Tak banyak yang tahu, Masjid Jenderal Sudirman yang kini ramai jamaahnya pernah berdiri di atas tanah bekas gudang tua. Dari tempat sederhana itulah, semangat dakwah dan kebersamaan umat tumbuh, menghadirkan kisah haru dan kenangan mendalam bagi Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.
Tahun 2015 menjadi momen istimewa. Masjid Jenderal Sudirman terpilih sebagai salah satu dari 45 finalis terbaik Cabang Ranting Masjid (CRM) Award VI. Penghargaan ini bukan hanya pengakuan atas kemegahannya, melainkan juga pengingat akan sejarahnya.
“Masjid ini bukan sekadar tempat salat bagi saya. Ini rumah kehidupan saya. Tempat saya belajar, tumbuh, dan berkhidmat selama hampir tiga dekade,” tutur Prof. Suko, sapaan akrabnya, saat berbincang di Podium Podcast PWMU.TV.
Diceritakan Prof. Suko, begitu panggilan kribnya, bangunan megah di depan RSUD dr. Soetomo itu dulunya hanyalah sebuah gudang tua. Pada tahun 1966, keluarga Baswedan menghibahkan bangunan tersebut kepada Pemuda Muhammadiyah Gubeng.
“Yang menerima hibah waktu itu ada tiga orang: Pak Muhammad Mas’ud, Pak Ahmad Zubair, dan satu lagi saya lupa namanya, beliau tinggal di Kertajaya,” kenang Prof. Suko.
Tiga tokoh itu, lanjutnya, adalah aktivis Muhammadiyah yang berdakwah di masa sulit—tepat setelah gejolak ideologi komunis pasca-1965. Karena situasi politik yang tegang, niat mereka menjadikan gudang itu sebagai masjid tidak berjalan mulus.
Berkali-kali izin pendirian ditolak aparat kelurahan dan kecamatan yang kala itu masih terpengaruh ideologi kiri. Bahkan, beberapa tokoh muda Muhammadiyah sempat ditahan polisi hanya karena mengadakan salat berjamaah di tempat itu.
Namun semangat mereka tak pernah padam. “Mudah-mudahan Allah memberikan tempat terbaik untuk mereka bertiga,” ujar Prof. Suko lirih.
Hingga akhirnya, pada Desember 1968, salat Jumat pertama berhasil digelar. Dari situlah sejarah Masjid Jenderal Sudirman dimulai—tonggak baru dakwah Islam modern di Surabaya.

Kampus Kehidupan
Memasuki dekade 1970–1990, Masjid Sudirman berkembang menjadi pusat dakwah dan pembinaan umat. Nama-nama besar Muhammadiyah Jawa Timur silih berganti mengisi pengajian, di antaranya Kiai Abdullah Wasi’an, Kiai Anwar Zain, KH Abdurrahim Nur, Kiai Ahmad Juraid Mahfud, Kiai Munawar Thohir, Kiai Sudjari Dahlan, H. Bey Arifin, H. Syakur Thawil, H. Kholid Abri, dan M. Muqoddas.
“Waktu itu saya masih muda. Saya tinggal di kontrakan kecil di belakang masjid, di Jalan Lapangan Darmawangsa. Hampir setiap malam saya ikut pengajian tafsir, fikih, atau kristologi,” kenang Prof. Suko.
Baginya, masjid itu bukan sekadar tempat beribadah. “Masjid ini kampus kehidupan saya,” ujarnya. “Di sinilah saya belajar disiplin, tanggung jawab, dan ketulusan berjuang tanpa pamrih.”
Dia menambahkan dengan mata berbinar, “Masjid ini menempa jiwa saya, jauh sebelum saya memimpin universitas.” Kini, pria yang juga menjabat Deputi Kesehatan Kemenko PMK itu, masih menyebut Masjid Jenderal Sudirman sebagai “rumah jiwanya”.
Pada era 1970–1990-an, Masjid Jenderal Sudirman juga melahirkan banyak tokoh. Di antara para ketua takmir yang tercatat adalah Shofwan Hadi, Achmad Ruba’ie, dan Syarful Mudawam—tiga figur yang kelak dikenal di dunia politik Islam, dari Partai Amanat Nasional (PAN) hingga PPP.
Akhir tahun 1996 menjadi babak baru. Dalam sebuah pertemuan sederhana di rumah Ahmad Zubair, para tokoh sepuh Muhammadiyah Gubeng sepakat menunjuk dr. Sukadiono, kala itu baru berusia 28 tahun, sebagai Ketua Takmir Masjid Jenderal Sudirman.
“Waktu itu saya masih muda sekali,” katanya tersenyum. “Tapi para senior bilang, ‘Masjid ini kami pasrahkan padamu, Mas Suko.’”
Siapa sangka, amanah itu dijalani selama 28 tahun—hingga 2024. Di bawah kepemimpinannya, Masjid Jenderal Sudirman menjelma menjadi pusat kegiatan spiritual, sosial, dan intelektual warga Muhammadiyah Surabaya.
Transformasi besar terjadi pada masa kepemimpinan Prof. Suko. Dari bangunan sederhana satu lantai, masjid ini berubah menjadi bangunan tiga lantai yang modern dan nyaman.
Renovasi itu bukan hasil proyek instan, melainkan buah gotong royong jamaah. “Kalau dana kurang, saya biasa bilang ke Pak Haji Sugeng,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Dan beliau selalu menjawab, ‘Kurang piro, Mas Suko? Nanti saya nutupi.’”
Haji Sugeng, pengusaha sukses sekaligus dermawan, menjadi salah satu tokoh penting di balik renovasi besar tersebut. Bersama dukungan PWM Jawa Timur dan semangat jamaah, masjid ini menjelma menjadi simbol solidaritas umat.
Peresmian renovasi dilakukan oleh Prof. Syafiq Mughni, Ketua PWM Jatim kala itu. Namun bagi Prof. Suko, kemegahan fisik bukanlah tujuan akhir.
“Yang penting ruhnya tetap hidup. Masjid ini harus jadi pusat dakwah dan pembinaan umat,” tegasnya.
Jembatan antara Masjid dan Kampus
Ketika dipercaya menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) pada tahun 2012, Prof. Suko tidak meninggalkan masjid. Sebaliknya, ia menghubungkan dua lembaga itu dalam satu ekosistem dakwah dan pendidikan.
Salah satu inovasinya ialah pemanfaatan lahan bekas SD Muhammadiyah di sekitar masjid menjadi guest house yang dikelola bersama antara PCM Gubeng dan UM Surabaya dengan sistem profit sharing.
“Tujuannya sederhana,” katanya, “supaya masjid ini tidak hanya hidup secara spiritual, tapi juga mandiri secara ekonomi.”
Kolaborasi ini melahirkan berbagai kegiatan baru: pelatihan kewirausahaan, santunan sosial, hingga program pengabdian masyarakat mahasiswa. Masjid menjadi laboratorium pengabdian, tempat ilmu dan iman bersatu dalam praktik nyata.
Kini, setiap pekan, Masjid Jenderal Sudirman selalu ramai: pengajian tafsir, pelatihan muallaf, santunan anak yatim, hingga diskusi intelektual mahasiswa. Generasi boleh berganti, tetapi ruh perjuangan para pendirinya tak pernah padam.
Dari tiga tokoh muda yang dahulu memperjuangkan izin pendirian masjid hingga generasi akademisi yang kini menjaga tradisi dakwahnya, semuanya terikat oleh satu benang merah: cinta kepada Allah dan Muhammadiyah.
Dan di antara semua nama, sosok Prof. dr. Sukadiono, MM akan selalu disebut dengan hormat. Bukan hanya sebagai rektor, tetapi sebagai takmir terlama, penjaga ruh masjid, dan saksi hidup perjalanan dakwah Muhammadiyah di Surabaya.
“Masjid ini saksi perjalanan hidup saya. “Dari belajar agama, berdakwah, hingga memimpin universitas—semuanya bermula dari sini. Dari Masjid Jenderal Sudirman,” ujarnya menutup kisah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments