Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Riuh Warkop Menuju Teduhnya Masjid

Iklan Landscape Smamda
Dari Riuh Warkop Menuju Teduhnya Masjid
Ridwan Manan. Foto: Dok/Pri
Oleh : Ridwan Manan Ketua Takmir Masjid “Ramah Musafir” Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran Sidoarjo dan Kepala SMA Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo
pwmu.co -

Tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan dan muhasabah sosial yang harus disikapi bersama. Bukan hanya tugas takmir masjid, para dai, dan guru, tetapi juga tugas orang tua, keluarga, serta masyarakat.

Pemandangan ini menggugah jiwa dan mengusik masa depan generasi umat Islam dalam membangun peradaban di masa mendatang. Kian hari, para remaja semakin jauh dari masjid, sementara warkop semakin ramai.

Setelah Magrib, deretan warkop, kafe, dan tempat nongkrong penuh oleh remaja. Gelak tawa, obrolan santai, dan layar gawai yang menyala menjadi teman setia mereka. Seakan mereka punya slogan, “No gadget, no life.”

Sebaliknya, masjid-masjid di sekitar kita justru tampak lengang, terutama dari kehadiran generasi muda. Saf-saf salat didominasi oleh orang tua, sementara remaja seolah menjauh dari rumah Allah.

Fenomena ini patut menjadi keprihatinan bersama. Bukan untuk menyalahkan remaja semata, tetapi sebagai bahan muhasabah sosial: ada apa dengan pola pembinaan keagamaan kita? Mengapa masjid terasa kurang menarik bagi anak muda, sementara warkop begitu memikat?

Sebagian masjid masih memposisikan remaja sekadar sebagai pelengkap, bukan subjek utama dakwah. Program keagamaan cenderung monoton, komunikasinya satu arah, dan kurang menyentuh dunia mereka.

Ceramah yang panjang, bahasa yang kaku, serta minimnya ruang dialog membuat masjid terasa jauh dari dinamika anak muda.

Padahal, remaja hidup dalam dunia yang cepat, visual, dan interaktif. Mereka terbiasa dengan diskusi, ekspresi, dan kebersamaan.

Warkop menyediakan ruang itu: bebas berbicara, akrab, tanpa tekanan. Jika masjid tidak mampu menghadirkan suasana yang ramah, hangat, dan dialogis, maka wajar jika remaja lebih memilih ruang sosial lain.

Tantangan Keluarga dan Lingkungan

Hilangnya remaja dari masjid juga tidak lepas dari peran keluarga. Banyak orang tua yang belum menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan iman anak. Salat berjamaah, kajian, dan aktivitas masjid jarang dijadikan kebiasaan bersama.

Orang tua sibuk dengan kesalehan dirinya sendiri, tetapi lupa merangkul dan mengajak anaknya berjamaah serta mengikuti kegiatan masjid. Akibatnya, ikatan emosional remaja dengan masjid menjadi lemah.

Di sisi lain, derasnya arus digital, budaya populer, dan gaya hidup instan turut menggeser orientasi spiritual remaja. Tanpa pendampingan yang intensif, mereka mudah larut dalam arus pergaulan yang menjauhkan dari nilai-nilai masjid.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Takmir masjid perlu berbenah. Bukan dengan mengubah fungsi utamanya, tetapi dengan memperkaya pendekatan dakwahnya.

Takmir perlu mengedepankan cara dakwah yang inklusif di kalangan remaja, sesuai dengan zamannya.

Remaja harus dilibatkan sebagai subjek, bukan objek. Berikan mereka ruang untuk berkreasi, berdiskusi, dan berkontribusi.

Program kajian tematik remaja, kelas literasi digital Islami, pelatihan kepemimpinan, kajian santai, olahraga sunah, hingga wirausaha masjid dapat menjadi jembatan untuk mendekatkan mereka. Masjid harus menjadi tempat yang hidup, hangat, dan penuh makna.

Rasulullah saw telah mencontohkan bagaimana masjid menjadi pusat peradaban: tempat ibadah, pendidikan, musyawarah, dan pembinaan generasi.

Remaja pada masa Nabi tumbuh menjadi pribadi tangguh karena masjid hadir dalam denyut kehidupan mereka.

Meramaikan masjid dengan remaja bukan tugas takmir semata. Orang tua, guru, dai, dan seluruh elemen umat harus bersinergi. Kita perlu menghadirkan masjid yang ramah, komunikatif, dan membahagiakan bagi generasi muda.

Jika warkop mampu menjadi ruang kebersamaan, maka masjid seharusnya lebih mampu lagi menghadirkan makna, arah hidup, dan ketenangan jiwa.

Takmir masjid dapat menyiapkan ruang ramah remaja—bahkan konsep kafe sederhana yang gratis dan terbuka—agar siapa saja dapat menikmati suasana yang aman dan nyaman sebagai bagian dari pendekatan dakwah.

Saat remaja kembali merindukan masjid, di situlah tanda kebangkitan peradaban umat dimulai. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu