Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Stasiun ke Masjid: Kisah Dakwah KH Ahmad Dahlan di Jawa Timur

Iklan Landscape Smamda
Dari Stasiun ke Masjid: Kisah Dakwah KH Ahmad Dahlan di Jawa Timur
pwmu.co -
KH Ahmad Dahlan dan HOS Tjokroaminoto (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pada suatu malam di awal abad ke-20, sebuah stasiun kereta di Malang menjadi saksi pertemuan yang kelak meninggalkan jejak sejarah panjang.

KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, baru saja tiba dari perjalanan dakwahnya. Malam kian larut, dan beliau belum menemukan tempat bermalam. Seorang kepala stasiun bernama Pak Aspari menawarinya singgah di rumah. Kiai Dahlan menerima dengan ramah.

Pertemuan singkat itu rupanya berkesan mendalam bagi Pak Aspari. Dari sikap sederhana dan ibadah Kiai Dahlan yang penuh khusyuk, ia merasakan keteladanan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Singkat cerita, kepala stasiun itu akhirnya memeluk Muhammadiyah.

Cerita-cerita seperti ini banyak tercecer di Jawa Timur. Kini, jejak itu kembali dirangkai oleh dua sejarawan Muhammadiyah, Azrohal Hasan dan Teguh Imami, dalam buku Sang Surya di Jawa Dwipa: Jejak Kiai Dahlan di Jawa Timur.

Buku setebal 238 halaman yang diterbitkan MPID PWM Jawa Timur bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) ini menghadirkan potongan sejarah yang selama ini jarang tersentuh. Tim penulis bahkan menelusuri enam kota di Jawa Timur untuk menemukan tapak dakwah sang kiai.

Azrohal Hasan bersama Teguh Imami saat podcast bersama PWMUTV (PWMUTV)

Dari Surabaya hingga Ponorogo, jejak Ahmad Dahlan hadir di masjid-masjid yang berdiri tak jauh dari stasiun kereta api. Tak sekadar kebetulan, pola ini ternyata merupakan strategi dakwah.

Menurut Azrohal, buku ini ditulis menggunakan metodologi sejarah dan analisis sosial.

“Kami mencari data-data Muhammadiyah di Jawa Timur dan melakukan penelitian langsung di lapangan,” ujarnya dalam Podium Podcast PWMUTV.

Perjalanan ini juga berawal dari pertemuan Azrohal dengan Prof Abdul Munir Mulkhan di Yogyakarta. Guru besar UGM itu memberi informasi tentang sebuah penelitian mahasiswa Unair mengenai Rumah Sakit Muhammadiyah di Jalan KH Mas Mansur, Surabaya, yang pada masa awalnya dikenal sebagai Balai Pengobatan (BP) Muhammadiyah.

Dari temuan itu, Azrohal menelusuri arsip nasional dan menemukan SK pendirian BP Muhammadiyah yang memuat nama-nama besar, di antaranya Prof Moestopo dan dr Soetomo. Temuan ini membuka jalan untuk menelusuri irisan sejarah Ahmad Dahlan dengan para tokoh yang kini menjadi pahlawan nasional.

“Kami menemukan semua aktivitas Kiai Dahlan di Jawa Timur terkait perdagangan batik dan sarung. Dari berdagang itulah beliau berdakwah dan membangun jejaring keluarga,” jelas Teguh.

Misi Kiai Dahlan sederhana tetapi terencana: berdagang, berdakwah, bersilaturahmi, dan menyebarkan Muhammadiyah. Dalam konteks masa itu, ekonomi adalah bahan bakar dakwah. “Mungkin sama dengan sekarang, kalau berdakwah dapur harus tetap ngepul,” seloroh Teguh.

Tahun 1916, Surabaya menjadi kota pertama yang disinggahi Kiai Dahlan di Jawa Timur. Di kota pelabuhan ini, ia bertemu dengan tokoh pergerakan nasional HOS Tjokroaminoto, ketua Serikat Dagang Islam (SDI). Pertemuan di rumah Tjokro di kawasan Peneleh ini menjadi momentum penting dalam penyebaran Muhammadiyah di Jawa Timur.

Dukungan Tjokro memungkinkan Kiai Dahlan berdakwah di masjid-masjid besar Surabaya, bahkan di hadapan tokoh-tokoh muda yang kelak mewarnai sejarah Indonesia.

“Di antara mereka ada Bung Karno, Semaoen, Kartosuwiryo, dan Roslan Abdulgani. Mereka mengaku mendapat pemahaman baru tentang Islam dari pengajian Kiai Dahlan,” ungkap Azrohal.

“Bisa dibilang Pak Tjokro lah yang meng-endorse Kiai Dahlan,” timpal Teguh.

Jejak Ahmad Dahlan di Jawa Timur juga tercatat dalam bidang sosial. Balai Pengobatan Muhammadiyah di Surabaya menjadi bukti nyata perhatian beliau terhadap pelayanan umat. Dari sinilah cikal bakal RS Muhammadiyah Surabaya berdiri di Jalan KH Mas Mansur.

SK pendirian BP Muhammadiyah mencantumkan nama Prof Moestopo dan dr Soetomo, dua tokoh nasionalis religius. Sementara wakaf untuk rumah sakit berasal dari KH Mas Mansur, yang kelak menjadi Ketua PP Muhammadiyah.

“Kalau sekarang ada program Jumat Berkah, dulu Kiai Dahlan melakukan hal serupa. Dakwah beliau bukan dogmatis, tapi melalui keteladanan sosial dan jejaring ekonomi umat,” jelas Teguh.

Perjalanan Kiai Dahlan di Jawa Timur bukan sekadar rangkaian ceramah agama. Ini adalah kisah dakwah yang membumi: berdagang di pasar, menginap di rumah kepala stasiun, berdiskusi di rumah Tjokroaminoto, hingga mendirikan balai pengobatan untuk umat.

Jejak-jejak itu menjadi fondasi awal Muhammadiyah di Jawa Timur. Dari Surabaya, Malang, Madiun, Pasuruan, hingga Ponorogo, pesan yang ditinggalkan Kiai Dahlan jelas: dakwah yang efektif lahir dari jejaring sosial, keteladanan, dan kemandirian ekonomi.

Lebih dari seabad berlalu, kisah ini tetap relevan. Di tengah hiruk pikuk kota modern, kita seakan bisa membayangkan kembali sosok Kiai Dahlan turun dari kereta, menenteng batik dan sarung, lalu melangkah ke masjid untuk menebar pencerahan. (*)

Simak dialog lengkap di link ini: https://www.youtube.com/watch?v=CTfZXC0I4kM

Penulis Agus Wahyudi Editor Wildan Nanda Rahmatullah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu