Nama Ustadz Bachtiar Nasir dikenal luas sebagai dai yang konsisten mengajak umat kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Di tengah dinamika dakwah Islam di Indonesia, sosok Bachtiar Nasir kerap muncul sebagai dai yang dikenal tegas, aktif, dan konsisten mengajak umat kembali kepada Al-Qur’an.
Perjalanan hidupnya tidak lahir secara instan. Ia ditempa melalui pendidikan, pengalaman akademik, serta aktivitas dakwah yang panjang di berbagai lembaga Islam, termasuk dalam berbagai forum dakwah yang juga melibatkan kalangan Muhammadiyah.
Menempuh Jalan Ilmu Sejak Pesantren
Lahir di Jakarta pada 26 Juni 1967, Bachtiar Nasir tumbuh dalam lingkungan yang menempatkan ilmu agama sebagai fondasi kehidupan. Sejak muda ia memilih jalur pendidikan pesantren untuk memperdalam ilmu keislaman.
Ia menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, salah satu pesantren modern yang dikenal melahirkan banyak tokoh nasional. Di pesantren ini ia belajar kedisiplinan, kepemimpinan, serta tradisi intelektual Islam yang kuat.
Perjalanan menuntut ilmunya berlanjut ke Pesantren Daarul Huffazh, Bone, Sulawesi Selatan. Di tempat ini ia memperdalam hafalan Al-Qur’an sekaligus mematangkan kecintaan terhadap kitab suci yang kelak menjadi pusat gerakan dakwahnya.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Islamic University of Madinah, Arab Saudi. Kampus ini dikenal sebagai salah satu pusat studi Islam dunia yang banyak melahirkan ulama dan dai internasional.
Pengalaman belajar lintas daerah dan negara tersebut membentuk karakter Bachtiar Nasir sebagai intelektual muslim yang terbuka, namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah.
Mengabdi dari Dunia Akademik
Sepulang dari Timur Tengah, Bachtiar Nasir tidak langsung terjun penuh ke dunia dakwah publik. Ia memulai pengabdiannya melalui jalur akademik.
Pada periode 1994 hingga 1999, ia menjadi dosen sekaligus menjabat sebagai Kepala Bidang Agama Islam di Universitas YARSI, Jakarta. Di kampus ini ia aktif mengajar sekaligus membimbing mahasiswa dalam memahami Islam secara komprehensif.
Pengalaman mengajar tersebut menjadi fase penting dalam perjalanan intelektualnya. Ia tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mulai merancang gagasan dakwah berbasis pendidikan Al-Qur’an yang lebih sistematis.
Dari ruang kelas kampus inilah embrio gerakan dakwah Qur’ani yang ia rintis mulai berkembang.
Membangun Gerakan Dakwah Qur’ani
Seiring perjalanan waktu, Bachtiar Nasir kemudian mendirikan Ar-Rahman Qur’anic Learning Islamic Center (AQL Islamic Center).
Lembaga ini berfokus pada pengembangan pendidikan Al-Qur’an, dakwah, serta pembinaan generasi muda agar memiliki kecintaan terhadap kitab suci.
Di bawah kepemimpinannya, AQL berkembang menjadi salah satu pusat pembelajaran Al-Qur’an yang cukup dikenal di Indonesia.
Tidak hanya mengajarkan hafalan, tetapi juga mendorong pemahaman, tadabbur, serta pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Dari lembaga tersebut pula lahir Ar-Rahman Qur’anic College, sebuah pesantren yang bertujuan melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an yang berwawasan luas, moderat, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan umat dan kemanusiaan.
Kiprah di Organisasi Keumatan
Selain aktif di bidang pendidikan dan dakwah, Bachtiar Nasir juga terlibat dalam berbagai organisasi keislaman nasional.
Ia pernah dipercaya menjadi bagian dari kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta aktif di sejumlah forum intelektual Islam.
Salah satu perannya adalah sebagai Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), sebuah wadah yang menghimpun para ulama dan intelektual muslim untuk memberikan kontribusi pemikiran terhadap isu-isu keumatan.
Ia juga memimpin Ikatan Alumni Madinah Indonesia, organisasi yang menaungi para alumni Universitas Islam Madinah di Indonesia.
Melalui berbagai organisasi tersebut, Bachtiar Nasir aktif menyuarakan pentingnya peran ulama dalam membimbing umat menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan budaya di era modern.
Hubungan dan Peran dalam Lingkungan Muhammadiyah
Di kalangan warga Muhammadiyah, Bachtiar Nasir juga dikenal sebagai sosok dai yang sering berinteraksi dengan berbagai amal usaha serta lembaga dakwah Muhammadiyah.
Ia kerap diundang dalam forum kajian, tabligh akbar, maupun diskusi keumatan yang diselenggarakan oleh organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan tersebut.
Pemikirannya tentang pentingnya kembali kepada Al-Qur’an memiliki irisan kuat dengan spirit gerakan Muhammadiyah yang menekankan tajdid (pembaruan), pemurnian akidah, serta dakwah berbasis ilmu pengetahuan.
Sejumlah tokoh Muhammadiyah juga memandang pendekatan dakwah Qur’ani yang ia kembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi Al-Qur’an di tengah masyarakat modern.
Dalam berbagai kesempatan, Bachtiar Nasir sering menekankan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca, tetapi harus menjadi pedoman hidup umat Islam dalam membangun peradaban yang berkeadaban.
Dakwah Melalui Karya dan Literasi
Tidak hanya berdakwah melalui mimbar dan lembaga pendidikan, Bachtiar Nasir juga aktif menulis buku serta karya pemikiran Islam.
Salah satu karyanya yang dikenal adalah buku Tadabbur Al-Qur’an, yang mengajak umat Islam untuk lebih mendalami makna ayat-ayat Al-Qur’an, bukan hanya sekadar membacanya.
Melalui tulisan tersebut, ia mendorong lahirnya generasi muslim yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu memahami pesan moral dan spiritual di dalamnya.
Jejak Dakwah yang Terus Berlanjut
Perjalanan Bachtiar Nasir dari seorang dosen kampus hingga menjadi tokoh dakwah nasional menunjukkan konsistensi panjang dalam pengabdian kepada umat.
Ia memulai dari ruang kelas, kemudian membangun lembaga pendidikan Al-Qur’an, aktif di organisasi keumatan, hingga terus berdakwah melalui tulisan serta berbagai forum keislaman.
Di tengah berbagai tantangan zaman, komitmennya tetap sama: mengajak umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sekaligus sumber inspirasi dalam membangun masyarakat yang adil, beradab, dan berkemajuan.
Semangat inilah yang menjadikan perjalanan hidupnya bukan sekadar kisah seorang dai, tetapi juga potret bagaimana dakwah Al-Qur’an terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat Indonesia.






0 Tanggapan
Empty Comments