Setiap pagi sebelum bel berbunyi, seorang pria bersahaja telah berdiri di gerbang SD Muhammadiyah 6 Gadung. Dengan senyum hangat, ia menyapa satu per satu siswa yang datang. Saat salat Dhuha, ia berada di shaf terdepan, mendampingi peserta didik.
Bagi siswa, ia adalah kepala sekolah. Namun bagi guru dan orang tua, ia adalah teladan dalam kepemimpinan dan pengabdian.
Dialah Munahar, S.H.I., M.Pd.—seorang pendidik yang perjalanan hidupnya sarat ketekunan, keberanian, dan keikhlasan.
Munahar lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, dalam lingkungan religius yang sederhana. Sejak muda, ia aktif dalam dakwah dan organisasi Muhammadiyah.
Nilai-nilai keislaman membentuk pandangannya bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter.
Perjalanan pengabdian dimulai dari peran sederhana: marbot, imam, hingga muadzin masjid. Dari sana, ia belajar arti pelayanan, kedisiplinan, dan keikhlasan—nilai yang menjadi fondasi kepemimpinannya.
Langkahnya di dunia pendidikan dimulai dari posisi yang sederhana sebagai petugas perpustakaan di SD Muhammadiyah 6 Gadung.
Dari ruang penuh buku, ia belajar tentang manajemen, pelayanan, dan pentingnya literasi. Perjalanan berlanjut saat ia dipercaya menjadi guru Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
Di sinilah perannya semakin kuat—tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing akhlak peserta didik.
Salah satu momen paling menentukan terjadi saat rekrutmen kepala sekolah di lingkungan Muhammadiyah Wonokromo.
Saat itu, sebuah sekolah Muhammadiyah berada di ambang penutupan akibat minimnya jumlah siswa. Banyak guru hadir—senior hingga berpengalaman—namun tidak ada yang bersedia menerima amanah tersebut.
Di tengah keheningan itu, Munahar mengangkat tangan, dengan mata berkaca-kaca:
“Jika yang senior tidak ada yang bersedia, bismillah, saya yang akan berangkat.”
Kalimat sederhana itu menjadi titik balik perjalanan hidupnya.
Ia kemudian dipercaya memimpin SD Muhammadiyah 24 Ketintang Surabaya dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Jumlah siswa minim, fasilitas terbatas, bahkan kesejahteraan guru sangat terbatas. Namun dengan ketekunan dan kepemimpinan yang kuat, ia mulai membangun.
Perlahan, kepercayaan masyarakat tumbuh. Jumlah siswa meningkat signifikan, dan sekolah tersebut bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang diperhitungkan.
Keberhasilan tersebut mengantarkan Munahar kembali dipercaya memimpin SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya hingga tiga periode.
Di bawah kepemimpinannya, sekolah berkembang tidak hanya dalam prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter.
Salah satu momen paling inspiratif adalah ketika ia melelang motor pribadinya untuk memulai pembangunan Gedung Gen-Q Center—pusat generasi Qur’an.
Tindakan ini menjadi simbol kepemimpinan yang nyata: memimpin dengan keteladanan, bukan sekadar kata-kata.
Munahar mengusung visi Qur’anic and International Insight, yakni memadukan nilai Al-Qur’an dengan wawasan global.
Ia ingin melahirkan generasi yang:
- kuat dalam iman
- luas dalam pengetahuan
- siap menghadapi tantangan zaman
Baginya, keberhasilan pendidikan bertumpu pada keteladanan.
Kesederhanaan, kedekatan dengan siswa dan guru, serta konsistensi nilai menjadikan sekolah sebagai ruang yang hangat dan inspiratif.
“Pendidikan yang berhasil lahir dari keteladanan,” tegasnya.
Perjalanan Munahar membuktikan bahwa pengabdian tulus akan selalu menemukan jalannya.
Dari marbot masjid hingga kepala sekolah, semua dijalani dengan keikhlasan.
Di tangannya, sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat menyalakan cahaya masa depan.
- Nama: Munahar, S.H.I., M.Pd.
- TTL: Bojonegoro, 21 Juli 1980
- Profesi: Pendidik
- Jabatan: Kepala SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya
- Organisasi: Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jawa Timur
- Orang Tua: Basar (alm) & Sadiyem
- Istri: Kocik Ishaq, S.Pd.I.
- Anak: Hasna Syahla Muthia Al-Muna, Keisha Salsabila Putri Al-Muna, Gibran Atalah
- Hobi: Membaca
- Moto: Mulia dan Memuliakan





0 Tanggapan
Empty Comments