Islam menempatkan profesi pedagang pada derajat yang mulia. Bukan tanpa alasan, Rasulullah saw sendiri adalah seorang pedagang yang dikenal jujur, amanah, dan profesional hingga mendapat julukan Al-Amin.
Karena itu, berdagang dengan akhlak Islami bukan sekadar urusan mencari nafkah, melainkan ibadah yang menghadirkan keberkahan dan mengantarkan pada rida Allah SWT.
Pedagang jujur adalah penjual yang amanah, adil, dan transparan dalam setiap transaksi. Ia tidak menipu takaran, timbangan, maupun kualitas barang, serta senantiasa menjaga integritas.
Kejujuran itu bukan hanya mendatangkan keberkahan di dunia, tetapi juga kemuliaan di akhirat: dibangkitkan bersama para nabi dan syuhada, karena kejujuran dalam bisnis adalah bagian dari ibadah sekaligus investasi akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
التَّاجِرُ الأَمِينُ الصَّدُوقُ الْمُسْلِمُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ، يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah, maka kelak ia akan dikumpulkan bersama para Nabi, orang-orang yang shiddiq, serta para syuhada di hari Kiamat”. [HR Ibnu Majah no. 2139 dan lain-lain. Kata Al-Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah 3453, sanadnya jayyid/bagus]
Hal ini seimbang dengan peringatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atas para pedagang yang tidak menjalankan perdagangannya dengan cara syar’i sebagaimana terdapat dalam hadis berikut ini:
إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ
“Sesungguhnya para pedagang yang akan di bangkitkan pada hari Kiamat sebagai orang-orang yang berdosa, kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur”. (HR. Tirmidzi no.1210. Kata Al-Albani rahimahullah dalam Shahih At-Targhib 1785, shahih dengan adanya jalur pendukungnya)
Sementara dalam hadis lain disebutkan:
إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: بَلَى وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ فَيَأْثَمُونَ
“Para pedagang mereka adalah para pendosa”. Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli ?”. Rasulullah menjawab: “Ya, namun sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah dengan sumpah palsu”. [HR. Ahmad no.15568. Kata Al-Albani rahimahullah dalam As-Shahihah 366, shahih]
Pantaslah kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan kepada para pedagang atau pebisnis untuk melakukan amalan berikut:
يا معشرَ التجارِ، إنَّ الشيطانَ والإثمَ يحضران البيعَ. فشُوبوا بيعَكم بالصدقةِ
“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa selalu hadir dalam jual beli, karenanya iringilah jual belimu dengan banyak-banyak bersedekah”.(HR. Tirmidzi no.1208. Kata Al-Albani rahimahullah dalam shahihul Jaami’ 7973, sahih)
Karakteristik Pedagang Jujur
Seorang pedagang jujur dikenali dari sikap dan perilakunya dalam bermuamalah. Ia:
- Amanah, menepati janji serta menjalankan tanggung jawab dengan penuh kesadaran.
- Adil, menyempurnakan takaran dan timbangan tanpa mengurangi sedikit pun, sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-An‘am: 152.
- Terpercaya, memiliki reputasi baik karena konsisten menjaga kebenaran dalam ucapan dan tindakan.
- Tidak menipu, menjaga kualitas barang dagangan, memastikan kebersihan, tidak menyembunyikan cacat, serta bersedia menimbang ulang bila diperlukan.
- Profesional, menjunjung tinggi integritas dan etika dalam bidang usahanya.
Keutamaan Pedagang Jujur
- Kejujuran dalam berdagang menghadirkan keutamaan besar, baik di dunia maupun di akhirat. Di antaranya:
- Kedudukan mulia di akhirat, dibangkitkan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ (HR. Tirmidzi).
- Keberkahan hidup, usaha dan penghasilan yang membawa ketenteraman serta kebaikan berkelanjutan.
- Terbangunnya kepercayaan, terciptanya hubungan baik dan loyalitas dari para pelanggan.
- Orientasi akhirat, setiap transaksi bernilai ibadah dan menjadi investasi pahala, bukan semata keuntungan duniawi.
Contoh Kejujuran dalam Berdagang
Kejujuran tidak berhenti pada niat, tetapi tampak dalam praktik sehari-hari, seperti:
- Menjelaskan cacat atau kekurangan barang sebelum transaksi terjadi.
- Tidak bersumpah palsu demi menarik minat pembeli.
- Menetapkan harga secara wajar tanpa mengambil keuntungan berlebihan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments