Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Darul Arqam IMM dan IPM Jatim Kupas Penguatan Manajemen Organisasi dan Akhlak Bermuhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Darul Arqam IMM dan IPM Jatim Kupas Penguatan Manajemen Organisasi dan Akhlak Bermuhammadiyah
uasana diskusi setelah sesi penyampaian materi (Nur Maslikhatun Nisak/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pada sesi keenam Darul Arqam Pimpinan Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) dan Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur, aula Agro Mulia, Prigen, Pasuruan kembali dipenuhi semangat intelektual dan spiritual para kader muda Muhammadiyah pada Jumat (29/8/2025).

Kegiatan yang diinisiasi Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur ini memasuki sesi keenam dengan tema “Manajemen Organisasi dan Akhlak Bermuhammadiyah.”

Materi ini disampaikan oleh Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, Cahyo Setiyo Budiono SS MHum. Dengan gaya penyampaian inspiratif dan komunikatif, Cahyo menegaskan bahwa manajemen organisasi yang kokoh harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak mulia dalam Bermuhammadiyah.

Pada sesi keenam, materi difokuskan pada dua hal utama yakni pentingnya manajemen organisasi modern serta akhlak sebagai fondasi kader Muhammadiyah.

Cahyo menegaskan bahwa sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah memberi perhatian besar pada tata kelola organisasi.

Ia menjelaskan bahwa pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, mempelajari organisasi modern dari rekan-rekannya di Kweecshool dan Boedi Oetomo. Dari sanalah Muhammadiyah tumbuh menjadi organisasi Islam modernis yang rapi, terukur, dan adaptif.

“Namun, manajemen organisasi tidak boleh kering dari nilai. Di sinilah akhlak Bermuhammadiyah mengambil peran. Kader Muhammadiyah dituntut menjadikan nilai-nilai siddiq (jujur), amanah (bertanggung jawab), tabligh (komunikatif), dan fathanah (cerdas-inovatif) sebagai pedoman dalam setiap langkah perjuangan,” ujarnya.

Salah satu peserta, Fauziah dari IPM Lamongan, mengaku sangat terkesan dengan pemaparan Cahyo.

“Selama ini saya menganggap organisasi hanya sebatas rapat dan kegiatan. Ternyata ada perencanaan strategis, ada nilai akhlak yang harus menjadi ruh. Sesi ini benar-benar membuka mata saya,” ungkapnya.

Darul Arqam berlangsung dengan penuh energi. Setelah melewati beberapa materi ideologi pada hari pertama, para kader tampak semakin bersemangat dalam mengikuti rangkaian kegiatan.

Momentum ini dinilai tepat, sebab setelah memahami dasar-dasar keislaman, ideologi, dan manhaj tarjih, kini peserta diperkenalkan pada aspek teknis sekaligus etis dalam berorganisasi.

Cahyo menyampaikan bahwa tema ini penting karena Muhammadiyah bukan hanya gerakan dakwah, tetapi juga organisasi besar dengan jutaan anggota, ribuan sekolah, rumah sakit, hingga perguruan tinggi. Tanpa manajemen yang kuat, seluruh amal usaha tersebut akan sulit bertahan dan berkembang.

“Namun, manajemen tanpa akhlak hanya akan melahirkan organisasi yang kering secara spiritual. Karena itu, akhlak Bermuhammadiyah yang bersumber dari ajaran Islam harus menjadi roh penggerak dalam setiap aktivitas organisasi,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Cahyo mengutip pandangan Prof Robert W. Hefner dari Boston University yang menyebut Muhammadiyah sebagai “role model organisasi agama paling sukses di dunia.”

Menurutnya, keberhasilan ini bukan semata karena struktur organisasi yang rapi, melainkan juga karena nilai-nilai akhlak yang senantiasa melekat dalam setiap gerakan Muhammadiyah.

Strategi Manajemen Organisasi Muhammadiyah

Cahyo kemudian memaparkan empat fungsi utama manajemen dalam Muhammadiyah, yaitu:

  • Planning (Perencanaan)

Pertama, perencanaan strategis dituangkan dalam hasil Muktamar Muhammadiyah. Kedua, perencanaan operasional dilaksanakan hingga tingkat wilayah, daerah, cabang, bahkan ranting.

  • Organizing (Pengorganisasian)

Pertama, Muhammadiyah menerapkan asas collective collegial atau kepemimpinan kolektif-kolegial, sehingga keputusan diambil melalui musyawarah. Kedua, Pembagian tugas dan wewenang dilakukan secara jelas dan terukur.

  • Leading (Kepemimpinan)

Pertama, pemimpin dalam Muhammadiyah lahir melalui proses panjang dan berjenjang. Kedua, seorang pemimpin harus meneladani sifat profetik, yakni siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

  • Controlling (Pengendalian)

Organisasi perlu menetapkan standar kinerja, melakukan evaluasi, serta memberikan koreksi apabila terjadi penyimpangan.

Selain itu, Cahyo juga menekankan bahwa akhlak Bermuhammadiyah menjadi penguat dalam setiap langkah kader. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian sosial, serta kemampuan berinovasi harus tercermin dalam diri setiap kader Muhammadiyah.

Diskusi yang Dinamis dan Inspiratif

Sesi keenam berlangsung dengan dinamis. Cahyo tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga aktif mengajak peserta berdiskusi. Ia memantik antusiasme dengan pertanyaan kritis.

“Bagaimana kita bisa menjaga budaya organisasi Muhammadiyah tetap hidup di tengah generasi muda yang akrab dengan budaya instan?.”

Peserta pun aktif menyampaikan pandangan. Ada yang menekankan pentingnya digitalisasi dalam manajemen organisasi, sementara yang lain mengingatkan bahwa akhlak harus lebih diutamakan daripada sekadar pencapaian administratif.

Beberapa peserta bahkan menuliskan komitmen pribadi di kertas kecil, seperti tekad untuk menjadi kader yang jujur, siap mengabdi, dan tidak mencari popularitas pribadi dalam berorganisasi.

Di penghujung sesi, Cahyo menutup dengan pesan inspiratif.

“Tidak ada hadiah yang lebih besar bagi seorang pemimpin selain kepercayaan dan harapan yang diberikan oleh orang yang dipimpinnya. Maka jadilah kader yang amanah, dapat dipercaya, dan senantiasa memberi inspirasi.” pungkasnya.

Peserta menyambut pesan tersebut dengan tepuk tangan meriah. Mereka semakin menyadari bahwa menjadi kader Muhammadiyah bukan sekadar berorganisasi, melainkan juga membangun akhlak, menghidupkan nilai, dan menjaga marwah persyarikatan. (“)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu