
PWMU.CO – Suasana haru menyelimuti acara Akhirussanah Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, Sabtu (14/6/2025).
Di antara deretan sambutan dan untaian doa, sebuah testimoni menyentuh hati disampaikan oleh wali santri, Ustadz Muhamad Mandom SSy SPdI.
Bertempat di halaman Al Mizan Putra, di hadapan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan Drs KH Shodikin MPd, para sesepuh, dan Badan Pembina, Mudir, serta ratusan santri dan wali santri, Ustadz Mandom membagikan kisah yang tak hanya menyentuh, tapi juga menggugah kesadaran kolektif tentang makna pendidikan dan perjuangan bersama.
“Hari ini adalah momen yang sangat istimewa. Terasa baru kemarin kami menghantar anak-anak kami di pintu gerbang pesantren ini dengan langkah yang goyah dan air mata yang jatuh perlahan, karena harus melepaskan mereka selama tiga bahkan enam tahun,” ujarnya dengan suara yang sempat tertahan.
Wali dari santri bernama Syifa ini melanjutkan, kini para santri telah berada di pintu gerbang baru menuju jenjang pendidikan berikutnya. Sebagai orang tua, dirinya tak bisa menyembunyikan rasa syukur dan kebanggaan.
“Kami melihat anak-anak kami tumbuh, berkembang, dan siap melanjutkan perjalanan hidupnya. Terima kasih kepada seluruh asatidzah dan para mujanib mujanibah yang telah membimbing mereka dengan sabar dan penuh cinta. Keringat dan jerih payah panjenengan semua tak akan pernah bisa kami balas, kecuali doa yang tak putus: semoga ilmu yang ditanam menjadi amal jariyah,” ungkapnya penuh haru.
Tak hanya apresiasi, ia juga menyampaikan pesan mendalam kepada para santri. Ustadz Mandom mengutip hikmah dari ulama, serta menyisipkan pesan moral dari Prof Abdul Mu’ti, bahwa ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan bencana.
“Teruntuk anak-anak kami yang kami cintai, hari ini adalah titik awal perjalanan baru. Tantangan zaman digital dan kecerdasan buatan menanti. Jangan lengah, teruslah belajar, berjuang, dan tumbuh dengan akhlak mulia. Sambungkan ilmumu dengan adab yang luhur,” tuturnya penuh semangat.
Ia pun mengajak para wali santri untuk tidak melepas tanggung jawab pendidikan setelah anak-anak pulang dari pondok. Pendidikan, katanya, tidak berhenti di kelas atau mushala, tapi terus berlanjut di rumah yang penuh kasih atau mungkin luka.
“Lihatlah para guru kalian. Mereka bukan nabi. Mereka hamba Allah yang menjalankan amanah, seringkali diam-diam menangis karena beban harapan yang tak selalu sejalan dengan dukungan orang tua. Maka bantulah mereka, dampingilah anak-anak kita dengan keteladanan di rumah,” ajaknya tegas.
Di akhir testimoni, ia mengucapkan selamat kepada seluruh santri yang diwisuda, dengan pesan bahwa cinta yang tumbuh dari ilmu dan akhlak tidak akan pernah berakhir.
“Perpisahan hanya bagi mereka yang melihat dengan mata kepala. Tapi bagi yang melihat dengan cinta, maka tak ada kata perpisahan. Hanya perjalanan menuju cahaya yang lebih terang.” (*)
Penulis Alfain Jalaluddin Ramadlan Editor Azrohal Hasan






0 Tanggapan
Empty Comments