Mulanya adalah sepakbola di kampung, bahkan di pertandingan tarkam. Asep Sholeh Fakhrul Insan, di tahun 1990-an aktif dalam sepakbola.
Sebagaimana anak Cirebon, Asep menyelinap ke Stadion Bima atau lapangan-lapangan kampung untuk menyaksikan pertandingan Persatuan Sepak bola Indonesia Tjirebon (PSIT) Cirebon.
PSIT bagi warga Cirebon bukan sekadar tim sepak bola, melainkan bagian dari darah dan napas kota.
“Dulu, saya bermain sepakbola, dan menonton PSIT. Bahkan kini pun masih bermain bola untuk fun. Awalnya saya ingin jadi pemain sepakbola. Kini mimpi untuk akan saya wujudkan dengan memajukan prestasi PSIT,” kenang Asep dalam satu kesempatan santai baru-baru ini.
Momen-momen itu membekas dalam, membentuk mimpi yang lama terpendam di balik kesibukan hidup dewasa.Lahir di Kota Cirebon pada 1991, Asep tumbuh di lingkungan sederhana yang kental dengan nilai gotong royong dan kecintaan pada olahraga rakyat.
Sepak bola bukan hobi mewah; ia adalah pelarian, kegembiraan, dan identitas. Namun, seperti banyak anak muda Cirebon, Asep tahu bahwa mimpi besar butuh fondasi kuat.
Asep memilih melanjutkan pendidikan ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Indonesia.
Surakarta memang menjadi kota bersejarah bagi Muhammadiyah, terutama dalam olahraga. Sejak Muktamar Muhammadiyah di Surakarta tahun 2022, Muhammadiyah serius memberi perhatian pada olahraga dengan pendirian Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO).
“Waktu kuliah di UMS, saya belajar bahwa pendidikan bukan hanya ilmu pengetahuan, tapi juga nilai-nilai keislaman yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan umat,” ujar Asep, mengenang masa-masa itu sebagai pembentuk visinya tentang kepemimpinan yang adil dan transparan.
Latar belakang Muhammadiyah ini membekali Asep dengan prinsip-prinsip seperti tajdid (pembaruan), amar ma’ruf nahi munkar (mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran), serta semangat pengabdian sosial—nilai-nilai yang ia terapkan dalam karir bisnis dan kini di PSIT.
Setelah lulus, karirnya dimulai sebagai konsultan di bidang HRGA (Human Resources, General Affairs), Legal, Environment, and Safety. Dari posisi HSE Supervisor hingga menjadi Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Cirebon, Asep membangun reputasi sebagai pemimpin yang tegas namun adil.
Aseo pernah menghadapi situasi sulit seperti polemik buruh di perusahaan tekstil lokal, di mana ia mendorong dialog daripada konfrontasi.
“Saya belajar bahwa konflik bisa diselesaikan jika ada kemauan saling mendengar,” katanya, pengalaman yang kelak berguna saat menghadapi drama akuisisi PSIT.
Di balik kesuksesan bisnis, ada sisi pribadi yang jarang diekspos: Asep adalah pecinta sepak bola sejati yang tak pernah benar-benar meninggalkan lapangan.
Dia sering ikut bermain futsal bersama teman-teman lama, mengikuti turnamen komunitas, dan diam-diam mendukung talenta muda di Sekolah Sepak Bola (SSB) sekitar Cirebon.
“Setiap kali melihat anak-anak bermain bola di kampung, saya teringat diri saya sendiri dulu. Saya ingin mereka punya kesempatan lebih baik daripada yang saya miliki,” ujarnya dengan nada hangat.
Pengalaman ini yang membuat hatinya terpanggil ketika PSIT—klub legendaris yang didirikan sejak 1934—mengalami pasang surut.
Pada 12 Januari 2026, mimpi masa kecil itu menjadi kenyataan. Asep resmi mengambil alih PSIT melalui penandatanganan dokumen sah di hadapan notaris.
Kini, di usia 35 tahun, Asep memimpin PSIT dengan visi yang personal sekaligus ambisius. Dia fokus pada manajemen sehat, transparan, dan berprestasi—menerapkan prinsip bisnisnya ke dunia sepak bola, sekaligus nilai-nilai Muhammadiyah tentang pembaruan dan pengabdian.
Diskusi dengan legenda seperti Djadjang Nurdjaman menjadi langkah awal membangun sistem profesional. Targetnya jelas: naik kelas dari Liga 4, tapi lebih dari itu, membangun akademi untuk regenerasi talenta lokal.
“Saya ingin PSIT bukan hanya klub, tapi rumah bagi anak-anak Cirebon yang bermimpi seperti saya dulu,” tegasnya.
Sepak bola pernah memberinya mimpi, kini gilirannya memberi mimpi kepada generasi berikutnya. Bagi ribuan pendukung PSIT di Kota Udang, sosok ini adalah bukti bahwa kadang, mimpi masa kecil bisa ditendang kembali ke gawang. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments