Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Darul Arqam IMM dan IPM Jatim Kupas Pembaruan Islam di Era Digital

Iklan Landscape Smamda
Darul Arqam IMM dan IPM Jatim Kupas Pembaruan Islam di Era Digital
Sesi penyampaian materi (Nur Maslikhatun Nisak/PWMU.CO)
pwmu.co -

Di tengah semilir angin pegunungan Prigen, Aula Agro Mulia Pasuruan kembali menjadi saksi pertemuan kader-kader muda Muhammadiyah.

Pada sesi ketujuh Darul Arqam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, para peserta mendapatkan materi dari Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, Hanifuddin Hakim ST MT pada Jumat (29/8/2025).

Ia mengajak para kader untuk menelaah tema “Pembaruan Islam dan Gerakan Ilmu Amaliah-Amal Ilmiah” dalam konteks dunia modern yang penuh dengan disrupsi digital.

Materi pada sesi ini membahas konsep tajdid atau pembaruan Islam, yakni sebuah gerakan untuk menghidupkan kembali ajaran Islam yang autentik berdasarkan al-Quran dan Sunnah, agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Hanifuddin menegaskan bahwa pembaruan Islam bukanlah upaya untuk menciptakan agama baru, melainkan proses pemurnian (purifikasi) dari praktik-praktik yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, tajdid juga merupakan bentuk dinamisasi ajaran Islam agar mampu menjawab berbagai tantangan kontemporer.

“Kalau KH Ahmad Dahlan dulu berani menggunakan papan tulis dan kurikulum modern sebagai sarana dakwah, maka kader IMM dan IPM sekarang harus berani memanfaatkan teknologi digital, riset, dan literasi global untuk melanjutkan tajdid,” tegasnya.

Sebagai dosen Muhammadiyah sekaligus praktisi teknologi, Hanifuddin hadir membawa semangat baru. Latar belakang akademiknya sebagai mahasiswa doktoral di Unair membuat penyampaiannya ilmiah, kontekstual, dan futuristik.

Peserta yang hadir merupakan kader-kader terbaik IMM dan IPM dari seluruh Jawa Timur. Mereka menyimak dengan antusias pemaparan mengenai tokoh-tokoh pembaruan Islam, mulai dari Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Rida, hingga KH Ahmad Dahlan.

Salah satu peserta dari Sidoarjo, Zulfa Anida mengaku terkesan.

“Saya baru paham bahwa pembaruan Islam itu bukan sekadar jargon, tetapi gerakan nyata yang harus dilakukan lewat ilmu, riset, dan amal sosial. Itu sangat relevan dengan zaman digital sekarang,” ujarnya.

Hanifuddin juga menekankan bahwa tajdid harus menyasar pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial-politik dengan memanfaatkan teknologi.

Dalam penyampaian materi ini, suasana akademik terasa kuat, namun tetap cair melalui diskusi yang interaktif. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya, salah satunya mengenai bagaimana Muhammadiyah menghadapi “kolonialisme modern” dalam bentuk kapitalisme global dan dominasi budaya populer.

Hanifuddin menjelaskan bahwa materi ini penting karena umat Islam tidak boleh berhenti belajar dan berinovasi. Ia menyoroti bahwa setelah abad ke-13, dunia Islam mengalami stagnasi intelektual yang berkepanjangan, hingga akhirnya datang gelombang kolonialisme Barat.

Menurutnya, dalam konteks inilah, gerakan tajdid hadir sebagai jawaban untuk membangkitkan kembali semangat keilmuan dan pembaruan dalam Islam. Gerakan ini mencakup tiga pilar utama:

  • Purifikasi, yaitu membersihkan ajaran Islam dari praktik-praktik yang tidak sesuai dengan syariat, seperti bid’ah, khurafat, dan takhayul.
  • Dinamisasi, yakni menjadikan ajaran Islam relevan dan responsif terhadap tantangan zaman.
  • Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah, yaitu mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan umat, sekaligus melandasi setiap amal dengan dasar keilmuan.

“Kalau ilmu tidak diamalkan, ia hanya menjadi wacana. Tapi kalau amal tanpa ilmu, ia bisa salah arah. Kader Muhammadiyah harus mampu mengintegrasikan keduanya,” tutur Hanifuddin.

Strategi Tajdid di Era Digital

Hanifuddin kemudian menguraikan strategi konkret agar kader IMM dan IPM mampu menjadi motor pembaruan Islam di era digital, di antaranya yakni:

1. Budaya Riset dan Literasi

IMM harus membangun tradisi penelitian, sementara IPM mendorong budaya baca di kalangan pelajar.

2. Pemanfaatan Teknologi

AI, media sosial, dan big data harus dijadikan sarana dakwah, bukan sekadar hiburan.

3. Gerakan Sosial Berbasis Data

Program sosial Muhammadiyah perlu didukung penelitian sederhana agar tepat sasaran.

4. Kolaborasi Global

Kader Muhammadiyah harus siap terlibat dalam diskursus internasional dengan bekal ilmu dan bahasa.

5. Keteladanan Moral

Tajdid tidak hanya soal ilmu, tetapi juga akhlak yang menjadi daya tarik dakwah.

Sebagai contoh nyata, Hanifuddin menyinggung keberadaan rumah sakit Muhammadiyah yang mampu melayani masyarakat miskin tanpa mengabaikan penerapan manajemen modern. Hal ini menjadi bukti nyata amal ilmiah yang dijalankan berdasarkan riset dan data.

Sesi ini berlangsung dengan hangat. Pertanyaan-pertanyaan dari peserta mencerminkan kegelisahan sekaligus optimisme mereka terhadap masa depan gerakan Islam.

“Kalau KH. Ahmad Dahlan hidup di era sekarang, inovasi apa yang kira-kira beliau lakukan untuk dakwah digital?,” tanya salah satu kader IMM Jawa Timur asal Lamongan, Nur Fairus.

Hanifuddin kemudian menjawab dengan tersenyum, “Saya yakin, jika KH Ahmad Dahlan hidup di era sekarang, beliau akan menjadi pengguna aktif teknologi, memanfaatkan media sosial, bahkan mungkin mendirikan platform dakwah digital berskala global. Karena spirit tajdid itu adalah relevansi dan keberanian untuk berinovasi.”

Tajdid sebagai Jalan Peradaban

Sesi ketujuh Darul Arqam IMM dan IPM Jawa Timur ini menegaskan kembali bahwa tajdid adalah jantung gerakan Muhammadiyah. Dengan mengintegrasikan ilmu amaliah dan amal ilmiah, kader diharapkan mampu menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, progresif, dan relevan di era digital.

“Kalau kita ingin Muhammadiyah tetap menjadi pelopor, jangan pernah berhenti belajar, meneliti, dan berinovasi. Itulah hakikat tajdid sejati,” pungkas Hanifuddin.

Para peserta pulang dari sesi ini dengan semangat baru, bukan hanya sebagai aktivis organisasi, tetapi juga sebagai agen pembaruan Islam yang siap menjawab tantangan zaman dengan ilmu dan amal nyata. (*)

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu