Suasana berbeda terasa di lingkungan Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 2 Tulangan (SD Muda Tusida), Selasa (3/2/2026).
Riuh suara antusias dan tawa ceria siswa kelas 3 memenuhi ruang kelas dalam kegiatan kokurikuler yang penuh warna dan inspirasi. Kali ini, para siswa mendapat tantangan unik: menjadi “seniman grafis cilik” melalui praktik bertajuk “Teknik Sablon dari Kertas Minyak pada Tas Kanvas”.
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pengalaman baru, tetapi juga membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari media sederhana yang mudah ditemukan di sekitar.
Di awal kegiatan, tak sedikit siswa yang menunjukkan raut penasaran sekaligus ragu. “Emangnya bisa ya menyablon pakai kertas minyak?” celetuk salah satu siswa dengan nada tak yakin.
Namun, justru rasa ingin tahu itulah yang menjadi pemantik semangat mereka. Dengan arahan guru, para siswa mulai memahami bahwa seni tidak selalu harus menggunakan alat mahal atau teknik rumit.
Kertas minyak yang biasanya digunakan di dapur, ternyata bisa disulap menjadi media sablon kreatif.
Kegiatan ini dirancang bukan sekadar aktivitas bermain cat. Ada misi pembelajaran yang ingin dicapai, yakni:
1. Mengasah kreativitas, melalui eksplorasi seni cetak sederhana yang unik dan inovatif.
2. Bereksperimen dengan teknik baru, memahami langkah-langkah menyablon menggunakan media yang aman dan ramah anak.
3. Membangun karakter hebat, seperti kesabaran, ketelitian, tanggung jawab, serta keberanian mencoba hal baru.
Langkah demi langkah dilakukan dengan penuh kesungguhan. Siswa mulai dari menyiapkan pola gambar pada kertas minyak, meletakkannya di atas tas kanvas, mengoleskan lem secara hati-hati, hingga tahap paling mendebarkan: mengelupas kertas untuk melihat hasil cetakan.
Momen ketika pola terangkat dan meninggalkan jejak gambar di tas kanvas menjadi saat yang paling ditunggu. Sorak kecil dan wajah berbinar terlihat di setiap sudut kelas. Tas polos yang semula sederhana kini berubah menjadi karya personal yang unik dan penuh warna.
Tak ada dua tas yang sama. Setiap karya mencerminkan imajinasi dan karakter masing-masing siswa. Ada yang memilih motif bunga, karakter lucu, hingga bentuk-bentuk geometris yang kreatif.
Rasa bangga pun terpancar saat mereka menjinjing tas hasil karya sendiri. Sebuah karya yang bukan hanya indah, tetapi juga memiliki nilai proses dan pengalaman.
Guru kelas 3 yang mendampingi kegiatan, Dhita Miftakhur Rosyidah, mengungkapkan rasa syukurnya melihat antusiasme siswa selama proses berlangsung.
“Awalnya mereka ragu, tapi setelah praktik langsung, mereka justru sangat bangga. Kegiatan ini sangat efektif sebagai pembelajaran yang bermakna. Tidak hanya soal hasil akhir, tetapi tentang bagaimana mereka bekerja sama, sabar menunggu proses, dan percaya diri dengan kemampuan seninya,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran berbasis praktik seperti ini mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih mendalam.
“Siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga merasakan proses mencoba, gagal, memperbaiki, dan akhirnya berhasil,” ujarnya.
Kegiatan kokurikuler ini menjadi bukti bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan fasilitas mewah. Dengan media sederhana dan biaya yang terjangkau, siswa SD Muhammadiyah 2 Tulangan mampu menghasilkan karya luar biasa.
Lebih dari sekadar tas kanvas, kegiatan ini menanamkan nilai keberanian bereksperimen dan kepercayaan diri sejak dini.
Anak-anak belajar bahwa ide kreatif bisa muncul dari mana saja, bahkan dari selembar kertas minyak.
Suasana penuh semangat hari itu menjadi gambaran nyata komitmen SD Muda Tusida dalam menghadirkan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan bermakna.
Dari kelas kecil di Tulangan, lahirlah karya-karya unik yang membuktikan satu hal: kreativitas memang tak berbatas. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments