Search
Menu
Mode Gelap

Dari Pencerahan Menuju Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Dari Pencerahan Menuju Memajukan Kesejahteraan Bangsa
Oleh : Rokhmat Widodo Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Klaling, Sekretaris Jamaah Tani Muhammadiyah Kudus, dan Anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kudus
pwmu.co -

Menjelang bulan November, gema Milad Muhammadiyah mulai terasa di mana-mana.

Semangat perjuangan Kiai Ahmad Dahlan dan para pelopor Islam berkemajuan menyala kembali, dari masjid, sekolah, ruang kuliah, hingga jalanan kota dan desa.

Tahun ini, milad hadir dengan makna lebih mendalam, yaitu tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”.

Tema ini meneguhkan kembali komitmen Muhammadiyah untuk menghadirkan Islam yang bekerja nyata bagi kemaslahatan umat dan kemajuan Indonesia.

Berdiri pada 18 November 1912, Muhammadiyah membuktikan bahwa dakwah tidak hanya sebatas ibadah ritual, melainkan juga perjuangan sosial.

Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah bukan untuk memperbanyak ceramah, tetapi untuk membangkitkan kesadaran umat Islam yang saat itu banyak terperosok dalam kejumudan dan kemiskinan.

Dengan memadukan nilai tauhid dan akal sehat, ia membawa ajaran Islam keluar dari ruang sempit masjid menuju gelanggang kehidupan yang lebih luas: pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kemanusiaan.

Ahmad Dahlan tidak hanya menyeru umat untuk beriman, tetapi juga mengajak mereka berilmu, bekerja keras, dan menolong sesama.

Semangat perjuangan itulah yang kini hidup kembali dalam tema milad tahun ini.

Memajukan Kesejahteraan Bangsa” bukan sekadar semboyan, melainkan panggilan sejarah yang berakar dari perjuangan Muhammadiyah sejak awal.

Bagi Muhammadiyah, kesejahteraan tidak terbatas pada angka ekonomi atau pertumbuhan produk domestik bruto, tetapi mencakup keadaan di mana setiap manusia hidup bermartabat, berpendidikan, sehat, dan berkeadilan.

Kesejahteraan dalam pandangan Islam juga bukan hanya soal materi, melainkan keseimbangan antara lahir dan batin, individu dan masyarakat, serta iman dan amal.

Oleh karena itu, membangun bangsa bagi Muhammadiyah berarti membangun manusia secara utuh: mencerdaskan akal, menyehatkan tubuh, dan memurnikan hati.

Amal Usaha Muhammadiyah

Tidak dapat dimungkiri, kiprah Muhammadiyah dalam memajukan kesejahteraan bangsa telah melampaui usia dan generasi.

Lembaga pendidikannya telah menjamur di berbagai pelosok hingga jantung kota, melahirkan jutaan anak bangsa yang berprofesi sebagai guru, dokter, insinyur, politisi, dan pemimpin masyarakat.

Mereka adalah bukti nyata bahwa kesejahteraan bermula dari pendidikan.

Bagi Muhammadiyah, pendidikan bukan sekadar sarana intelektual, melainkan jembatan sosial untuk mengangkat martabat manusia.

Seperti pesan moral Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.

Kalimat ini bukan hanya sebuah ucapan, melainkan prinsip gerakan bahwa kesejahteraan sejati lahir dari pengabdian, bukan pencarian keuntungan pribadi.

Di bidang kesehatan, rumah sakit Muhammadiyah berdiri kokoh di berbagai daerah, memberikan layanan terjangkau, bahkan bagi masyarakat miskin.

Saat negara masih berjuang menyediakan fasilitas publik yang memadai, Muhammadiyah telah lebih dulu membangun sistem kesehatan berbasis keikhlasan dan profesionalisme.

Melalui setiap perawat yang membantu pasien tanpa memandang latar belakang, dan setiap dokter yang bekerja dengan niat ibadah, Muhammadiyah menegaskan bahwa kesejahteraan bangsa dimulai dari kesehatan warganya.

Kesejahteraan tak akan hadir dalam tubuh yang sakit, juga tak akan tumbuh dalam masyarakat yang terabaikan. Di sinilah Muhammadiyah bekerja dalam senyap, menunaikan dakwah melalui tindakan nyata.

Dalam ranah sosial dan ekonomi, Muhammadiyah terus menjadi pionir gerakan filantropi modern di Indonesia.

Melalui Lazismu dan berbagai lembaga sosial, Muhammadiyah mengelola zakat, infak, dan sedekah secara transparan, memberdayakan masyarakat secara nyata.

Bekerja tanpa pamrih, Muhammadiyah hadir dalam berbagai situasi, mulai dari bencana alam dan kemiskinan struktural hingga pendidikan anak yatim dan pemberdayaan perempuan.

Gerakan ini menegaskan bahwa Islam berkemajuan bukan sebatas wacana, melainkan sebuah jalan hidup yang membangun kesejahteraan umat dari bawah, melalui tindakan konkret, bukan sekadar janji politik.

Dakwah belum usai

Tapi dibalik segala capaian tersebut, milad tahun ini mendorong refleksi mendalam.

Kesejahteraan bangsa masih belum paripurna: kemiskinan masih mencekik jutaan rakyat, dan kesenjangan sosial kian lebar.

Ironisnya, modernisasi justru membawa paradoks; teknologi melesat maju, sementara banyak orang kehilangan pijakan spiritual dan solidaritas sosial.

Maka, Muhammadiyah kembali terpanggil untuk meneguhkan perannya sebagai gerakan pembaruan sosial dan moral.

Untuk memajukan kesejahteraan bangsa, program ekonomi saja tidak cukup. Dibutuhkan revolusi nilai yang menumbuhkan etos kerja, kejujuran, tanggung jawab, dan gotong royong.

Muhammadiyah menyadari bahwa kemiskinan tidak hanya disebabkan oleh kekurangan ekonomi, tetapi juga oleh ketertinggalan pendidikan dan lemahnya kesadaran sosial.

Karena itu, pendidikan menjadi pilar utama kesejahteraan sejak awal berdirinya.

Muhammadiyah mendidik untuk mencerahkan, membebaskan dari kebodohan, dan membentuk karakter, mengajarkan umat untuk berpikir kritis, berakhlak, berilmu, dan rendah hati.

Dengan demikian, visi Muhammadiyah berbeda: kesejahteraan bukan diukur dari materi yang dimiliki, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada sesama.

Milad tahun ini mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk memperluas makna dakwah dalam konteks kekinian.

Dalam dunia yang berubah, kemiskinan tak lagi hanya sebatas ekonomi, melainkan juga informasi dan kesempatan.

Di era digital, ketimpangan pun bergeser; bukan lagi soal kaya dan miskin, tetapi antara mereka yang terhubung dan yang tertinggal.

Karena itu, Muhammadiyah harus beradaptasi dengan memperkuat literasi digital, membangun wirausaha sosial, dan menggerakkan ekonomi berbasis komunitas.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dakwah saat ini bukan hanya di mimbar, tetapi juga di dunia maya; bukan hanya sekadar kata, melainkan aksi nyata untuk kesejahteraan bersama.

Melalui tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa,” Muhammadiyah menegaskan bahwa dakwahnya bersifat inklusif: untuk seluruh bangsa Indonesia, bukan hanya warga Muhammadiyah atau umat Islam.

Dengan semangat rahmatan lil ‘alamin, kesejahteraan tidak mengenal batas agama, etnis, atau kelas sosial.

Muhammadiyah memandang bangsa ini sebagai satu kesatuan—jika ada satu bagian yang sakit, semua turut merasakan.

Inilah alasan mengapa gerakan sosial Muhammadiyah selalu berfokus pada kemanusiaan universal.

Mulai dari membantu korban bencana di Nusa Tenggara Timur, mengirim misi kemanusiaan ke Palestina, membangun sekolah di pedalaman Papua, hingga mengadvokasi keadilan sosial di perkotaan. Ini semua berlandaskan pada satu prinsip: iman yang sejati adalah iman yang menolong manusia.

Tentu, perjuangan memajukan kesejahteraan bangsa tidaklah mudah.

Banyak tantangan menghadang: korupsi yang menggerogoti moral bangsa, degradasi lingkungan akibat kerakusan ekonomi, hingga polarisasi sosial yang merusak persaudaraan.

Dalam situasi ini, Muhammadiyah dituntut tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi penuntun.

Dengan modal sejarah panjang dan jaringan sosial yang luas, Muhammadiyah memiliki kekuatan moral dan intelektual untuk menjadi katalis perubahan.

Ia harus berani bersuara ketika keadilan diabaikan, dan harus turun tangan ketika kemanusiaan dilukai, sebab kesejahteraan sejati tidak akan pernah lahir dari kebisuan.

Milad kali ini adalah pengingat akan warisan agung Kiai Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan: perubahan besar berawal dari langkah kecil, dari ketulusan hati, dari keinginan memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki sesama.

Mereka tak pernah menanti kekuasaan atau bantuan untuk bergerak.

Mereka hanya memegang teguh keyakinan bahwa Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang diwujudkan melalui kerja keras, keikhlasan, dan kepedulian.

Nilai-nilai inilah yang menjadi warisan abadi Muhammadiyah.

Dan kini, generasi muda-lah yang mengemban tugas untuk melanjutkannya—dengan cara yang inovatif, namun dengan semangat yang tak lekang dimakan waktu.

Hadir sebagai solusi

Ketika dunia kini sedang mencari model kesejahteraan yang berkelanjutan dan berkeadilan, Muhammadiyah menawarkan jalan: kesejahteraan berbasis nilai moral dan sosial.

Dalam pandangan Islam, kesejahteraan bukan hanya milik manusia, tetapi juga seluruh makhluk Allah.

Alam, lingkungan, dan manusia adalah satu kesatuan yang harus dijaga.

Memajukan kesejahteraan bangsa, sama halnya menjaga keseimbangan ekologi dan keberlanjutan bumi.

Muhammadiyah telah langkah ke arah itu melalui gerakan eco-masjid, program penghijauan, dan pendidikan lingkungan hidup di sekolah-sekolahnya.

Semua itu menunjukkan bahwa kesejahteraan bukan hanya soal kekayaan, tetapi keberkahan.

Milad bukanlah sekadar peringatan hari jadi Muhammadiyah, melainkan sebuah peristiwa spiritual yang mengajak kita untuk memperbarui tekad.

Tujuannya adalah memperjuangkan kesejahteraan bangsa di tengah perubahan zaman.

Setelah lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah membuktikan bahwa dakwah dapat sejalan dengan ilmu, dan iman bisa beriringan dengan kemajuan.

Kini, tugas generasi penerus adalah melanjutkan perjuangan itu dengan cara yang relevan, yaitu melalui pembangunan ekonomi umat, penguatan pendidikan karakter, penegakan keadilan sosial, dan pemeliharaan kemanusiaan universal.

Sebab, kesejahteraan bangsa tidak akan pernah terwujud dari janji atau kebijakan semata.

Kesejahteraan tumbuh dari kerja nyata dan keringat orang-orang yang tulus beramal.

Di sinilah Muhammadiyah menempatkan diri: bukan sebagai penonton sejarah, melainkan sebagai pelaku perubahan.

Oleh karena itu, ketika gema milad kembali terdengar, kita diingatkan bahwa tanggung jawab tersebut belum usai.

Kiai Ahmad Dahlan mungkin telah tiada, tetapi semangatnya terus hidup dalam setiap guru, dokter, relawan, dan setiap jiwa yang bekerja demi kemaslahatan umat.

Milad kali ini bukan sekadar perayaan, melainkan janji: bahwa Muhammadiyah akan terus menjadi pelita yang memajukan kesejahteraan bangsa, sebagaimana dulu ia menyalakan cahaya Islam di tengah gelapnya penjajahan. Sebab selama iman masih berdenyut dan akal masih berpikir, perjuangan untuk memajukan kesejahteraan bangsa akan terus berlanjut — bersama Muhammadiyah, bersama Islam berkemajuan, bersama Indonesia yang kita cintai.

Milad bukan sekadar perayaan, melainkan deklarasi sebuah janji.

Muhammadiyah berkomitmen terus menjadi pelita yang memajukan kesejahteraan bangsa, seperti saat dulu ia menyalakan cahaya Islam di tengah gelapnya penjajahan.

Selama iman masih berdenyut dan akal masih berpikir, perjuangan untuk memajukan kesejahteraan bangsa akan terus berlanjut.

Ini adalah perjuangan yang dilakukan bersama Muhammadiyah, bersama Islam berkemajuan, dan bersama Indonesia yang kita cintai.

Selamat “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”. Selamat Milad Muhammadiyah ke-113.***

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments