Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Overthinking Menuju Well-Being

Iklan Landscape Smamda
Dari Overthinking Menuju Well-Being
sumber: Freepik
Oleh : Fadhilatur Rosyidah Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik
pwmu.co -

Pernahkah saat Anda sedang rebahan, tetapi pikiran justru semakin bising? Mulai dari tugas yang belum kelar, pesan yang tak kunjung dibalas, hingga masa depan yang terasa samar.

Hal-hal kecil itu mungkin tampak sepele, tetapi bagi banyak remaja hari ini, itulah “soundtrack” sehari-hari. Pikiran seakan tidak bisa berhenti, seperti fitur autoplay di YouTube yang terus berputar. Akibatnya, tidur menjadi sulit, hati mudah cemas, bahkan scrolling media sosial bukan menambah bahagia, melainkan justru menambah beban pikiran baru. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah overthinking.

Overthinking ibarat tab di peramban laptop yang terlalu banyak terbuka. Akhirnya, perangkat menjadi lemot. Begitu pula pikiran kita. Terlalu banyak skenario yang dibuka sekaligus—drama pertemanan, percintaan, tugas kuliah, hingga masa depan—membuat remaja terjebak dalam lingkaran pikiran yang melelahkan.

Secara psikologis, overthinking adalah pola berpikir berlebihan yang membuat otak bekerja tanpa henti. Alih-alih menyelesaikan masalah, ia justru menambah beban mental.

Penelitian dalam psikologi kognitif menunjukkan bahwa overthinking erat kaitannya dengan kecemasan (anxiety) bahkan depresi. Otak remaja, yang sedang berkembang pesat pada bagian prefrontal cortex (pusat pengendali emosi dan keputusan), sering kali belum cukup stabil untuk mengatur ledakan pikiran yang datang silih berganti. Akibatnya, kegelisahan mudah tumbuh.

Karena itu, penting dipahami bahwa well-being bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan mengelola pikiran dan emosi dengan sehat. Jalan menuju well-being tidak harus dimulai dengan menghilangkan overthinking secara instan, melainkan melalui kesadaran dan teknik mengelola pikiran.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Lalu, bagaimana cara beralih dari overthinking menuju well-being?

  1. Sadari Pola Pikir
    Perhatikan kapan pikiran mulai berputar terlalu jauh atau terlalu lama pada satu masalah. Kesadaran ini berfungsi sebagai “rem” agar pikiran tidak terjebak.
  2. Alihkan Energi
    Daripada mengulang-ulang skenario di kepala, salurkan energi pada aktivitas produktif seperti menulis, olahraga, atau seni.
  3. Latih Mindfulness
    Latihan kesadaran penuh terhadap saat ini, misalnya dengan meditasi atau teknik pernapasan, membantu menghadirkan perhatian pada momen sekarang.
  4. Self-Compassion
    Berbaik hati pada diri sendiri berarti menerima bahwa kesalahan dan kegagalan adalah bagian alami dari proses belajar. Manusia bukanlah robot yang harus selalu sempurna.

Perjalanan dari overthinking menuju well-being adalah proses yang bisa dilatih. Semakin sering kita mengelola pikiran, semakin besar peluang menemukan kedamaian batin.

Pada akhirnya, well-being bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk tetap tegak dan bernapas lega meski masalah datang silih berganti. Dan perjalanan itu bisa dimulai dari langkah kecil: menyadari bahwa pikiran bukanlah musuh, melainkan kunci menuju hidup yang lebih utuh. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu