Siang itu, Rabu (24/9/2025), setelah salat Dhuhur di Masjid Jendral A. Yani, suasana di halaman SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) seperti biasa dipenuhi keceriaan anak-anak.
Sambil tertawa riang, mereka berlarian dan bercanda dengan teman sebaya. Namun, di tengah riuh suara siswa, tampak Kepala Sekolah Mumtas, M. Khoirul Anam, M.Pd.I, berjalan menyusuri deretan pedagang yang biasa mangkal di sekitar sekolah. Langkahnya tenang, tapi matanya jeli memperhatikan barang dagangan yang dipajang.
Bukan tanpa alasan, sidak kecil itu dilakukan untuk memastikan mainan yang dijual kepada anak-anak benar-benar aman.
“Mainan seharusnya membuat anak bahagia, bukan justru membahayakan,” ujarnya sambil memegang beberapa mainan di salah satu lapak pedagang.
Salah satu mainan yang disoroti adalah penghapus berbentuk miniatur yang bisa disusun dengan menggunakan staples dan paku pines. Sekilas memang terlihat unik dan menarik, tetapi justru di situlah letak bahayanya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Baru-baru ini, media melaporkan kasus siswa SD di Bojonegoro menelan paku pines hingga muntah darah. saat bermain gasing rakitan dari penghapus pensil—tren yang sedang viral di kalangan anak sekolah.
“Kita tidak ingin kejadian itu menimpa anak-anak di sini. Karena itu, kami harus lebih waspada,” tegas Anggota LDK PP Muhammadiyah ini.
Keseriusan itu juga ditunjukkan dengan imbauan kepada para guru. Pria yang juga Anggota Majelis Ulama Indonesia kecamatan Simokerto ini meminta agar guru tidak segan memeriksa tas anak-anak. Langkah ini bukan untuk membatasi kreativitas mereka, melainkan semata menjaga keselamatan.
“Kadang anak-anak membawa sesuatu yang mereka sendiri belum paham risikonya. Tugas kita untuk membantu menjaga,” tambahnya.
Menariknya, sidak itu juga dijadikan ajang dialog dengan para pedagang. Pria asli Lamongan ini, mendekati mereka dengan cara yang persuasif, tanpa menggurui. Ia mengajak pedagang ikut menjadi bagian dari pendidikan anak-anak, meski tidak langsung.
“Kalau pedagang menjual mainan yang mendidik, otomatis mereka ikut mendukung perkembangan positif anak. Bukankah itu juga ibadah?,” ucapnya sambil tersenyum.
Pesan itu mendapat tanggapan hangat dari para pedagang. Beberapa di antara mereka bahkan menyampaikan kesediaan untuk lebih selektif memilih barang yang akan dijual.
Bagi Anam, hal ini penting karena lingkungan sekitar sekolah adalah bagian tak terpisahkan dari proses tumbuh kembang siswa.
Selain mainan, perhatian Mumtas juga tertuju pada makanan. Bekerja sama dengan Puskesmas Tambak Rejo, pihak sekolah melakukan pemeriksaan terhadap jajanan yang dijual di kantin. Tujuannya jelas, agar makanan yang dikonsumsi siswa aman, higienis, dan bebas dari bahan berbahaya.
Dari rangkaian sidak sederhana itu, terselip pesan besar bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung, tetapi juga ruang tumbuh yang sehat dan penuh kasih sayang.
Dengan melibatkan guru, pedagang, hingga tenaga kesehatan, Mumtas berupaya menjaga anak-anak agar tetap aman, ceria, dan sehat. Karena menjaga anak-anak berarti menjaga masa depan bangsa.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments