sebagai petugas upacara, mulai dari pengibar bendera, pembaca teks UUD 1945, pemimpin upacara, hingga berbagai posisi lainnya.

Mereka menjalani latihan intensif sebanyak delapan kali pertemuan selama sebulan terakhir, di bawah bimbingan pelatih Paskibra sekolah.

Pelatih Paskibra SD Mugres Kampus A, Setia Rakhmadi, S.T., dalam arahannya menekankan bahwa kesempatan tampil diberikan kepada semua siswa tanpa pengecualian, termasuk bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

“Kami ingin anak-anak belajar arti sejati dari kerja sama dan keberanian. Dalam sebuah tim, tidak ada perbedaan, semua memiliki peran dan tanggung jawab yang sama,” jelasnya.

Bagi Danish, latihan bukanlah hal yang mudah. Meski menggunakan kursi roda, ia tetap harus menyesuaikan tempo berdiri dan postur saat berbaris. Beberapa kali, ia terlihat berusaha menjaga keseimbangannya.

Namun, alih-alih menyerah, Danish justru terus berusaha tetap tegak dan tegas dalam menjalankan tugasnya. Selama upacara, salah satu petugas, Alby Faroz Kenzio, bertugas membantu mendorong kursi roda Danish.

“Danish itu anak yang gigih. Dia tidak mau dikasihani. Katanya, kalau dia bisa belajar seperti teman-teman lain, kenapa harus menyerah?,” kata Alby Faroz Kenzio.

Sekolah Inklusif yang Memberi Ruang

Keterlibatan Danish dalam upacara menjadi bukti nyata komitmen SD Mugres Kampus A sebagai sekolah inklusif. Sekolah ini dikenal aktif dalam memberikan ruang bagi murid dengan kebutuhan khusus untuk ikut serta dalam kegiatan akademik maupun nonakademik.

Kepala SD Mugres, Luluk Subaidah, S.Pi., S.Pd., menegaskan bahwa inklusivitas bukan hanya slogan, melainkan bagian dari karakter pendidikan Muhammadiyah yang menekankan nilai keadilan, empati, dan kesetaraan.

“Kami berupaya agar setiap anak merasa diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Keberanian Danish menjadi pengingat bagi kita semua bahwa semangat dan tekad mampu melampaui batas fisik,” tuturnya.

Luluk juga menambahkan, pelibatan murid disabilitas dalam kegiatan upacara bukan semata simbol, melainkan bentuk pembelajaran bagi seluruh komunitas sekolah.

“Anak-anak belajar menghargai perbedaan secara nyata, bukan hanya lewat kata-kata,” lanjutnya.

Usai upacara, suasana kembali seperti biasa. Tak ada pengumuman khusus atau tepuk tangan meriah untuk Danish. Tak terdengar ucapan selamat dari pengeras suara, bahkan dari para guru yang lalu-lalang di halaman sekolah. Semuanya berjalan seolah momen itu tak pernah terjadi.

Namun mungkin justru di situlah letak nilai sebenarnya: pengakuan tanpa panggung, apresiasi tanpa sorotan. Sebab bagi Danish, pengakuan tertinggi bukanlah ucapan selamat, melainkan rasa bangga bahwa ia telah berhasil menaklukkan dirinya sendiri.

Luluk menceritakan bahwa saat Danish membacakan Janji Pelajar Muhammadiyah, setiap katanya terdengar mantap dan jelas. Ia melafalkannya dengan penuh penjiwaan, seolah ingin menunjukkan bahwa janji itu bukan sekadar hafalan, melainkan komitmen yang sungguh dijalani.

“Sebagian murid tampak memperhatikannya dengan rasa kagum. Beberapa guru bahkan menundukkan kepala, mungkin menyadari bahwa momen itu lebih dari sekadar upacara bendera, tetapi pelajaran hidup tentang keteguhan dan penerimaan,” sambungnya.

Program seperti ini diharapkan menjadi tradisi di SD Mugres. Tidak hanya untuk memperkuat karakter kedisiplinan dan cinta tanah air, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan dan keikhlasan.

“Semangat Danish adalah cermin dari nilai fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebajikan. Itulah semangat yang kami harapkan tumbuh di setiap murid SD Mugres,” pungkas Luluk.

Di bawah terik matahari yang kian meninggi, upacara itu berakhir tanpa gegap gempita. Namun, kisah kecil tentang seorang anak berkaki satu yang berdiri tegak di depan barisan, tetap membekas di hati siapa pun yang menyaksikannya. Sebab kadang, keberanian terbesar tidak lahir dari mereka yang sempurna, melainkan dari mereka yang tetap melangkah, meski dengan tertatih. (*)

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu