Pengalaman guru SD Muhammadiyah Manyar belajar logika matematika melalui metode dekonstruksi angka di Tsukuba University Elementary School, Jepang.
Catatan perjalanan belajar seorang guru SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Ria Pusvita Sari MPd di Tsukuba University Elementary School, Tokyo Campus, Japan.
Ada yang berbeda saat melangkah masuk ke salah satu ruang kelas di Tsukuba University Elementary School, Tokyo, Japan. Tidak ada suara guru mendikte rumus yang membosankan. Sebaliknya, suasana riuh rendah dengan suara gesekan kapur dan gumaman antusias para siswa yang sedang bergelut dengan sebuah tantangan pembelajaran matematika unik di papan tulis hijau.
Misi Mencari Kombinasi Sempurna
Pembelajaran hari ini bukan sekadar menghitung, melainkan sebuah petualangan logika. Guru memberikan tantangan besar: menyusun angka ke dalam format [Puluhan][Satuan] × [Satuan] = [Puluhan][Satuan], dengan syarat setiap angka yang digunakan tidak boleh berulang.
Untuk memandu rasa penasaran siswa, guru membagi proses belajar menjadi tiga tahap yang emosional:
1. Tantangan Pertama: Batasan Angka 1-5.
Guru memulainya dengan memberikan “amunisi” terbatas, yaitu hanya angka 1 sampai 5. Di tahap ini, suasana kelas menjadi sangat fokus. Siswa mencoba berbagai kombinasi di atas kertas mereka. Tak lama kemudian, sorak sorai kecil terdengar. Melalui proses trial and error (coba-coba) yang gigih, para siswa berhasil menemukan jawaban emas mereka:
13 x 4 = 52
2. Tantangan Kedua: Tembok Tinggi Angka 5-9.
Level ditingkatkan. Kali ini, siswa hanya dibekali angka 5 sampai 9. Harapan tinggi menyelimuti kelas, namun perlahan berubah menjadi kebingungan yang sehat. Mereka mencoba 67 x 8, 59 x 6, dan berbagai kombinasi lainnya, namun hasilnya selalu buntu—entah hasilnya melampaui dua digit atau ada angka yang berulang. Di sinilah pelajaran berharga muncul: bahwa dalam matematika, ada batasan logis yang membuat sebuah solusi tidak mungkin ditemukan.
3. Puncaknya: Kebebasan Angka 1-9.
Setelah merasakan keberhasilan dan kegagalan, guru akhirnya membuka “pintu gerbang” sepenuhnya: siswa diperbolehkan menggunakan seluruh angka 1 sampai 9.
Hasilnya luar biasa. Dengan ruang eksplorasi yang lebih luas, kreativitas siswa meledak. Papan tulis pun penuh dengan berbagai varian perkalian yang cocok, seperti 17 x 4 = 68 dan sebagainya. Siswa tidak hanya belajar perkalian, tapi mereka belajar tentang probabilitas dan kesabaran.
Melatih Logika dengan Dekonstruksi Angka
Namun, kecepatan murid dalam menemukan jawaban bukanlah tujuan akhir bagi sang guru. Di ruang kelas ini, jawaban benar hanyalah pintu masuk.
Sang guru menantang murid untuk melakukan dekonstruksi angka—menjelaskan secara lisan dan membuktikan mengapa sebuah angka layak menempati posisi satuan atau puluhan, serta mengapa kombinasi lainnya mustahil terjadi. Guru tersebut sedang tidak mengajar cara berhitung; ia sedang melatih para arsitek logika yang mampu mempertahankan argumen mereka dengan bukti matematis yang tak terbantahkan.

Kemampuan Matematis yang Diasah
1. Penalaran Logis dan Deduktif (Logical Reasoning)
Bukan sekadar menebak, murid diminta menjelaskan mengapa angka tertentu tidak bisa diletakkan di posisi tertentu.
Contoh: Murid harus bisa berargumen, “Jika saya meletakkan angka 5 di satuan pengali, maka hasilnya pasti berakhiran 0 atau 5. Karena 0 tidak tersedia dan 5 sudah dipakai, maka posisi ini mustahil.”
Esensi: Mengubah “insting” menjadi “argumen yang valid”.
2. Pemahaman Nilai Tempat (Number Sense & Place Value)
Dengan membedah hasil di tiap satuan tempat (satuan, puluhan), murid dipaksa memahami struktur angka secara mendalam.
Mereka belajar bahwa 13 x 4 sebenarnya adalah (10 x 4) + (3 x 4).
Kemampuan ini sangat krusial untuk memahami bagaimana “simpanan” (carrying) bekerja dan bagaimana ia memengaruhi angka di kolom puluhan agar tidak melanggar aturan “angka unik 1-9”.
3. Komunikasi Matematis (Mathematical Communication)
Guru tersebut sedang melatih murid untuk memverbalisasikan pikiran.
Murid tidak hanya harus “pintar sendiri”, tapi harus bisa membuat orang lain paham mengapa sebuah jawaban benar atau salah.
Ini mengasah kemampuan retorika dan penggunaan terminologi matematika yang tepat.
4. Berpikir Kombinatorial (Combinatorial Thinking)
Dengan syarat “setiap angka hanya boleh digunakan sekali”, murid belajar tentang batasan sistematis.
Mereka belajar memetakan kemungkinan (peluang) dan melakukan eliminasi terhadap kombinasi yang tidak memenuhi syarat sebelum benar-benar menghitungnya.
5. Pembuktian dan Eksplorasi (Proof and Exploration)
Guru ingin menanamkan bahwa dalam matematika, “Tidak Ada Jawaban” (seperti pada tantangan angka 5-9) adalah sebuah jawaban yang valid asalkan bisa dibuktikan secara sistematis. Ini adalah inti dari kerja seorang matematikawan sejati.
Dari papan tulis hijau ini, saya belajar satu hal: Matematika di sini bukan tentang mencari satu jawaban benar di buku cetak, melainkan tentang keberanian untuk mencoba, gagal, dan mencoba lagi.
1. Belajar Logika Matematika di Kelas Jepang
2. Dekonstruksi Angka ala Tsukuba University
3. Cara Jepang Ajarkan Logika Matematika
4. Guru SDMM Belajar Matematika di Jepang
5. Rahasia Logika Matematika Kelas Jepang






0 Tanggapan
Empty Comments