Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Fakta ke Cerita: Zainal Arifin Emka Ajarkan Seni Menulis Feature

Iklan Landscape Smamda
Dari Fakta ke Cerita: Zainal Arifin Emka Ajarkan Seni Menulis Feature
Zainal saat menyampaikan materinya dihadapak Redaksi PWMU. (Alfain/PWMU.CO)
pwmu.co -

Belajar Menulis Feature di Bengkel Jurnalistik PWMU

Suasana Graha Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Trawas tampak hidup, Senin-Selasa (1-2/9/2025). Para jurnalis dan Redaksi PWMU berkumpul dalam Rapat Kerja sekaligus Bengkel Jurnalistik bertema “Menguatkan Jurnalisme Cerdas di Era Digital”.

Salah satu sesi yang paling menarik adalah materi dari Zainal Arifin Emka, jurnalis senior yang telah malang melintang di dunia pers.

Dengan gaya tutur yang lugas, ia mengajak peserta untuk lebih jeli dalam melihat realitas dan mengemasnya menjadi tulisan feature yang hidup.

“Dalam berita, hanya ada dua alasan mengapa sebuah peristiwa layak jadi cerita: karena penting dan karena menarik. Tidak ada yang ketiga,” tegasnya.

Menurutnya, tugas seorang jurnalis adalah mencari dan menemukan dua alasan itu. Jika berita tidak memiliki nilai penting dan tidak juga menarik, maka sia-sia ditulis. “Kalau penting, ia memengaruhi banyak orang. Kalau menarik, ia membuat orang ingin membacanya,” tambahnya.

Sebagai contoh, ia menyinggung pemberitaan tentang erupsi Gunung Bromo. Kata kunci “terus meningkat” pada ketinggian material vulkanik adalah unsur penting, sementara detail angka, dari 500 menjadi 800 meter, adalah fakta yang membuat pembaca yakin.

Feature Membuat Lebih Manusiawi

Jurnalis senior ini kemudian menjelaskan manfaat menulis feature. “Pertama, membuat masyarakat lebih manusiawi. Kedua, menumbuhkan kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ketiga, membangun sikap positif dalam merespons lingkungan,” jelasnya.

Ia mencontohkan kisah Supardi, seorang kakek penjaga pintu lintasan kereta api. “Kita bisa mengangkat kisah hidupnya: keluarganya, perjuangannya, statusnya sebagai tenaga honorer. Dari situ pembaca belajar menghargai kerja keras orang lain,” ujarnya.

Zainal saat menyampaikan pengantar dalam materinya. (Alfain/PWMU.CO)

Menyelam Lebih Dalam

Menurutnya, jurnalis feature tidak boleh puas dengan fakta sepenggal. “Jangan hanya menuliskan kejadian di permukaan. Menyelamlah, gali lebih dalam. Tangkap gejalanya, rasakan suasananya, dan ceritakan dengan detail,” pesannya.

Ia mengingatkan peserta agar mengaktifkan semua pancaindra saat menulis. “Rekam semua rasa, suara, bau. Gambarkan sehingga pembaca seakan-akan hadir di tempat kejadian,” katanya.

Meski ditulis dengan gaya bercerita, Zainal mengingatkan agar feature tetap objektif. “Jangan dikotori opini. Jangan pula bombastis. Pembaca tidak suka perumpamaan berlebihan. Tulis apa adanya, tetapi dengan sajian yang mengalir,” tuturnya, Senin (1/9/2025) di Graha Umsida Trawas.

Menurutnya, feature ibarat cerpen nonfiksi. Ia harus punya daya tarik sejak awal, dengan intro yang kuat, tubuh cerita yang menjanjikan hal menarik di tiap bagian, dan penutup yang membekas di benak pembaca.

Menutup materinya, Zainal mengingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar menyajikan fakta, tetapi juga menyentuh hati. “Feature yang baik membuat pembaca menoleh pada orang lain dan berkata: ‘Baca ini…!’,” ucapnya.

Sesi akhir, Zainal memberikan tugas untuk membuat feature. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu