Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Kiblat hingga Kalender Global: Tausiyah PP Muhammadiyah KH Sa’ad Ibrahim di Silaturahim Syawal 1447 H

Iklan Landscape Smamda
Dari Kiblat hingga Kalender Global: Tausiyah PP Muhammadiyah KH Sa’ad Ibrahim di Silaturahim Syawal 1447 H
Kiai Sa’ad mengajak jamaah untuk memaknai umur bukan sekadar hitungan angka tahun, melainkan sebagai keberlanjutan amal (legacy) yang tetap mengalir setelah raga tiada. (foto: Marjoko/PWMU.CO)
pwmu.co -

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. KH. Sa’ad Ibrahim, menekankan bahwa Islam harus dipahami sebagai motor penggerak peradaban, bukan sekadar rangkaian ritual ibadah.

Pesan kuat ini disampaikannya dalam forum Silaturahim Syawal 1447 H yang digelar di SMK Muhammadiyah (SMK Mutu) Kota Pasuruan pada Sabtu (4/4/2026).

Di hadapan jamaah, Kiai Sa’ad menguraikan konsep Islam Berkemajuan sebagai sumber inspirasi yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia.

Beliau mengajak peserta untuk menarik cakrawala berpikir lebih luas, melampaui batas-batas rutinitas keagamaan yang sempit.

Guna menggugah kesadaran peserta, Kiai Sa’ad membuka pemaparannya dengan ilustrasi kosmik yang memukau.

Beliau menggambarkan betapa dahsyatnya alam semesta, di mana cahaya yang melesat 300.000 kilometer per detik pun membutuhkan waktu luar biasa lama untuk menempuh jarak antar-bintang.

Analogi ini digunakannya untuk mengingatkan umat agar memiliki cara pandang yang progresif dan tidak kerdil.

“Kalau kita tidak berani berpikir besar, kita akan cepat merasa puas dengan keadaan sekarang. Padahal, tantangan peradaban di depan kita jauh lebih luas dan kompleks,” tegas mantan Ketua PWM Jawa Timur tersebut.

Melalui narasi ini, beliau menekankan bahwa mentalitas “berpikir besar” adalah syarat mutlak bagi warga Muhammadiyah untuk mampu menjawab tantangan zaman dan membawa misi mencerahkan semesta.

Islam sebagai Spirit Kemajuan dan Fondasi Spiritual 

Dalam penjelasannya, Kiai Sa’ad menegaskan bahwa jati diri Islam bagi Muhammadiyah adalah agama yang merujuk murni pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang di dalamnya terpancar semangat untuk terus bergerak dinamis.

Beliau mengutip berbagai ayat yang menyerukan umat untuk bersegera dalam kebaikan (fastabiqul khairat), berlomba-lomba meraih ampunan Allah, serta terus meningkatkan kualitas diri secara berkelanjutan tanpa henti.

“Esensi dari orang yang berkemajuan adalah ketaatan mutlak kepada Allah. Sebaliknya, kemunduran peradaban justru dimulai ketika manusia menjauh dari nilai-nilai ketaatan tersebut,” tegas beliau dengan lugas.

Lebih jauh, beliau menekankan bahwa tolok ukur kemajuan dalam Islam tidaklah sempit, hanya pada aspek fisik atau material semata.

Menurut pandangan beliau, pembangunan kualitas jiwa dan spiritualitas harus menjadi pondasi utama (pilar) sebelum membangun kemajuan di bidang lainnya.

Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan ketenangan hati (thuma’ninah) dan kedekatan kepada Sang Khalik sebagai sumber kekuatan sejati dalam menghadapi hiruk-pikuk kehidupan modern.

Meneladani K.H. Ahmad Dahlan: Memadukan Iman dan Sains

Dalam forum tersebut, Kiai Sa’ad juga membangkitkan kembali memori kolektif jamaah tentang keteladanan K.H. Ahmad Dahlan sebagai sang pelopor Islam Berkemajuan.

Beliau menceritakan bagaimana Kiai Dahlan secara revolusioner menggunakan pendekatan ilmiah, seperti ilmu falak dan astronomi, untuk meluruskan arah kiblat yang kala itu masih dianggap tabu oleh sebagian kalangan.

Meski langkah tersebut sempat menuai kritik dan penolakan keras, dedikasi Kiai Dahlan kini terbukti benar secara sains dan telah menjadi standar baku yang diakui luas oleh umat Islam.

“Apa yang dulu ditentang, hari ini justru menjadi kebenaran yang diikuti. Itulah ciri dari gerakan yang berkemajuan,” ujar beliau.

Lebih lanjut, Kiai Sa’ad menyoroti pembaharuan dalam bidang pendidikan yang digerakkan Muhammadiyah sejak awal berdirinya.

Beliau menegaskan bahwa integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum yang dipelopori Kiai Dahlan pada awal abad ke-20 adalah langkah visioner yang kini menjadi fondasi sistem pendidikan modern.

“Ini adalah bukti nyata bahwa Islam tidak pernah berbenturan dengan sains; justru Islam menjadi penggerak utama pengembangannya,” jelas beliau.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

KHGT: Solusi Kepastian untuk Umat Dunia

Dalam nada yang lebih kritis, beliau menyoroti fenomena perbedaan penentuan hari besar Islam yang masih kerap terjadi.

Menurutnya, hal ini menjadi sinyal bahwa umat Islam belum optimal dalam mendayagunakan kemajuan teknologi.

“Di era di mana informasi tersebar secara real-time ke seluruh penjuru bumi, seharusnya kita memiliki kepastian yang sama, bukan justru terjebak dalam perbedaan yang terus berulang,” tegas Kiai Sa’ad.

Sebagai solusi konkret, beliau memperkenalkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).

Gagasan besar Muhammadiyah ini hadir sebagai upaya menghadirkan keseragaman, kepastian, dan martabat bagi umat Islam di level global melalui pendekatan hisab yang akurat.

Kiai Sa’ad juga mengajak jamaah untuk memahami dimensi universal ajaran Islam yang melampaui sekat-sekat praktik lokal.

Beliau mencontohkan zakat fitrah di Indonesia yang menggunakan beras sebagai bentuk adaptasi terhadap bahan pokok setempat, meskipun dalam hadis disebutkan kurma atau gandum.

“Islam memberikan ruang fleksibilitas untuk penyesuaian selama tidak menabrak prinsip dasar akidah. Ini menunjukkan betapa Islam adalah agama yang relevan untuk segala zaman dan tempat,” pungkas beliau.

Visi Global dan Ketangguhan Jiwa: Membangun Jejak Peradaban

Dalam bagian lain tausiyahnya, Kiai Sa’ad memberikan suntikan motivasi mengenai pentingnya membangun pola pikir besar dan sikap optimistis.

Beliau mendorong generasi muda untuk membuang rasa takut dalam bermimpi serta berani memiliki visi global.

Menurut beliau, umat Islam sudah saatnya berhenti merasa rendah diri dan mulai mengambil peran aktif dalam percaturan peradaban dunia.

“Jangan pernah berpikir kecil. Jika kita memiliki cita-cita besar yang disandarkan sepenuhnya kepada Allah, maka niat itu sendiri akan menjelma menjadi kekuatan yang dahsyat,” ungkap beliau dengan penuh penekanan.

Beralih ke aspek spiritual, beliau kembali mengingatkan bahwa dzikir dan interaksi dengan Al-Qur’an adalah sumber utama ketenangan jiwa.

Di tengah tantangan zaman, beliau menjelaskan bahwa kesehatan mental dan ketenangan batin memegang peranan krusial dalam keberhasilan hidup manusia.

“Bangunlah jiwanya terlebih dahulu, karena dari batin yang kokoh itulah kekuatan sejati manusia berasal,” pesan beliau, menggarisbawahi bahwa kemajuan lahiriah harus dimulai dari kematangan ruhani.

Menutup pesannya, Kiai Sa’ad mengajak jamaah untuk memaknai umur bukan sekadar hitungan angka tahun, melainkan sebagai keberlanjutan amal (legacy) yang tetap mengalir setelah raga tiada.

Setiap individu diharapkan mampu mengukir jejak kebaikan yang tidak hanya dikenang, tetapi terus memberikan manfaat nyata bagi generasi mendatang.

Penutup 

Kegiatan Silaturahim Syawal 1447 H di SMK Mutu Kota Pasuruan ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para siswa, guru, serta tokoh masyarakat.

Acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin dengan khusyuk, memohon keberkahan, keselamatan, serta kejayaan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡