“Rindu panggung besar,” celetuk Ahmad Prambudi, pembina ekstrakurikuler Motreight SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela), di grup Motreight suatu sore setelah kegiatan belajar.
Celetukan ringan itu ternyata menjadi titik awal lahirnya ide besar yang berujung kemenangan di kancah nasional.
Beberapa hari setelahnya, Fajar Izzul Muslimin, alumni sekaligus penggerak Motreight, menemukan unggahan lomba film pendek Kompetisi Nasional EBY Fraksi Partai Demokrat DPR RI di Instagram.
Mengingat kembali guyonan rindu panggung besar dari pembinanya, Fajar pun spontan mengirimkan informasi ke grup Motreight dan mengajak tim untuk ikut serta.
“Awalnya sempat ragu karena waktunya cuma dua hari. Tapi setelah kita saling yakinkan, akhirnya sepakat ikut lomba ini,” ujar Fajar, yang bertindak sebagai script writer dan videografer.
Film berjudul TULADHA pun lahir dari kebersamaan dan keberanian mencoba. Dengan waktu syuting yang dimulai Jumat sore (7/11) dan berakhir Sabtu (8/11) pagi, tim tetap bersemangat meski harus bergantian mengerjakan pengambilan gambar, editing, hingga voice over.
Bahkan pemeran anak kecil, Ken Surya, merupakan putra Pak Budi sendiri yang direkrut secara spontan karena kesulitan mencari pemeran anak.
“Waktu itu benar-benar dikejar deadline. Tapi justru di situ letak keindahannya, semua jadi bagian,” tambah Fajar.
Sang pemeran utama, Alif Aminulloh, siswa kelas XII Smamdela, mengaku sempat gugup namun menikmati prosesnya.
“Aku baru tahu kalau finalisnya diundang ke Senayan pas dikabarin langsung. Rasanya campur aduk, senang, bangga, dan nggak nyangka bisa berdiri di gedung semegah itu,” ujar Alif.
Pada 10 November 2025, di Gedung Nusantara I Senayan, nama SMA Muhammadiyah 8 Gresik disebut sebagai Juara 1 Nasional dan membawa pulang hadiah sebesar Rp15.000.000.
Karya mereka dipuji karena pengemasan pesan yang kuat dan visual yang menyentuh, di antara ratusan karya lain dari seluruh Indonesia.
“Guyonan tentang rindu panggung besar ternyata benar-benar jadi kenyataan. Dari ruang kecil Motreight, mereka akhirnya berdiri di panggung nasional,” ungkap Ahmad Prambudi, guru pembina DKV.
Kemenangan ini bukan sekadar capaian artistik, tetapi juga bukti bahwa kreativitas, komitmen, dan kebersamaan mampu melampaui batas waktu dan ruang.





0 Tanggapan
Empty Comments