Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Milad ke-22 SDMM, Guru PAUD Gresik Diajak Menumbuhkan Green Learning Sejak Usia Dini

Iklan Landscape Smamda
Dari Milad ke-22 SDMM, Guru PAUD Gresik Diajak Menumbuhkan Green Learning Sejak Usia Dini
Pemateri dan peserta Workshop Guru PAUD di Aula SDMM (Muhammad Khoirul Anwar/PWMU.CO)
pwmu.co -

Dalam rangka memperingati Milad ke-22, SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) menyelenggarakan Workshop Guru PAUD bertema “Mengembangkan Ekosistem Belajar Berbasis Alam dan Pendidikan Lingkungan (Green Learning)” di Aula SDMM, Selasa (27/1/2026).

Workshop diikuti oleh 84 guru Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK) se-Kabupaten Gresik. Hadir sebagai pemateri utama, Dhian Gowinda Luh Safitri, S.Pd., M.Ed., dosen Pendidikan Guru PAUD Universitas Negeri Surabaya, yang dikenal aktif mengampanyekan pendidikan berbasis alam dan ecoliteracy sejak usia dini.

Sebelum acara dimulai, Koordinator Panitia Workshop, Ria Pusvita Sari, M.Pd., mengajak seluruh peserta untuk membawa tumbler pribadi sebagai bentuk dukungan nyata terhadap gerakan ramah lingkungan. Selain itu, peserta juga diminta menyiapkan praktik baik Green Learning dari sekolah masing-masing untuk dibagikan sebagai inspirasi bersama.

“Mari kita mulai dari kebiasaan kecil yang berdampak besar bagi bumi dan pendidikan anak-anak kita,” tuturnya.

Antusiasme Peserta

Workshop berlangsung semarak dan interaktif. Antusiasme peserta tampak dari diskusi aktif, refleksi bersama, hingga sesi berbagi praktik baik. Dalam paparannya, Dhian Gowinda—akrab disapa Winda—menjelaskan bahwa Green Learning bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak di tengah semakin jauhnya anak-anak dari alam akibat dominasi gawai dan pembelajaran di ruang tertutup.

Ia menegaskan bahwa Green Learning menempatkan alam sebagai ‘guru ketiga’ setelah guru dan teman sebaya. Melalui pendekatan ini, anak belajar secara langsung dari lingkungan sekitar—mulai dari halaman sekolah, kebun sederhana, hingga eksplorasi alam—sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual, menyenangkan, dan bermakna.

“Mengapa harus dimulai dari PAUD?” tanya Winda kepada peserta. Ia menjelaskan tiga alasan utama: masa golden age sebagai periode emas pembentukan kebiasaan, afeksi utama yang menekankan pembangunan rasa cinta pada alam, serta dampak jangka panjang berupa kesehatan mental, empati, dan tanggung jawab lingkungan anak di masa depan.

Dalam sesi praktik, peserta dikenalkan berbagai contoh implementasi Green Learning yang sederhana namun berdampak, seperti mud kitchen dan nature walk untuk KB, kegiatan memilah sampah dan mini garden di TK A, hingga proyek kompos dan kampanye hemat air untuk TK B. Semua dirancang agar anak tidak hanya “tahu”, tetapi juga memahami, mengalami, dan merefleksikan hubungannya dengan alam.

Pembaruan Pendidikan

Sementara itu, Kepala SD Muhammadiyah Manyar, Athiq Amiliyah, S.Pd., dalam sambutan singkatnya menyampaikan bahwa workshop ini menjadi bagian dari perayaan Milad ke-22 SDMM dengan tema besar “Brighter Reforms”. Tema tersebut dimaknai sebagai komitmen SDMM untuk terus melakukan pembaruan pendidikan yang lebih cerah, relevan, dan berdampak, khususnya dalam penguatan sinergi PAUD dan SD.

Ia menegaskan bahwa pendidikan berbasis alam bukan sekadar metode, tetapi kebutuhan untuk menyiapkan generasi yang peduli lingkungan sejak dini.

Athiq juga menyampaikan apresiasi kepada guru-guru PAUD, KB, dan TK yang telah hadir serta mendukung sinergi pendidikan berkelanjutan, termasuk dalam proses SPMB SDMM, yang hingga saat ini menunjukkan kepercayaan masyarakat dengan ratusan calon siswa yang telah menitipkan nama hingga tahun ajaran mendatang.

“Kolaborasi PAUD, TK, dan SD adalah fondasi penting dalam menyiapkan transisi belajar anak yang nyaman dan sesuai tahap perkembangannya. Semoga workshop ini menjadi ruang belajar, ruang berbagi, dan ruang tumbuh bersama,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu