
PWMU.CO – Pada Rabu malam (11/6/2025) suasana Dusun Prambon terasa lebih hidup. Rumah Bapak Kasiadi menjadi titik ketiga dari rangkaian Pengajian Keliling yang kini digalakkan.
Sebelumnya, pengajian rutin jamaah Prambon dilaksanakan di masjid. Kini, dalam semangat kekeluargaan yang lebih hangat, kegiatan ini dilakukan secara bergiliran di rumah-rumah warga.
Malam itu, kegiatan semakin semarak dengan kehadiran lima mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), yang merupakan bagian dari komunitas Prambon sendiri. Mereka ikut aktif terlibat sebagai pembawa acara, pembaca Al-Qur’an, pemateri kultum, hingga pembagi doorprize.
Salah satu di antaranya adalah Fitri, yang sudah tidak asing bagi jamaah. Fitri dipercaya menyampaikan kultum dan menyampaikan bahwa kehadirannya di depan bukan karena merasa lebih pintar, melainkan sebagai bentuk kebersamaan dalam belajar dan menyebarkan ilmu keislaman.
Ia mengulas secara ringkas tentang ibadah mahdhah (ibadah langsung kepada Allah seperti salat) dan ghairu mahdhah (ibadah sosial seperti tolong-menolong dan hidup rukun sesama manusia), serta pentingnya menjalankan keduanya.
Ceramah utama malam itu disampaikan oleh Jaelani SPd dengan gaya santai namun menyentuh. Beliau mengajak jamaah untuk terus semangat hadir di majelis ilmu, karena pengajian bukan hanya rutinitas, tetapi sumber kekuatan iman. “Mengejar dunia sampai ujung pun tak akan membuat puas. Tapi mengejar akhirat, akan membuat dunia ikut mendekat,” ucapnya.
Mengutip Surah Al-Qashash ayat 77, ia menegaskan pentingnya menyeimbangkan antara usaha duniawi dan bekal akhirat. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.”
Lebih lanjut, ia mengajak jamaah untuk menjaga kebersihan hati. Nafsu, kata beliau, secara alami cenderung kepada hal yang buruk, maka penting untuk mengendalikannya. Ia juga mengingatkan agar tidak mudah berprasangka buruk dan selalu mencari sisi baik orang lain.
“Jika kamu bisa menutupi aib orang lain, maka Allah akan menutupi aibmu.”
Dalam era digital, beliau juga berpesan agar media sosial digunakan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. “Buatlah status tentang dakwah, bukan hal-hal yang tidak penting,” pesannya.
Pesan yang sangat menggugah muncul di akhir ceramah, “Membangun masjid itu mudah. Tapi mencari orang yang mau salat di dalamnya, itu yang sulit. Jangan sampai di rumah kita ada anggota keluarga yang tidak salat—karena itu bisa menjadi penghalang rezeki.”
Sebelum acara ditutup, panitia membagikan doorprize kepada para peserta sebagai bentuk apresiasi dan penyemangat bagi jamaah yang hadir dan aktif dalam kegiatan. Jamaah pun antusias dan tetap bertahan hingga akhir acara.
Salah satu jamaah, Bu Muani, menyampaikan kesannya dengan penuh semangat, “Ceramahnya sangat mengena, dan penyampaiannya juga membuat orang tertawa. Tidak menyebabkan mengantuk, meskipun sudah malam.”
Pengajian malam tadi bukan sekadar kegiatan ibadah rutin. Ia adalah wujud nyata kolaborasi antar generasi dalam dakwah—bergerak dari rumah ke rumah, menyemai ilmu, dan membangun ukhuwah di tengah masyarakat.
Penulis Dianty Nur Fitri Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments