Salat tidak berhenti sebagai kewajiban ritual yang menggugurkan tuntutan syariat, tetapi merupakan proses pembentukan jiwa dan karakter seorang muslim.
Ketika salat dilaksanakan dengan benar, khusyuk, dan penuh kesadaran, ia menjadi kekuatan spiritual yang mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar serta melahirkan pribadi yang berakhlak mulia.
Pesan inilah yang menjadi penekanan utama dalam Khotbah Jumat di Masjid Al Amien Genteng, Banyuwangi, Jumat (9/1/2026).
Khotbah disampaikan oleh Ustaz Tamyis Rosidi, M.Pd., Kepala SMK Muhammadiyah 2 Genteng yang saat ini memasuki periode kepemimpinan kedua (2025–2029).
Dalam khotbahnya, dia mengajak jamaah untuk menempatkan salat sebagai pusat kehidupan, bukan sekadar rutinitas ibadah yang dijalankan secara formal.
Ustaz Tamyis lalu membacakan Surah Al-Isra ayat 1 yang mengisahkan peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha bersama Malaikat Jibril.
Peristiwa tersebut ditegaskan sebagai momentum penting dalam sejarah Islam, karena dari sanalah salat ditetapkan sebagai kewajiban utama bagi umat Islam.
Salat, menurut khotib, merupakan satu-satunya ibadah yang diperintahkan secara langsung tanpa perantara di langit, menunjukkan betapa istimewa dan sentral kedudukannya sebagai penghubung antara hamba dengan Allah SWT.
Ustaz Tamyis menegaskan bahwa salat adalah tiang agama, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad saw.
Namun, salat tidak boleh direduksi menjadi sekadar rangkaian gerakan fisik. Hakikat salat terletak pada kemampuannya mentransformasi diri, memperkuat iman, dan menumbuhkan ketakwaan yang nyata dalam perilaku sehari-hari.
Dia mengutip Surah Al-Ankabut ayat 45 yang menegaskan bahwa salat yang benar akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Ayat ini, menurutnya, menjadi tolok ukur kualitas salat seorang muslim: semakin baik salatnya, semakin baik pula akhlaknya.
Lebih jauh, Ustaz Tamyis menjelaskan bahwa salat memiliki dimensi sosial yang kuat. Salat melatih kedisiplinan waktu, menumbuhkan kejujuran, membentuk tanggung jawab, serta mengasah kepedulian terhadap sesama.
Salat berjamaah juga mengajarkan kesetaraan, kebersamaan, dan ukhuwah, karena seluruh jamaah berdiri sejajar di hadapan Allah SWT tanpa sekat status sosial.
Dengan demikian, salat tidak hanya berdampak pada hubungan vertikal antara hamba dan Tuhannya, tetapi juga pada hubungan horizontal antarsesama manusia.
Pada pelaksanaan salat Jumat, imam membaca Surah Al-Baqarah ayat 28–30 pada rakaat pertama dan Surah Al-Baqarah ayat 284–286 pada rakaat kedua.
Ayat-ayat tersebut meneguhkan kesadaran tentang kekuasaan Allah SWT, amanah manusia sebagai khalifah di bumi, serta pentingnya doa, tawakal, dan permohonan ampun dalam menjalani kehidupan.
Pemilihan ayat ini memperkuat pesan khutbah bahwa kehidupan seorang muslim harus senantiasa terikat dengan kesadaran ilahiah dan tanggung jawab moral.
Menutup khutbah, Ustaz Tamyis mengajak jamaah—terutama generasi muda—untuk menjadikan salat sebagai pusat kehidupan.
Salat diharapkan mampu mengatur ritme waktu, menumbuhkan kedisiplinan, serta melatih kejujuran dan rasa tanggung jawab dalam setiap peran sosial.
Dengan komitmen terhadap salat yang berkualitas, masyarakat diharapkan dapat membangun lingkungan yang religius, harmonis, dan produktif, berlandaskan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
Khutbah Jumat di Masjid Al Amien Genteng tersebut menjadi penguatan spiritual bagi jamaah, sekaligus pengingat bahwa kualitas salat akan sangat menentukan kualitas pribadi dan kehidupan sosial seorang muslim. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments