Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Data dan Doa untuk Menyambut Masa Depan

Iklan Landscape Smamda
Data dan Doa untuk Menyambut Masa Depan
Oleh : Nashrul Mu'minin Content Writer Yogyakarta
pwmu.co -

Sekarang sedang berada pada era yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.

Manusia berlomba dalam menatap masa depan dengan beragam strategi.

Sebagian percaya bahwa kunci keberhasilan itu terletak pada data angka, hasil riset, dan analisis mendalam dalam memprediksi arah kehidupan di dunia ini.

Namun di sisi lain, ada kekuatan yang tak bisa diukur melalui metode statistik, yaitu kekuatan doa, keyakinan, dan harapan yang tumbuh dalam hati.

Dua dimensi ini — yaitu dimensi data dan dimensi doa — seolah berasal dari alam yang berbeda. Padahal keduanya sebenarnya saling melengkapi.

Menatap masa depan dengan “data dan doa” sama halnya mengkolaborasikan antara logika dengan iman, rasio dengan rasa, dan sains dengan spiritualitas.

Tujuannya agar langkah manusia lebih seimbang dan bermakna.

Saat ini, data merupakan komponen utama peradaban.

Sebagian besar hal-hal penting — baik berkaitan dengan ekonomi, pendidikan, ataupun kebijakan sosial — berlandaskan pada data.

Pemerintah menggunakan data sebagai dasar untuk melakukan pemetaan terhadap kemiskinan.

Perusahaan mengandalkan data untuk membaca trend pasar.

Termasuk pula lembaga pendidikan dalam mengukur kualitas belajar siswanya.

Kekuatan doa

Data menjadi unsur utama di era kecerdasan buatan (Artificial intelligence/AI) yang membantu kita melihat masa depan.

Tanpa data, kita akan sulit mengambil keputusan. Meski demikian, data hanya memberi informasi tentang apa yang telah terjadi, bukan apa yang akan datang.

Karena itulah, doa tetap memiliki perannya sendiri.

Doa bukanlah sekadar permohonan kepada Tuhan, tetapi menjadi refleksi tentang siapa diri kita dan tentang arah hidup yang hendak kita tuju.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Doa dapat menenangkan jiwa di pusaran kesibukan dan ketegangan yang kerap muncul di tengah dunia digital.

Saat manusia sibuk memprediksi masa depan melalui data, doa justru mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya.

Tidak semua yang bisa dihitung dapat dihargai, dan tidak semua yang penting bisa dihitung.

Doa memberi ruang bagi ketulusan, kesabaran, dan keyakinan bahwa hasil akhir bukan semata dari usaha manusia, melainkan juga dari izin Tuhan.

Menyeimbangkan antara data dan doa bukan perkara gampang.

Banyak orang terjebak pada ekstrem tertentu — entah terlalu rasional hingga kehilangan rasa, atau terlalu pasrah hingga berhenti berusaha.

Padahal, keseimbangan antara keduanya justru yang membuat manusia menjadi utuh.

Menatap masa depan dengan data dan doa berarti percaya bahwa kerja keras dan keikhlasan harus berjalan beriringan.

Data membantu kita membuat keputusan yang tepat, doa membimbing kita menerima hasil dengan lapang dada.

Keduanya tidak saling berhadapan, tapi justru menjadi mitra yang seiring sejalan.

Data tanpa doa bisa menyebabkan kesombongan, sedangkan doa tanpa data bisa menimbulkan kemalasan.

Pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling banyak tahu, tetapi oleh siapa yang paling bersungguh-sungguh berusaha sambil tetap percaya pada takdir.

Melalui data di tangan dan doa di hati, manusia belajar bahwa masa depan bukan untuk ditakuti, melainkan untuk disambut dengan keyakinan dan kerja nyata.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu