Sepekan setelah Rapat Kerja di Sarangan, gema semangat itu rupanya belum juga mereda. Ide-ide yang lahir di kaki Gunung Lawu masih terasa hangat di benak para pengurus Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK). Mereka kembali berkumpul. Kali ini bukan di hotel pegunungan, melainkan di Kantor PWM Jatim, Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya. Di tempat itulah, langkah-langkah lanjutan mulai dirumuskan. Lebih konkret, lebih fokus, dan semakin mendekati wujud nyata. Berikut lanjutan kisah lahirnya portal berkemajuan PWMU.CO.
Siang itu Surabaya sedang terik-teriknya. Matahari seolah tepat bertengger di atas ubun-ubun, memantulkan panas yang menyengat dari halaman kantor.
Aktivitas di kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim tetap berjalan seperti biasa. Beberapa pegawai lalu-lalang dengan berkas di tangan, sementara suara percakapan dari ruang-ruang rapat terdengar samar.
Di salah satu ruangan, Nadjib Hamid, Wakil Ketua PWM Jawa Timur, tampak berada di tempatnya. Dia sedang menjalani rutinitas siang di kantor—menerima tamu, berdiskusi, dan menuntaskan sejumlah urusan organisasi.
Ustaz Nadjib juga menunggu para pengurus LIK yang dijadwalkan menggelar rapat siang itu. Seperti kebiasaannya setiap kali ada pertemuan di kantor PWM, sebelumnya ia telah meminta staf untuk menyiapkan makan siang lengkap dengan aneka camilan sebagai pendamping rapat.
Suasana pertemuan pun diharapkan tetap berlangsung hangat. Diskusi berjalan serius, tetapi tetap terasa akrab.
Rapat tidak lagi berkutat pada konsep besar seperti visi atau misi. Semua sudah disepakati di Sarangan. Kini pembicaraan bergerak lebih praktis. Bahkan bisa dibilang lebih “membumi”. Fokusnya satu: bagaimana membuat PWMU.CO tampil lebih meyakinkan di ruang digital.
Diskusi mengalir cepat. Ada yang mengusulkan tampilan halaman depan dibuat lebih bersih agar mudah dibaca. Ada pula yang menyoroti pentingnya rubrikasi yang jelas supaya pembaca tidak kebingungan mencari berita.
Beberapa yang lain bicara tentang gaya penulisan, ritme pemberitaan, hingga bagaimana menjaga agar konten tetap segar setiap hari.
Suasana rapat terasa hidup. Kadang serius, kadang diselingi canda ringan. Tapi satu hal yang sama: semua orang ingin portal yang baru lahir itu benar-benar tampil sebagai media dakwah digital Muhammadiyah Jawa Timur.
***
Di antara berbagai pembahasan teknis yang mengisi rapat siang itu, ada satu hal yang paling ditunggu: logo PWMU.CO.
Permintaannya jelas. Logo PWMU.CO harus benar-benar mewakili identitas Muhammadiyah. Sekali orang melihatnya, mereka langsung paham sedang berhadapan dengan apa. Karena itu, desainnya dituntut kuat, sederhana, sekaligus mudah diingat.

Bukan sekadar untuk mempercantik tampilan website. Logo ini nantinya juga akan dipakai untuk berbagai kebutuhan administratif: mulai dari kop surat, banner kegiatan, hingga rencana mencetak kaus bagi tim redaksi dan para relawan yang ikut menghidupkan portal ini.
Tak heran, ketika pembahasan mulai mengerucut pada desain logo, perhatian peserta rapat langsung tertuju ke satu titik. Beberapa sketsa mulai dibicarakan.
Ada yang memberi masukan soal warna, ada yang mengomentari bentuk huruf, ada pula yang menimbang apakah simbolnya cukup merepresentasikan semangat Muhammadiyah Jawa Timur.
Diskusi kecil itu tampak sederhana. Namun di baliknya tersimpan kesadaran besar: sebuah media yang ingin tumbuh besar harus dimulai dari identitas yang kuat.
Dan di ruang rapat sederhana di Kertomenanggal itulah, perlahan-lahan wajah PWMU.CO mulai dibentuk.
Tak lama kemudian, Nasrullah yang datang bersama Jamroji membawa kabar yang ditunggu-tunggu.
“Logonya sudah jadi. Ini yang buat Mas Ridlo,” katanya. Nama yang disebut Nasrullah adalah Ridlo Setyono, S.Pd, staf akademik di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Nasrullah kemudian bercerita bagaimana proses logo itu lahir. Awalnya, beberapa hari seulang dari Magetan, dia mencoba membuat sketsa sendiri untuk logo PWMU.CO. Saat mengutak-atik desain, ia menemukan bentuk huruf yang terasa unik.
“Awalnya mau dibuat wordmark, mirip logo Tempo. Tapi setelah dicoba, kok terasa kaku,” aku dosen UMM itu.
Malam itu rupanya cukup panjang. Nasrullah berkali-kali mencoba berbagai kemungkinan desain, tetapi belum juga menemukan bentuk yang terasa pas.
Hingga akhirnya, menjelang larut malam, ia menemukan satu bentuk yang berbeda. “Yang terakhir itu menemukan logo seperti yang sekarang. Logo yang bisa dibaca bolak-balik,” ujarnya.
Nasrullah kemudian meminta Ridlo Setyono untuk mengeksekusi sketsa logo yang sudah ia temukan itu. Gayung pun bersambut. Ridlo lantas menyempurnakan garis-garisnya, menata komposisinya, hingga akhirnya lahirlah logo PWMU.CO seperti yang dikenal sekarang.
Ketika logo itu ditunjukkan di ruang rapat, suasana sejenak menjadi hening. Beberapa orang mendekat, memperhatikan dengan saksama. Ada yang mengangguk pelan, ada pula yang tersenyum.
Ridlo lalu menjelaskan filosofi di balik desain yang ia buat. Menurutnya, gambar matahari berbintang dalam logo itu bukan sekadar ornamen. Ia menggambarkan beragam ide, gagasan, dan pemikiran warga persyarikatan.

Semua itu kelak bisa dituangkan dalam media PWMU.CO, menjadi cahaya yang menerangi dakwah organisasi yang berkemajuan.
“Harapannya sederhana,” ujar Ridlo pelan. “Media ini bisa menjadi tempat bertemunya banyak pikiran baik. Dari situlah dakwah Muhammadiyah bisa terus bersinar dan memberi manfaat bagi siapa saja.”
Sementara itu, huruf PWMU dirancang dengan lekuk yang seimbang—elastis dan fleksibel.
Bagi Ridlo, bentuk ini melambangkan ruang media yang terbuka, tempat berbagai ide bisa hadir secara terukur dan bermakna. Tulisan-tulisannya diharapkan tetap ringan, menyentuh, menggembirakan, sekaligus mengasyikkan untuk dibaca.
“Media itu tidak harus selalu berat. Yang penting pesannya sampai, menyentuh hati, dan membuat orang senang membaca,” jelasnya.
Keunikan lain dari huruf PWMU adalah bentuknya yang tetap terbaca meski dibolak-balik. Ridlo menyebutnya sebagai simbol keseimbangan.
“Artinya media ini harus nyaman untuk semua. Berimbang, tidak berat sebelah, dan bisa diterima oleh berbagai kalangan,” tambahnya.
Pilihan warna pun tidak dibuat sembarangan. PW diberi warna biru sebagai simbol persyarikatan Muhammadiyah—tenang, kokoh, dan terpercaya. Sedangkan MU berwarna oranye, melambangkan ghirah atau semangat yang menyala-nyala.
“Oranye itu warna energi. Semangat untuk menulis, berbagi cerita, dan terus menghidupkan dakwah lewat kata-kata,” ujar Ridlo.
Di bagian bawah logo itu kemudian ditambahkan sebuah kalimat pendek yang sarat makna: “Dakwah Berkemajuan.”
Slogan itu bukan sekadar pelengkap visual. Ia menjadi arah sekaligus janji. Bahwa PWMU.CO akan hadir sebagai ruang dakwah yang dinamis, realistis, logis, dan cerdas—ciri khas warga Muhammadiyah yang berkemajuan. (bersambung)






0 Tanggapan
Empty Comments